When You’re Gone #2


His .. My Star, My Moon

♠ Title: When You’re Gone #2 | Author: Areumdaun Lee | Cast: Lee Donghae, Park Jung Soo, You/Oc | Genre: Drama-Angst | Rating: General | Lenght: Series ♠

.

Previous[Hyaline] | [She’s Gone] | [Talking To the Moon] | [She’s .. Someone Like You] | [When You’re Gone #1]

.

Derap langkah kaki Jungsoo dan Hyunmi yang semula berniat untuk mendekati sebuah pintu tiba-tiba saja terhenti saat keduanya mendengar sebuah benda jatuh dari dalam ruangan di balik pintu tersebut. Jungsoo dan Hyunmi terdiam, mereka saling melempar tatapan terkejut. Mencoba untuk menerka apa yang baru saja terjadi di dalam ruangan tersebut.

Jungsoo yang lebih dulu tersadar dari keterkejutannya kini langsung bergerak cepat mendekati pintu. Saat ini entah kenapa perasaannya tiba-tiba berubah menjadi begitu cemas setelah Ia mendengar seseorang baru saja menjatuhkan sesuatu ke lantai. Salah satu tangannya terarah pada knop pintu. Jungsoo lalu membuka pintu dengan gerakan tidak sabaran. Dan ketika pintu sudah terbuka lebar Jungsoo kembali di kejutkan oleh pemandangan yang tersaji di hadapannya.

“Donghae!” pekik Jungsoo.

Kemudian tanpa menunggu lama detik itu juga kedua kaki Jungsoo segera mengampiri Donghae yang berada beberapa langkah di depannya. Jungsoo tertegun. Tubuhnya bergetar saat matanya menatap sebuah cairan segar kini menggenang di lantai. Jungsoo lantas merengkuh tubuh Donghae, menyandarkan kepala pria itu di atas pangkuannya.

“Donghae apa yang terjadi denganmu?! Y–ya! Sadarlah, apa yang terjadi Donghae–ya?!”

Sementara itu Hyunmi yang baru saja tiba di dalam kamar juga ikut tertegun di tempatnya berdiri. Kedua pupil mata gadis itu bahkan kini melebar saat Ia melihat bahwa tak jauh dari tempatnya berdiri seseorang tengah terbaring bersimbah darah. Hyunmi tiba-tiba merasakan ngilu di kedua lututnya, tubuhnya bergetar dan kepalanya merasa sedikit pening. Bahkan Ia nyaris limbung jika saja Ia tidak segera menahan tubuhnya dengan berpegangan pada pintu kamar.

“Ju–Jungsoo-ssi?”

Jungsoo menoleh saat mendengar Hyunmi memanggil namanya. Raut cemas terpetak jelas di wajahnya yang kini sudah berubah pucat. Jungsoo lantas berucap. “Panggil ambulans. Ce–cepat .. cepat panggil ambulans Hyunmi–ssi!”

.

.

Suara decitan roda yang berputar di atas lantai koridor rumah sakit terdengar begitu berisik bersamaan dengan suara teriakan-teriakan yang terdengar di sana. “Minggir! Cepat minggir! Beri kami jalan!” seru beberapa perawat rumah sakit yang mendorong ranjang pasien.

“Donghae, bertahanlah! Kumohon bertahanlah sebentar lagi!”

Jungsoo berhenti saat salah seorang perawat menahan tubuhnya. “Maaf Tuan, Anda hanya bisa mengantarnya sampai di sini.” ucap perawat tersebut. Jungsoo berniat untuk menyahuti ucapan perawat itu namun urung dilakukannya saat perawat itu lebih dulu menutup pintu. Menahan Jungsoo di depan ruang UGD. Lalu setelah itu keadaan berubah hening saat Donghae sudah dibawa masuk kedalam.

Jungsoo kehilangan keadarannya, kedua lututnya kini bersimpuh di lantai. Pria itu tertunduk dalam, pandangannya terlihat kabur saat kristal bening memenuhi pelupuk matanya. Bahkan tanpa sadar perlahan kedua tangannya pun terkepal erat di sisi tubuhnya. Jungsoo berteriak histeris.

Entah apa yang sebenarnya terjadi di sini, Hyunmi yang saat itu juga berada di depan ruang UGD hanya bisa membungkam mulutnya. Gadis itu hanya diam saat Ia melihat Jungsoo kini terduduk di lantai, bahkan sebelum dirinya sampai di rumah sakit pun Hyunmi sudah tidak bicara lagi. Lidahnya terasa kelu saat pertama kali Ia melihat Donghae yang sudah tidak sadarkan diri di kamarnya.

