Love Letter — #Prologue


IMG_20151019_095542

¶ Title: Love Letter | Author: Areumdaun Lee | Cast: Lee Donghae, Park Jung Soo, You/Oc, ect. | Genre: Romance–Angst–Friendship | Rating: General | Lenght: Multichapter ¶

.

.

Dear, Lee ..

Aku tidak tahu bagaimana ini berawal atau bagaimana semuanya bisa sampai seperti ini.

Ini adalah tahun ketiga dimana aku mengenal dirimu sejak tiga tahun yang lalu saat aku baru saja pindah di kota ini. Di sini aku datang seperti orang bodoh yang tidak berteman. Aku terlihat bodoh saat kali pertama kakiku berpijak di sini tanpa satu orang pun yang bisa ku ajak bicara atau bisa kujadikan sebagai teman.

Namun entah bagaimana ceritanya, Tuhan sepertinya mengerti keadaanku. DIA mengirimkanku seseorang di saat aku sudah nyaris putus aja dan mengira bahwa tidak ada seorang pun yang ingin berteman denganku. Aku merasa sangat senang bisa mengenalmu selama ini. Kau satu-satunya orang yang bisa kujadikan teman setelah selama ini aku begitu tertutup untuk memiliki hubungan pertemanan dengan seseorang.

Dear, Lee ..

Kau pasti sudah sangat mengenal dan mengerti diriku. Begitu pun denganku, aku juga merasa sudah sangat mengenalmu dan merasa bahwa hubungan yang kita jalani selama tiga tahun ini terasa begitu dekat. Jadi aku rasa aku tidak perlu khawatir untuk menceritakan apapun denganmu.

Termasuk perihal pribadiku.

Kau tahu, selama ini aku diam-diam menyukai seseorang. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa menjadi seperti ini. Tapi kurasa aku memang telah menyukainya. Aku jatuh cinta padanya. Untuk tiga tahun terakhir ini aku selalu memikirkan dirinya.

Dear, Lee ..

Apa yang harus kulakukan? Aku bingung. Aku harus bagaimana, Lee? Aku butuh saran darimu, aku harap kau mau membantuku. Kirimi aku balasan secepatnya. Okay?

 

Your Dandelion’s,

Kim.

Donghae melipat kembali lipatan kertas putih yang di genggamnya. Suara hembusan napas terdengar berat dari mulutnya. Pria itu lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kepala tidur. Tatapannya terlihat menerawang saat kepalanya kembali memikirkan isi surat yang baru saja dibacanya.

Surat itu adalah kiriman dari teman penanya di Busan. Seseorang yang sudah tiga tahun belakangan ini di kenalnya setelah Ia salah mengirim surat yang seharusnya Ia kirim untuk kakak sepupunya saat kakaknya dulu tinggal di Busan.

Donghae menatap lipatan surat tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan. Entahlah, rasanya sulit sekali menebak apa yang sebenarnya pria itu rasakan saat ini. Donghae melamun. Sungguh, isi surat yang tadi dibacanya terasa begitu mengganggu pikirannya. Entah bagaimana hatinya bahkan ikut merasa resah karena surat tersebut.

Dandelion. Begitulah Ia menyebut Kim ̶  teman penanya, Donghae merasa saat ini sepertinya Kim memang sedang jatuh cinta dengan seseorang. Donghae merasa bahwa Kim memang sedang menyukai seseorang yang diketahui belakangan ini juga sering mengirimi surat sepertinya.

Mungkinkah Donghae cemburu?

Tunggu. Donghae cemburu? Mungkinkah pria itu merasa tidak senang mendengar cerita Kim tentang perasaan yang tengah dirasakannya sekarang? Tidak. Itu tidak mungkin.
Tidak mungkin Donghae cemburu. Ia sadar bahwa selama ini Ia dan Kim hanyalah sebatas teman pena. Donghae tidak mau menganggap hubungannya dengan Kim yang selama ini terjalin terasa begitu berlebihan. Tidak.

Donghae tidak mungkin cemburu.

Donghae menghela napas lagi. Terdengar lebih berat daripada sebelumnya. Pria itu lantas bergerak untuk meletakkan surat tersebut di atas meja nakas. Kemudian tangannya pun bergerak untuk mematikan lampu. Donghae berniat untuk tidur sekarang. Ia tidak mau terlalu memusingkan apa yang dirasakannya atau yang tengah dipikirkannya saat ini. Pria itu memilih untuk mengistirahatkan pikirannya malam ini. Besok Ia akan membalas surat Kim.

“Selamat malam Dandelion, Kim.” Ucapnya pelan.

Tak lama setelah itu kedua kelopak mata Donghae kemudian mulai terpejam perlahan. Semilir angin malam membuat dirinya harus menarik selimut hingga batas dadanya. Mencoba untuk membuat tubuhnya terasa sedikit lebih hangat. Dan setelah itu Donghae sudah benar-benar tertidur. Dirinya sudah menghilang kedalam dunia mimpinya.

.

.

“Selamat pagi, hyung.” Sapa Donghae begitu Ia tiba di meja makan.

