Failed Surprise, but .. The Best Gift


CHen1

Title: Failed Surprise, but .. The Best Gift | Author: Areumdaun Lee
Cast: Kim Jong Dae, You/Oc | Genre: Fluff-Romance | Rating: PG16 | Length: Oneshoot
.

.

“Ya, hallo ..” ucap seorang gadis begitu Ia menerima panggilan di ponselnya.

Shin Hayoung –nama gadis itu– terlihat begitu repot saat Ia masuk ke apartemen. Kedua tangannya sibuk memegangi sebuah kardus berukuran cukup besar hingga nyaris membuat dirinya terhalang oleh kardus tersebut. Namun meskipun begitu kerepotan Ia tetap menyahuti lawan bicaranya di ponsel. Sampai akhirnya langkahnya terhenti begitu Ia sudah sampai di dapur.

“Apa? Kau tidak bisa pulang cepat nanti sore? Kenapa?” tanya Hayoung saat Ia meletakkan kardus itu, tangan kanannya kini sudah memegang ponselnya sementara tangan kirinya memegangi pinggangnya, pegal.

Raut kecewa dan sedih kini tergambar jelas di wajahnya saat Hayoung mendengar penjelasan dari lawan bicaranya. Hayoung tertunduk, Ia sibuk memilin sebuah kantong plastik putih berisi buah dan sayuran.

“Tapi kau kan sudah janji kalau nanti sore kita akan merayakan ulang tahunmu.”

Lagi-lagi bukan jawaban yang seperti yang diharapkannya, melainkan hanya sebuah helaan napas berat dari lawan bicaranya diseberang panggilan tersebut. Hayoung merasa jadi tidak semangat untuk melanjutkan rencananya siang ini. Jawaban dari lawan bicaranya itu sudah membuat harapannya luntur.

“Baiklah kalau begitu. Kau lanjutkan saja pekerjaanmu.” ucap Hayoung pelan.

Setelah mengatakan itu Hayoung langsung menutup sambungan teleponnya, sama sekali tidak memberikan kesempatan bagi lawan bicaranya untuk sekedar mengatakan satu atau dua kata sebagai jawaban.

Hayoung meletakkan begitu saja ponselnya diatas meja, tidak peduli jika ponselnya rusak atau tidak. Gadis itu kemudian mengalihkan pandangannya pada semua barang-barang yang tadi dibawanya. Hayoung menarik napas dalam lalu menghembuskannya pelan kemudian berucap, “Sepertinya kau harus tetap mengerjakannya, Shin Hayoung.”

Setelah membuang jauh-jauh pikiran negatif dikepalanya, Hayoung pun mengangguk mantap. “Ya! Aku harus tetap menyelesaikan semua ini. Shin Hayoung, fighting!” ucapnya sambil mengepalkan kedua tangannya, mencoba menyemangati dirinya sendiri.

.

.

.

Kim Jongdae melangkah gontai menuju apartemennya, Ia lalu menekan beberapa tombol angka pada sisi pintu apartemennya. Memberikan kode sebelum masuk kedalam. Setelah selesai membuka pintu Jongdae kemudian masuk dan langsung pergi ruang tengah apartemennya, langkah kakinya terlihat begitu lelah dan wajahnya sedikit mengantuk.

Pria itu kemudian langsung merebahkan tubuhnya di sofa begitu Ia sampai di ruang tengah. Helaan napas lega terdengar dari mulutnya. Akhirnya Ia bisa beristirahat juga setelah menyelesaikan pekerjaannya.

Baru saja dirinya bisa merasakan ketenangan dan rileks sesaat, tiba-tiba Jongdae menoleh saat telinganya menangkap suara gaduh, Ia mendengar suara benda jatuh dari dapurnya. Alisnya berkerut, “Suara apa itu?” pikirnya lalu segera bangun dari duduknya dan berjalan menuju dapur untuk mengetahui suara ribut didapurnya.

