MIDNIGHT FANTASY


SUPER JUNIOR_

¶ Title: MIDNIGHT FANTASY | Author: Areumdaun Lee | Cast: All Member Super Junior, You/Oc. | Genre: Fluff–Romance–Comedy–Fantasy | Rating: General | Lenght: Oneshoot ¶

.

Special Present For: SUPER JUNIOR 10th ANNIVERSARY

.

Jarum jam pada jam weker berbentuk stroberi yang berada di atas meja nakas di sebelah tempat tidur kini menunjukkan pukul sepuluh lebih sepuluh menit saat Ahn Nami baru saja menyelesaikan tugas sekolahnya.

Hufht~ akhirnya selesai juga!” ucap Nami lega seraya menghapus peluh di keningnya.

Gadis itu lalu menopang dagunya, tersenyum bangga saat Ia memperhatikan lukisan yang dibuatnya. Ya benar, Nami memang baru saja menyelesaikan lukisan realistisnya yang sebenarnya harus Ia kumpulkan besok.

Ck, kenapa kalian semua begitu tampan oppa? Aku harus bagaimana eoh?” ucapnya lagi. Kali ini Nami terkekeh saat Ia memperhatikan wajah-wajah yang ada dalam lukisan tersebut.

Saat Ia sedang asyik memperhatikan setiap detail lukisannya, tiba-tiba rasa kantuk yang sedari tadi ditahannya selama sedang melukis kini kembali menghinggapinya. Membuatnya ingin segera pergi ke tempat tidurnya lalu bergelung di atas ranjangnya yang empuk.

Nami kemudian merapikan semua peralatan melukisnya. Menyusun kembali semua kuas lukisnya, lalu meletakkan kanvas lukisnya di sudut meja belajarnya dengan gerakan hati-hati. Ia tidak mau lukisannya rusak satu senti pun.

Setelah itu Nami pun beranjak dari duduknya, berjalan menuju tempat tidurnya. “Hoaamm, astaga aku mengantuk sekali.”

Nami mengucek salah satu matanya saat Ia menguap. Sungguh, rasa kantuk yang menyerangnya membuat Ia benar-benar ingin tidur sekarang. Nami ingin malam ini berlalu dengan cepat dan pagi segera datang. Ia ingin segera menunjukkan lukisan yang di buatnya pada teman-teman sekelasnya dan juga guru seninya– Choi Seonsaengnim.

Nami melirik ke arah meja belajarnya, kembali menatap lukisannya lalu berucap. “Selamat malam, oppa. Aku mencintai kalian.” Dan setelah itu Nami pun berbaring di ranjang. Ia mulai menarik selimut hingga batas dadanya sebelum akhirnya mematikan lampu tidur yang berada di atas meja nakas di sebelah tempat tidurnya.

Hingga beberapa detik kemudian Nami pun sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya. Larut dalam dunia mimpinya.

.

.

Tuk!

Tuk!

Terdengar suara berisik seperti benda yang sengaja di timpukkan ke jendela membuat Nami merasa tidak tenang. Ia merasa terganggu dengan suara-suara itu hingga akhirnya gadis itu menarik selimutnya hingga menutupi seluruh tubuhnya.

Nami berdecak kesal. “Aish, siapa itu? Ya, pergi sana! Kau mengganggu tidur nyenyakku!” gerutu Nami saat setengah sadar.

Tuk! Tuk! Tuk! Tuk!

Suara itu kembali terdengar, kali ini terdengar lebih berisik daripada sebelumnya. Membuat Nami lagi-lagi harus menahan kekesalannya. Nami mendengus, Ia lantas menyibak selimutnya dengan gerakan kasar. Bangun dari posisi tidurnya dengan malas.

“Dasar bodoh! Apa kau tuli eoh!? Cepat per—”

“Ahn Nami?”

Nami menggantung ucapannya. Matanya yang semula terpejam detik itu juga langsung terbuka begitu Ia mendengar namanya disebut. Alis Nami bertaut, gadis itu mencoba mencerna siapa yang baru saja memanggilnya. Ayahnya? Tidak, tidak mungkin ayahnya memanggilnya karena Ia tahu lelaki itu pasti sudah tertidur pulas di kamar bersama ibunya. Mungkinkah Ibunya? Ah, itu juga tidak mungkin. Oh, atau mungkin kakak laki-lakinya? Tapi itu juga tidak mungkin. Kakaknya itu saat ini sedang berada di Jepang dan sibuk dengan kuliah penerbangannya.