Hyunmi tidak tahu harus bagaimana lagi dengan kejadian yang sedang terjadi saat ini. Jujur saja saat ini dirinya cukup terguncang karena Donghae. Ini bukanlah seperti yang Ia harapkan sebelumnya. Tidak. Hyunmi tidak mengira jika keinginannya bertemu dengan Donghae malah berubah menjadi seperti ini.

Hyunmi merasakan matanya kini mulai memanas. Perih mulai mengganggu penglihatannya. Gadis itu tertunduk dalam, berusaha keras untuk menahan air matanya dengan menggigit bibir bawahnya. Pikirannya kembali teringat akan sosok Hyunji. Bayangan kakaknya saat Ia masih hidup. Bayangan akan sosok Hyunji saat gadis itu mengatakan permohonannya beberapa bulan lalu sebelum Hyunji mengalami koma.

.

.

“Hyunmi, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Ini .. ini soal Donghae.”

“Apa? Donghae lagi?! Ya, kenapa kau selalu menyebut namanya eonni?! Kenapa selalu Donghae, Donghae, dan Donghae lagi?! Apa kau belum sadar juga eonni?!”

“Hyunmi-ya, dengarkan aku dulu. Ini—”

“Eonni, sudahlah. Berhentilah memikirkan pria itu. Lupakan dia eonni. Donghae sudah mengkhianatimu dan memilih pergi dengan wanita sialan itu! Dia sudah tidak peduli lagi denganmu, bahkan saat pernikahan kalian sudah di depan mata pun Donghae tetap memilih pergi dengan wanita itu! Dia—”

“Aku masih mencintainya.”

“……….”

“Ya, benar. Aku masih mencintainya, Hyunmi. Aku tahu dia memang sudah lama pergi bersama Kang Ji Hyun dan .. bahkan aku juga tahu Donghae memang sudah tidak peduli lagi denganku setelah itu. Tapi Hyunmi, aku yakin .. aku yakin Donghae pasti akan kembali padaku suatu saat nanti.”

“……….”

“Jadi kumohon padamu, jangan membencinya. Jangan berhenti menyukainya seperti saat aku pertama kali menceritakan tentang dirinya padamu. Jika kau membencinya atau marah padanya, cukup lampiaskan saja padaku. Lampiaskan padaku saja, jangan pernah kau lakukan itu padanya. Kumohon ..”

“Eonni ..”

“Aku mencintainya, Hyunmi. Sangat mencintainya. Hanya Donghae yang benar-benar kucintai dan aku tidak mau berhenti mencintainya. Kumohon padamu, setelah ini jika aku semakin parah dengan penyakit ini—”

“Y–ya! Eonni apa yang kau katakan eoh?! kau tidak akan—”

“Datang dan temui dia untukku. Aku mau kau memberikan ini padanya. Dan .. aku juga ingin kau mengatakan ini padanya. Katakan padanya bahwa aku sangat merindukannya. Katakan padanya bahwa aku selalu memikirkannya dan tidak bisa berhenti mencintainya. Kumohon Hyunmi–ya, lakukan semua itu untukku. Hanya itu keinginanku sebelum aku tidak punya kesempatan untuk mengatakan sendiri padanya. Kau mau melakukannya ‘kan?”

.

.

Hyunmi semakin tertunduk di tempatnya berdiri. Entah sejak kapan pertahanannya runtuh, gadis itu sudah tidak bisa lagi menahannya lebih lama hingga akhirnya wajahnya kini sudah basah karena air mata. Hyunmi menangis.

Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha keras untuk tidak terisak saat ini. Tapi sungguh, rasa sesak di dalam dadanya terlalu mengganggu hingga Ia tidak bisa menahan isakannya. Tangisnya terdengar mengilukan saat pikirannya kembali terarah pada percakapannya dengan Hyunji enam bulan yang lalu.

“Hyu–Hyunji eonni, aku ..” Hyunmi meremas tas selempangnya. Wajahnya semakin tertunduk saat tangisnya terasa sulit dihentikan. “A–aku akan melakukannya. Aku janji. A–aku janji setelah ini aku akan berhenti membencinya. Aku janji padamu, eonni.”

.

.

*Fin*

Advertisements

5 thoughts on “When You’re Gone #2

  1. Pingback: [FINAL] One Year Later | Areumdaun Lee

  2. Pingback: Dropping Tears | Areumdaun Lee^^

  3. Pingback: When You’re Gone #3 | Areumdaun Lee^^

  4. Apa itu, kenapa Hae bisa bunuh diri kayak gitu ? Oh jadi maksud kedatangan Hyunmi karna dia mau nepatin janjinya sama Hyunji,,oh itu benaran Hae menghianati Hyunji ? Hae kok tega sih ?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s