Setibanya didapur Jongdae tertegun di tempatnya berdiri, melongo melihat kekacauan yang terjadi didapurnya. “Ya tuhan, ada apa ini?” gumamnya dalam hati.

Belum juga rasa terkejutnya hilang, lagi-lagi Jongdae dikejutkan oleh kehadiran seseorang dari balik meja dapurnya. Nyaris saja Ia mendapat serangan jantung jika dirinya tidak bisa menahan keterkejutannya.

“Hayoung?”

Gerakan gadis itu terhenti saat mendengar Jongdae menyebutkan namanya. Tangannya terkepal erat disisi tubuh sementara matanya Ia pejamkan kuat-kuat. Takut jika Jongdae akan memarahinya.

Jongdae mengerutkan alisnya saat menyadari satu hal yang janggal pada gadisnya. Ia pun segera menghampiri Hayoung dan berdiri tepat dihadapannya. “Hayoung, apa yang—“

“Jangan!”

Hayoung langsung mengangkat kedua tangannya saat Ia merasa Jongdae akan menyentuh kepalanya. Gadis itu lalu mengenggam erat sisi panci yang menutupi kepalanya. Hayoung mundur selangkah dari Jongdae, membuat Jongdae merasa heran melihat sikapnya.

Namun meskipun tidak mengerti apa yang terjadi pada kekasihnya, diam-diam Jongdae memperhatikan Hayoung dan berusaha keras untuk menahan tawa saat matanya beralih pada panci dikepala Hayoung. Dan setelah menarik napas dalam Jongdae kembali membuka suara.

“Hayoung apa yang kau lakukan? Kenapa kau menutup kepalamu dengan panci itu eoh?” tanya Jongdae kemudian.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Jongdae, Hayoung sedikit gelapan menjawabnya. Tidak mungkin Ia akan menjelaskan bagaimana ceritanya panci itu bisa ada dikepalanya, yang ada Ia akan diledek habis-habisan oleh Jongdae.

“A–aku .. aku .. ta–tadi ..” ucap Hayoung tergagap.

“Tadi apa? Ayo jawab, kalau tidak aku akan membuka paksa panci itu dari kepalamu sekarang juga.”

“Ja–jangan! Jangan lakukan itu.”

“Kalau begitu ayo cepat jawab. Jelaskan bagaimana panci itu bisa ada dikepalamu dan apa yang kau lakukan di dapurku sampai membuatnya berantakan seperti ini, hmm?”

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Bahkan hampir tiga puluh detik pun Hayoung belum juga membuka suara. Gadis itu tetap diam, berpikir keras untuk menjelaskan kekacauan ini pada Jongdae. Namun tetap saja, Ia malu untuk menceritakan kronologisnya pada kekasihnya.

Karena tak kunjung mendapatkan jawaban dari Hayoung, akhirnya Jongdae pun diam-diam melangkah maju mendekati gadis itu. Berdiri tepat didepan Hayoung sambil berucap,

“Baiklah kalau kau tidak mau menjelaskannya, tidak apa-apa.” ucapnya lembut. Kemudian tangannya terulur kearah panci dikepala Hayoung. “Tapi .. maaf, aku harus melepaskan panci ini dari kepalamu Hayoung–ah.” lanjutnya lalu perlahan mulai menyentuh panci dikepala Hayoung dan mengangkatnya dengan gerakan hati-hati. Takut jika gadis itu akan melarangnya lagi.

Hayoung tidak bergeming ditempatnya, Ia membiarkan Jongdae melepaskan panci yang sedari menutupi kepalanya. Gadis itu pasrah sudah jika setelah ini Ia akan diledek habis-habisan oleh Jongdae.

.

.

.

“Setelah ini bagaimana?”

“Tambahkan sedikit garam kedalamnya.”

“Sedikit saja?”

“Iya, sedikit saja.”

“Sedikit bagaimana maksudmu?”