Lantas siapakah yang baru saja memanggilnya? Suaranya terdengar seperti suara laki-laki. Dan lagi siapa yang menimpuk jendela kamarnya malam-malam begini? Nami mencoba mengajak otaknya untuk berpikir meskipun dalam keadaan mengantuk. Dan tepat saat Nami hendak kembali merebahkan tubuhnya, berniat untuk tidak mempedulikan apa yang terjadi, gerakannya tiba-tiba terhenti saat telinganya kembali mendengar seseorang memanggil namanya.

“Ahn Nami!”

Suara itu terdengar sedikit lebih keras daripada sebelumnya. Membuat Nami lagi-lagi terbangun dari posisi tidurnya. Gadis itu terperanjat kaget saat suara yang di dengarnya terdengar seperti lebih dari satu orang yang memanggilnya.

“Ya tuhan! Si–siapa itu?!” gumam Nami dalam hati. Raut cemas, bingung, dan terkejut kini terpetak jelas di wajahnya. Nami menyibak selimutnya dengan gerakan kasar, lalu turun dari ranjang dengan gerakan terburu-buru. Gadis itu kemudian berjalan cepat menuju jendela, menyibak gordeng, membuka kunci jendelanya, dan ..

Tuk!

Sesuatu mengenai kulit wajahnya dan menempel di sana. Tangan kanan Nami terangkat ke pipinya, Ia lantas mengambil benda berukuran kecil yang terasa basah di kulit wajahnya. Alis Nami bertaut. “Apa ini?” ucapnya.

“Ya, Ahn Nami! Kenapa kau lama sekali bangun eoh? Kau tahu disini banyak sekali nyamuk, apa kau tidak peduli pada kami?”

Belum juga Ia sempat berpikir sejenak suara itu kembali terdengar di telinganya. Nami menunduk, terkejut saat matanya menatap siapa yang tengah berdiri di bawah jendela kamarnya saat ini. “Si–siapa kalian?! Apa mau kalian?!” titah Nami. Gadis itu memperhatikan satu per satu orang yang ada di bawah sana.

“Ka–kalian pasti .. kalian pasti pencuri? ah tidak, kalian pasti buronan! Atau .. ah, mungkinkah kalian pembunuh?! Ya, pergi sana! Ce–cepat pergi sana atau aku akan melaporkan kalian ke polisi!” Nami menatap horor beberapa orang pria yang menggunakan masker di bawah sana. Pikirannya tiba-tiba mulai kacau saat gadis itu memikirkan berbagai macam kemungkinan yang terjadi jika gerombolan pria di bawah kamarnya itu memanglah seorang penjahat.

“Aish, dasar gadis nakal. Sembarangan bicara ya kau. Ya, cepat turun ke sini Ahn Nami! Aku akan menjewer telingamu saat ini juga! Kau dengar itu eoh?!”

“Hei, jaga mulutmu bocah. Kau membuatnya takut tahu!” titah salah seorang yang berambut agak panjang.

“Iya benar, kau membuatnya takut Mr.Cho!” sambung seorang lagi yang terlihat sedikit lebih gemuk diantara yang lainnya.

Sementara itu Nami yang mendengar keributan kecil di bawah sana tanpa pikir panjang detik itu juga langsung menutup kembali jendelanya. Mengunci jendelanya lalu menyibak gordeng dengan gerakan kasar. Keringat dingin kini mulai muncul di kulit wajahnya. Raut cemas dan ketakutan bahkan semakin terlihat jelas di wajahnya.

Tepat saat Nami memutar tubuhnya untuk kembali ke tempat tidur, dirinya nyaris berteriak ketika kini seseorang tengah berdiri di hadapannya. Nami ketakutan, namun untungnya Ia tidak jadi berteriak karena tangan seseorang tersebut kini menutup mulutnya.

“Ssstt, jangan takut.” bisik seseorang itu yang ternyata adalah seorang pria. Pria itu kemudian maju selangkah menuju Nami. Ia berdiri dalam jarak yang terlalu dekat hingga Nami bisa mencium aroma tubuh pria tersebut. “Aku tidak mungkin menyakitimu.” bisiknya lagi.