“Selamat pagi juga. “ terdengar jawaban dari dapur. Seorang pria tertubuh tegap muncul dari balik pintu penghubung dapur. Pria itu membawa dua mangkuk berisi nasi yang masih hangat dimana asapnya masih terlihat mengepul di sana. “Bagaimana tidurmu semalam? Apa kau tidur dengan nyenyak, hm?” lanjutnya kemudian seraya meletakkan kedua mangkuk tersebut di atas meja. Ia memberikan salah satunya pada Donghae.

Donghae tidak langsung menjawab pertanyaan yang di lontarkan Jungsoo. Pria itu lebih dulu melahap satu sumpit kimchi yang diambilnya.

“Tidurku nyenyak, hyung. Semalam hujan jadi aku rasa mungkin karena itu aku bisa tidur senyenyak itu.”

Jungsoo mengambil beberapa sumpit kimchi lalu melahapnya, pria itu mengangguk paham ketika mendengar jawaban Donghae. Dan setelah itu keduanya pun larut dalam suasana sarapan yang hangat. Sesekali Jungsoo dan Donghae bertukar topik pembicaraan, bahkan tak jarang keduanya pun tertawa di sela-sela obrolan mereka.

Tepat saat sarapan sudah hampir selesai Donghae berniat untuk menanyakan sesuatu pada Jungsoo saat pria itu hendak bangun dari duduknya. Sungguh, sebenarnya Donghae ingin sekali membicarakan hal ini dengan kakaknya. Tapi entah bagaimana lidahnya terasa kaku untuk mengucapkan satu kata pun sebagai awal obrolannya. Donghae tertunduk, pandangannya terlihat menerawang saat kejadian tadi malam berputar di dalam pikirannya. Ia kembali mengingat kata-kata Kim di dalam surat yang dikirimnya.

Jungsoo baru saja kembali dari dapur setelah pria itu meletakkan piring kotor bekas sarapannya di wastafel. Jungsoo melipat kedua tangannya di dada. Menatap Donghae dengan tatapan serius lalu berucap. “Ya, tunggu apa lagi? Kau mau terlambat pagi ini eoh?”

“Jangan hanya diam di situ. Cepat berangkat sekarang. Aku tidak mau kau terlambat.” Lanjutnya kemudian.

Donghae mendongak, kesadarannya sudah kembali. Ia menatap Jungsoo dengan tatapan linglung dan setelah itu barulah tubuhnya bergerak untuk bangun dari duduknya, pria itu lantas mengambil tas yang Ia letakkan di samping kursinya lalu menyampirkannya di bahunya.

“Baiklah. Aku pergi. Sampai nanti, hyung.” Jawab Donghae.

Dan setelah itu Donghae sudah berjalan menjauh dari ruang makan. Meninggalkan Jungsoo yang kini tengah menatapnya di sertai sebuah senyuman yang terukir di bibirnya. Hingga beberapa saat setelah Donghae sudah tidak lagi berada di rumah Jungsoo kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia kembali merapikan peralatan makan Donghae barulah kemudian Ia berangkat ke tempat kerjanya.

Sementara itu, di dalam perjalanan menuju sekolah Donghae terlihat banyak melamun. Di halte Ia melamun, di dalam bus Ia juga melamun, dan ketika Donghae turun dari bus pria itu terus menatap kosong jalanan aspal yang di pijaknya saat Ia tengah berjalan menuju sekolahnya tak jauh dari halte. Bahkan saat pria itu sudah tiba di sekolah pun Donghae tetap saja lebih banyak diam dan melamun.

Entah apa yang tengah merasukinya saat ini. Tapi sepertinya sesuatu baru saja terjadi hingga membuat separuh dari dirinya berubah seperti itu. Mungkinkah ini ada sangkut pautnya dengan Kim? Apakah saat ini Donghae masih memikirkan Kim? Benarkah Donghae berubah karena apa yang Kim katakan padanya di surat itu? Entahlah. Semuanya terasa berlebihan jika Donghae berubah karena itu semua. Tapi bagaimana pun juga rasanya mungkin terlihat wajar jika pria itu memang benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan isi surat yang Kim berikan padanya kemarin sore.

“Aku harus membalas suratnya. Ya, sebaiknya aku cepat membalasnya.” Gumam Donghae saat pria itu melamun saat pelajaran guru Yoon berlangsung.

Setelah itu Donghae sudah benar-benar tidak mendengarkan penjelasan guru Yoon di depan kelas. Pria itu hanya terus tertunduk menatap sebuah amplop berwarna biru langit yang tengah di genggamnya.

.

.

To Be Continue.

Advertisements

4 thoughts on “Love Letter — #Prologue

  1. Pingback: Love Letter #3 — Sweet Strange Feeling | Areumdaun Lee

  2. Pingback: Love Letter #2— Maybe Tomorrow | Areumdaun Lee

  3. Hae jatuh cinta tuh sama Kim makanya dia sampai galau gitu baca suratnya Kim 😀 jangan-jangan Kim jatuh cintanya sama Hae juga tuh. Di tunggu kelanjutannya 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s