“Sedikit. Kau ambil aja sedikit pakai jarimu lalu masukkan kedalam supnya.”

Ya! Aku tidak tahu. Jongdae–ya, tolong aku ..”

“Astaga, Hayoung.”

Jongdae menghelas napas pelan lebih dulu sebelum akhirnya Ia bangun dari duduknya, menghampiri Hayoung yang berada di balik meja pantry. Pria itu kemudian mengulurkan tangannya pada Hayoung, meminta Hayoung menyerahkan tempat garamnya. Dan seakan paham dengan apa yang Jongdae minta, Hayoung pun menyerahkan tempat garam itu pada Jongdae.

Jongdae menatap Hayoung dengan tatapan lelah yang dibuat-buat, membuat Hayoung yang melihatnya seketika langsung lemas, menatap Jongdae dengan tatapan bersalahnya. Sementara Jongdae sendiri tahu Hayoung pasti akan merasa begitu. Pria itu kemudian perlahan malah menahan senyumnya, lalu sedikit memutar tubuhnya menghadap kompor.

Jongdae menuangkan beberapa jumput garam kedalam sup.
Hayoung memperhatikannya dengan serius. Gadis itu bahkan sedikit berjinjit di samping Jongdae untuk mengetahui seberapa banyak garam yang pria itu tuangkan kedalam sup.

Setelah selesai menuangkan garam Jongdae lantas kembali menghadapkan tubuhnya pada Hayoung, menatap lekat gadis itu seraya berucap, “Begitu, apa kau mengerti sekarang bagaimana cara menuangkan garam kedalam sup, hm?” tanya Jongdae lembut, membuat Hayoung langsung mengerucutkan bibirnya.

“Sudah, sebentar lagi supnya matang. Sekarang kau lanjutkan lagi sisanya.” ucap Jongdae kemudian berlalu, kembali ke kursinya. Memperhatikan Hayoung dari balik meja pantry lagi.

“Kau tidak mau membantuku?” tanya Hayoung pelan.
Jongdae tidak langsung menjawab saat pertanyaan itu meluncur dari bibir Hayoung. Pria itu terkekeh saat melihat ekspresi takut diwajah Hayoung. Membuat Hayoung yang saat itu seketika merasa tidak yakin dengan apa yang akan Ia lakukan setelahnya.

“Hayoung–ah ..” Jongdae tersenyum hangat, menaruh kedua tangannya diatas meja. “Aku memang tidak akan membantu disana. Tapi ..” Pria itu lalu sedikit memajukan tubuhnya, menatap Hayoung dengan tatapan tulus.

“Apapun yang akan kau masak atau apapun yang akan kau buatkan untukku, aku akan tetap memakannya. Aku akan tetap menikmati bagaimanapun rasa yang tercipta pada masakanmu. Kau tidak perlu khawatir, aku yakin kau bisa melakukannya sendiri. Shin Hayoung, fighting!” lanjut Jongdae seraya mengangkat tangan kanannya, mengepalkannya. Memberikan semangat pada Hayoung sambil terus mempertahankan senyum tulusnya.

Entah apa yang saat ini Hayoung rasakan tapi jauh didalam hatinya Ia merasa begitu bahagia saat melihat Jongdae mengatakan kalimat itu dari bibirnya. Hatinya bergetar ketika mendengarnya. Terlebih lagi saat melihat senyuman tulus yang melengkung di bibir Jongdae. Saat itu juga rasa cemas dan takut yang tadi mengungkung hatinya seketika sirna.

Seulas senyum kemudian perlahan terukir disudut bibir tipisnya. Hayoung tertunduk, Ia lalu mulai menghirup napas dalam-dalam lantas menghembuskannya perlahan. Hayoung mengangguk mantap dahulu sebelum akhirnya kembali mengangkat wajahnya. Tersenyum cerah pada Jongdae yang duduk dihadapannya.