Dalam cahaya remang lampu kamarnya Nami tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana rupa pria tersebut. Namun meskipun begitu Nami cukup pintar untuk mengenali siapa pemilik mata indah yang berdiri di hadapannya sekarang. Mata itu indah dan terlihat teduh, mengisyaratkan akan kelembutan dan kasih sayang. Nami mengenalinya.

Ya, Ia sangat mengenali mata itu. Dan detik itu juga kedua bola mata Nami seketika terbelalak lebar.

“Bisakah kau berjanji jika aku melepaskan tanganku, kau tidak akan berteriak?” tanya pria itu.

Nami tidak menjawab, Ia hanya mengangguk pelan seraya bola matanya tidak lepas sedetikpun dari sosok yang memang benar-benar Ia yakini sebagai seseorang yang selama ini selalu Ia cintai. Seseorang yang selama ini selalu Ia dukung dalam keadaan apapun. Seseorang yang selalu membuatnya berjanji pada dirinya sendiri bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkannya sampai kapanpun.

Pria itu kemudian melepaskan tangannya dari mulut Nami. Ia tahu gadis itu pasti menepati janjinya dan memang benar, Nami tidak berteriak setelah pria itu melepaskannya. Detik berikutnya keadaan hening mulai menyelimuti keduanya. Pria itu hanya menatap Nami dalam diam, memperhatikan gadis itu seraya tersenyum di balik maskernya. Sementara itu dengan Nami, Ia juga melakukan hal yang sama. Nami hanya diam dan terus memfokuskan iris matanya kearah pria tersebut, Menatap setiap inci demi inci lelukan yang tercipta di wajah pria tersebut,

Sempurna.

Satu kata itulah yang muncul dalam benaknya saat Ia memperhatikan pria itu. Ya benar, pria itu memang sempurna. Lalu dengan penuh keberanian yang susah payah Ia kerahkan, Nami pun lantas mengucapkan satu kata itu. Satu kata yang selalu ingin Ia katakan secara langsung pada pria tersebut.

Ooppa.” ucapnya terbata.

Pria itu memiringkan kepalanya, alisnya bertaut saat Ia mendengar Nami memanggilnya dengan terbata. “Iya?”

“Apa .. A–apa kau, Do–donghae oppa? Benarkah kau .. Lee Donghae?”

Pria itu tidak menjawab. Ia tidak lagi mengerutkan alisnya saat telinganya mendengar pertanyaan yang dilontarkan Nami. Namun sekali lagi pria itu berhasil dibuat tersenyum oleh Nami.

Donghae lalu semakin mendekat kearah Nami. Menatap gadis itu tepat di matanya kemudian berucap. “Kau harus denganku malam ini, Ahn Nami.” bisik Donghae.

“A–pa?” Nami mengerjapkan matanya pelan. Gadis itu menatap Donghae dengan tatapan tidak percaya. “Ikut denganmu oppa? Ke–kemana?”

Donghae tidak langsung menjawab pertanyaan Nami. Pria itu lebih dulu menyentuh bahu Nami dan menggenggamnya sebelum akhirnya Ia pun menjawab. “Ikut aku atau aku akan menciummu di sini. Dan lagi, jika kau berbuat macam-macam aku tidak akan segan menghukummu.”

.

.

Saat ini di dalam sebuah van yang berukuran lumayan besar Nami tidak bisa berkutik sama sekali. Tubuhnya seakan membeku dan lidahnya mendadak kelu ketika hampir lima belas orang pria kini tengah menatapnya. Nami menelan samar salivanya, tangannya yang terpaut di atas pangkuannya terlihat gusar dan gemetar.

Sungguh, rasanya saat ini Nami merasa bahwa dirinya tidak bisa lagi bernapas dengan baik. Tidak, bukan itu saja. Gadis itu bahkan merasa bahwa saat ini dirinya seperti tidak lagi mendengar detak jantungnya di dalam sana.

“Dia cukup cantik untuk ukuran anak sekolah di kelas akhir.” celetuk salah seorang pria disana, wajahnya yang oriental terlihat manis saat pria itu tersenyum.

“Tidak Hangeng hyung, kau salah. Yang benar itu dia sangat cantik, hyung. Ahn Nami itu sangat cantik.” sahut Donghae cepat. Pria itu tersenyum bangga saat memperhatikan Nami yang tengah tertunduk.