Eum! Baikhlah, aku akan melakukannya sendiri. Fighting!”

.

.

.

Aneka makanan lezat tersaji di meja makan. Terlihat begitu menggoda untuk dinikmati. Dan saat semua itu sudah tersaji begitu rapi di meja makan, jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh. Itu berarti hampir dua jam Hayoung menyiapkan semuanya.

Adalah Jongdae yang kemudian duduk di kursi, menatap puas pada semua masakan yang dibuat Hayoung. Pria itu kemudian tersenyum lembut kearah Hayoung, “Sudah kubilang kau pasti bisa melakukannya, Hayoung.”

Hayoung tersenyum bangga. Gadis itu kemudian menyahuti ucapan Jongdae, “Eum, tentu saja aku bisa melakukannya sendiri. Semua itu ..” Hayoung menggantung kalimatnya, menatap Jongdae yang duduk diseberangnya dengan tatapan penuh arti, “Karena kau selalu ada untukku. Kau bahkan selalu mengajariku sebelum aku yang meminta. Ya .. walaupun aku sempat tidak mengerti dan merengek padamu.” lanjutnya yang kemudian tertunduk, merasa malu karena tidak bisa melakukan pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh perempuan pada umumnya.

Mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Hayoung, Jongdae hanya tersenyum tipis. Ikut menunduk namun kemudian kembali mendongak. Menatap Hayoung dengan tatapan cerah.

“Ah, sudahlah. Berhenti dulu sedihnya. Sekarang lebih baik kita habiskan semua makanan ini. Bagaimana, hm?”

Hayoung mendongak, kemudian tersenyum sumringah “Hm, baiklah. Ayo!”

Jongdae dan Hayoung akhirnya pun mulai menikmati makan malam mereka. Keduanya hanyut dalam suasana hangat yang tercipta disekitar mereka. Mereka saling bertukar topik pembicaraan, tersenyum satu sama lain dan bahkan suara tawa pun sesekali terdengar diantara keduanya saat diantara mereka menceritakan sebuah lelucon lucu. Hayoung bahkan sampai terpingkal-pingkal saat Jongdae berusaha melucu dihadapannya.
Jongdae sengaja membuat wajahnya terlihat jelek dimata Hayoung. Ia menjerengkan bola matanya sambil memanyunkan bibirnya, bahkan membuat suaranya terdengar seperti kartun.

Hayoung suka itu. Sangat menyukainya.

.

.

.

Saengil chukkae hamnida .. saengil chukkae hamnida .. saranghae Kim Jong Dae, saengil chukkae hamnida ..”

Baru saja dirinya merebahkan tubuh di sofa setelah selesai menyuci piring, tiba-tiba saja sebuah lantunan lagu selamat ulang tahun terdengar merdu di indera pendengarannya. Jongdae menoleh. Mendapati Hayoung tengah berjalan kearahnya sambil membawa sebuah kue ulang tahun berukuran cukup besar.

Hayoung tersenyum hangat dan menatapnya penuh arti, gadis itu kemudian menghampiri Jongdae. Setibanya dihadapan Jongdae, Hayoung kembali membuka suara.

“Selamat ulang tahun, Jongdae–ya ..” ucapnya lembut.

Jongdae tidak menjawab. Pria itu hanya diam dan terus menatap lekat Hayoung yang kini sudah berada tepat dihadapannya. Memberikan senyuman terbaik yang gadis itu miliki.

“Hari ini adalah bahagia untukmu. Hari dimana kau merayakan kelahiranmu, perjalanan hidupmu yang selama ini kau tempuh.” Hayoung menatap hangat Jongdae tepat dimatanya. Ia kemudian tertunduk, masih mempertahankan senyumnya. Mencoba untuk memilih kata-kata yang tepat yang akan Ia sampai pada Jongdae.

Sementara Jongdae yang masih diam hanya terus menatap Hayoung, mencoba untuk terus larut dalam aura bahagia yang terpancar pada diri gadisnya.

Hayoung menghirup napas dalam, lantas menghembuskannya pelan sembari bibirnya kembali bersuara,

“Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu. Aku tahu aku tidak terlalu pandai merangkai kata-kata indah untuk kusampaikan. Tapi aku hanya ingin bilang, selamat ulang tahun sekali lagi. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Untuk kesuksesanmu, kesehatanmu, dan bahkan kebahagiaanmu. Semoga Tuhan selalu ada bersamamu, kapanpun itu dan dimanapun kau berada.”

Jongdae berusaha mendengarkan baik-baik semua kalimat yang diucapkan Hayoung. Mencoba untuk memahami apa yang diutarakan oleh gadis itu. Jongdae tahu, Hayoung memanglah bukan gadis yang pandai berkata-kata ataupun seorang gadis yang puitis. Namun entah kenapa saat Ia melihat Hayoung bicara seperti itu dihadapannya Jongdae merasa bahwa sifat “tertutup” dan “pendiam” Hayoung kini sudah tidak lagi melekat didalam dirinya. Sekarang Hayoung menjadi sosok yang lebih percaya diri untuk menyampaikan isi hatinya.

“Dan, soal dapurmu ..” Hayoung menggantung kalimatnya, Ia kembali tertunduk pelan. Memejamkan mata erat-erat sembari menggigit bibir bawah, seperti menahan rasa takutnya. Takut jika Jongdae akan memarahinya.

Jongdae mengerutnya alisnya begitu Hayoung membahas soal dapurnya, “Apa dia juga akan membicarakan dapurku disaat seperti ini?” gumamnya dalam hati. Namun tak lama kemudian Jongdae mulai menahan senyumannya begitu memorinya memutar kembali kejadian tadi sore saat Ia melihat Hayoung menutup kepalanya dengan panci. Jongdae berusaha keras untuk tidak tertawa saat ini, Ia tidak mau membuat Hayoung merasa kecil hati karena diledek olehnya.

“Maaf aku sudah mengacaukan, ah tidak! Maksudku .. maaf sudah “menghancurkan” dapur megahmu. Aku benar-benar minta maaf. Sebenarnya aku tidak berniat untuk membuatnya berantakan seperti tadi. Jika saja mereka mau membantuku untuk memasak mungkin–“

“Tunggu.” cegah Jongdae, memotong kalimat Hayoung. Alisnya kembali bertaut, “Mereka? Mereka siapa maksudmu?” tanyanya tidak mengerti.

Hayoung mendongak, menatap Jongdae kemudian mengangguk polos, “Iya, mereka. Kyungsoo, Jongin, dan Chanyeol.” Jawabnya kemudian.

“Sebenarnya hari ini mereka seharusnya membantuku untuk menyiapkan kejutan kecil ini. Aku meminta mereka untuk mengajariku bagaimana caranya memasak makanan yang enak. Tapi entah bagaimana mereka bertiga malah membatalkan janjinya begitu aku menagihnya tadi siang dan mengatakan padaku bahwa mereka sedang sibuk. Dan ya … aku paham itu. Mereka memang sedang sibuk. Kyungsoo harus ke Busan untuk menghadiri pernikahan teman masa kecilnya. Jongin harus mengerjakan essay mata kuliah dosen Jung, dan sementara Chanyeol .. dia harus mengurus bisnis keluarganya di Incheon.”

Jongdae melongo mendengarkan penjelasan panjang Hayoung, jadi Hayoung sampai meminta bantuan pada ketiga teman-temannya? Hanya untuk mengajarinya cara membuat masakan yang tadi makan bersama gadis itu?

Dan sekali lagi Jongdae dibuat tidak percaya oleh apa yang telah Hayoung lakukan untuknya. Gadis itu bahkan (tanpa sadar) rela mempermalukan dirinya dihadapannya hanya untuk mencoba memasak. Sendirian.

“Jongdae–ya, aku ..“

“Cukup Hayoung.”

Hayoung tercekat mendengar suara Jongdae yang menyuruhnya untuk menghentikan ucapannya. Gadis itu menatap Jongdae dengan tatapan cemas, takut jika Jongdae akan memarahinya. Hayoung menelan samar saliva-nya, Ia mengerjap pelan. “Ke-kenapa?” ucapnya tergagap.

Jongdae tidak langsung menjawab Hayoung, pria itu hanya tertunduk seraya menghela napas pelan. Detik berikutnya Jongdae mengambil kue ulang tahun yang sedari tadi berada dipangkuan Hayoung. Meletakkannya di meja lalu beralih menatap Hayoung yang tengah menatapnya dengan raut cemas.

“Hayoung–ah ..” suara lembutnya kemudian terdengar.

“I-iya?”

Jongdae menatap lekat Hayoung tepat dimatanya. Menatap manik cokelat gadis itu dengan teduh dan hangat. Bibir tipisnya kemudian melengkung membentuk sebuah sabit indah disana. Jongdae tersenyum. Tulus.

“Terima kasih untuk hadiahnya. Terima kasih untuk kejutan kecil yang indah ini. Aku sangat menyukainya.” ucapnya seraya terus mempertahankan senyuman manis itu dibibirnya. Membuat Hayoung yang menatapnya seketika tidak bisa merasakan bagaimana paru-parunya bernapas saat ini.

“Tapi .. aku tidak peduli apakah kau membuat kejutan ini dengan bantuan orang lain atau tidak. Aku hanya tahu satu hal dan itu adalah kau mau membuat kejutan ini dengan sendirinya. Meskipun kita sama-sama tahu bahwa tadi kau sempat menanyakan apa yang seharusnya kau lakukan setelahnya.”

Hayoung menunduk, merasa malu dengan apa yang dikatakan Jongdae bahwa dirinya bertanya apa yang seharusnya dilakukan sementara dirinya berniat untuk membuat kejutan ini dengan kemampuannya sendiri.

“Hayoung–ah, kau memang yang terbaik.” Bisik Jongdae seraya mendekatkan wajahnya pada Hayoug, nyaris membuat hidung mereka bersentuhan.

Hayoung terkejut, bola matanya membulat begitu mendapati wajah Jongdae berada tepat didepan wajahnya. Bahkan Hayoung merasa bahwa tubuhnya tiba-tiba membeku saat deru napas Jongdae menerpa wajahnya.

“Aku tahu kau memang satu-satunya wanita yang terbaik yang aku punya, setelah ibuku tentu saja. Tapi meskipun begitu kau adalah wanita terakhir yang tidak akan pernah aku temui dimana pun di dunia ini. Sekali lagi terima kasih untuk hadiahnya, terima kasih untuk kejutan gagal yang kau berikan padaku.”

Jongdae menatap dalam manik cokelat Hayoung, tangannya yang sedari tadi menggenggam lembut tangan Hayoung terasa semakin hangat ditangan gadis itu saat Ia mempererat genggamannya. Jongdae lalu meraih tengkuk Hayoung dan perlahan mulai menarik pelan wajahnya untuk mendekat.

Sementara Hayoung kini semakin tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Dirinya benar-benar beku! Ia bahkan bisa merasakan hembusan napas Jongdae tepat dihidungnya. Hayoung dengan cepat langsung memejamkan matanya.

Dan detik berikutnya dunia seakan berhenti berputar. Jarum jam seakan berjalan sangat lambat. Hayoung bisa merasakan ada sesuatu yang lembut dan hangat kini menempel dibibirnya.

Jongdae menciumnya.

Seperti ada ribuan kupu-kupu warna-warni yang menggelitik isi perutnya. Membuatnya merasa tercengang namun sekaligus buncah oleh perasaan bahagia.

Jongdae mencium hangat bibir tipis milik Hayoung. Matanya terpejam sementara Ia mulai melumat bibir Hayoung dengan lembut dan perlahan, membuat Hayoung yang merasakannya pun ikut larut dalam ciuman yang Jongdae berikan. Rasanya aneh. Hayoung tidak mengerti kenapa dirinya merasa seperti itu. Tapi lagi-lagi yang bisa dijelaskan adalah bahwa saat ini

Hayoung merasa bahagia.

Sangat bahagia.

Begitu halnya dengan Jongdae.

Pria itu juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Hayoung. Entah kenapa rasanya sulit dijelaskan. Intinya saat ini, di hari ulang tahunnya dirinya benar-benar merasa bahagia. Sangat bahagia.

Setelah cukup lama akhirnya Jongdae pun memisahkan bibirnya dari bibir Hayoung. Keduanya perlahan kembali membuka mata secara bersamaan. Namun Jongdae tetap mempertahankan posisi wajahnya tepat didepan wajah Hayoung. Kening mereka menempel sehingga keduanya pun masih bisa merasakan hembusan napas masing-masing.

Jongdae kemudian kembali membuka suara, “Terima kasih. Sekali lagi terima kasih untuk kejutan gagal ini ..” ucapnya pelan.

Jongdae kemudian menjauhkan wajahnya. Kedua tangannya kini menangkup wajah Hayoung. Ia tersenyum tulus pada Hayoung.

“Terima kasih karena sudah membuatnya menjadi kejutan terbaik yang pernah kudapatkan. Aku mencintaimu, Shin Hayoung.” lanjutnya.

Mendengar kalimat yang meluncur dari bibir tipis Jongdae, membuat kedua sudut bibir Hayoung perlahan membentuk sebuah lengkungan indah. Senyuman itu kembali mengembang dibibir mungilnya. Sementara Ia kemudian berucap,

“Aku juga mencintaimu, Kim Jong Dae.” Jawabnya lembut.

.

.

*Fin*

.

.

Taraaaaaaaa~
Yeaayy! Akhirnya publish juga ini ff^^ fiuh~

Maaf sebelumnya untuk Sahabatku tersayang, Park Yeonri. Maaf kalo proses pembuatan project ini berjalan cukup lama dan bikin kamu sampe bosen nunggunya, sebenarnya ini udah lama banget pengen aku buatin untuk kamu tapi yaa .. begini, baru kesampean sekarang. Hmm, tapi gapapa ya? Kan itung-itung ini hadiah dari aku buat suamimu tercinta *Chen* hehee .. ^^ Aku harap kamu ngga kecewa sama hasilnya dan tentu saja semoga kamu suka alur fanfict ini yang sebenarnya menurut aku jaaaauuuuuuhhhhh banget dari kata “bagus” ataupun “sempurna”. T^T *hikss* Okeh cukupp itu aja yang mau aku sampein ke kamu Yeonri-ya. Oh iya! Lupa .. Selamat ulang tahun ya untuk bebek kesayanganmu, Kim Jong Dae! ^^ hihii~

Dan ini .. untuk reader’s Areum .. (walaupun Areum gatau siapa aja yang bakal baca ff jelek ini 😦 Hmm .. sedihnya/? *tears*)
Areum ucapin makasih banget karena udah mau luangin waktu dan baca karangan absurd aku ini. Maaf kalo banyak-banyak typo atau kesalahan dalam penulisannya, Areum gak sempet ngecek ulang /_\ Maaf bangeeetttt ….
Dan ya, jangan lupa juga untuk yang sudah baca ff ini mohon berikan respon kalian. Sepatah dua patah kata pun gak masalah, Areum tetap terima sebagai masukan kok, karena aku bener-bener butuh saran dan kritik kalian semoga setelah ini aku bisa buat ff yang (sedikit) lebih baik lagi.

Big Thanks~
Areumdaun Lee ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s