Setelah mendengar jawaban Donghae, semua pria yang ada di van tersebut langsung menyorakinya. Bahkan tak ayal diantaranya ada beberapa yang tertawa karenanya. Ya, Donghae benar. Nami memang terlihat sangat cantik meskipun gadis itu tidak menggunakan make up di wajahnya.

“Nami-ya, kenapa kau terus menunduk eoh? Apa kami membuatmu takut, iya?” Kali ini seorang pria berwajah imut bernama Kim Ryeowook yang duduk di sebelah kiri Nami bertanya padanya. Mendengar itu Nami pun segera menggeleng,

“Ti–tidak oppa. Bukan begitu.” jawab Nami.

“Lalu kalau bukan karena itu, kenapa kau terus menunduk? Katakan pada kami, kami akan merubah sikap kami jika kau memang takut Nami–ya.” sahut seorang pria berwajah oriental yang terlihat lebih muda dari Ryeowook.

“Tenang saja, sebagai leader aku tidak akan membiarkan semua dongsaeng ku menakutimu nona Ahn.”

“Iya, benar. Kau tidak perlu takut Ahn Nami. Selama ada aku dan Tuhan, kau tidak perlu takut pada apapun. Aku akan selalu bersamamu.”

“Ya, Siwon hyung. Apa maksudmu eoh? Nami hanya boleh bersamaku. Jangan merebutnya dariku!”

“Lihat Nami–ya, Donghae sepertinya cemburu.”

“Ya! Siwon hyung!”

Suara tawa pun terdengar ketika Donghae dan Siwon terlihat perdebatan kecil. Tidak mau mengalah saat keduanya memperebutkan Nami. Sementara itu dengan Nami sendiri, Nami perlahan mulai tersenyum. Deretan gigi-gigi putihnya bahkan terlihat saat Ia membayangkan Donghae bersikap pura-pura marah pada Siwon.

“Lihat semuanya, Nami tersenyum!” celetuk Kyuhyun. Membuat semua orang yang ada di van langsung tertuju pada Nami.

“Whoaa .. kau bahkan semakin cantik saat tersenyum Ahn Nami!”

“Ya, Choi Siwon! Kau mau mati eoh?!

.

.

Setelah mencoba untuk bersikap biasa saja, perlahan Nami pun mulai terbiasa pada keadaan yang saat ini terjadi. Awalnya memang terasa sangat canggung karena sungguh Nami belum pernah bertemu dengan mereka, Ia belum pernah melihat mereka dalam keadaan sedekat ini, Ia belum pernah bicara langsung dengan mereka. Ya, Nami dulu memang belum pernah mengalami itu semua, sungguh rasanya tidak bisa dipercaya bahwa hal ini terjadi padanya.

Nami merasa sangat bahagia.

Ia merasa telah menjadi gadis paling beruntung di dunia karena bisa berada sedekat ini dengan mereka. Rasanya benar-benar tidak bisa dipercaya Ia bisa menghabiskan malam bersama mereka. Mereka yang selama ini sangat Ia kagumi selama lima tahun lamanya. Mereka yang selama sepuluh tahun ini sangat dikenal di Korea bahkan seluruh dunia.

Mereka adalah SUPER JUNIOR.

Sebuah anggota boyband terkenal yang dicintai oleh banyak orang. Banyak kalangan orang mengenal mereka hampir di seluruh kota di dunia. Sebuah boyband yang telah mengajarkannya banyak hal yang sebelumnya tidak Ia ketahui. Nami telah begitu banyak mengenal arti cinta dan kasih sayang, arti sebuah perjuangan dan kerja keras, sampai Nami pun lebih mengerti apa itu arti keluarga yang sesungguhnya.

Nami mengenal semua itu dari mereka. Dari Super Junior.

.

.

“Ternyata kau disini, Nami–ya.”

Nami menoleh, tersenyum saat mendapati Leeteuk tengah berjalan kearahnya.

“Apa yang kau lakukan disini? Tidak bergabung dengan yang lain?” tanya Leeteuk seraya menyodorkan segelas cokelat hangat padanya.

Nami mendongak saat Ia melihat Leeteuk berdiri di depannya. Tangannya pun kemudian terulur untuk menerima minuman yang di sodorkan pria itu.

“Terima kasih, oppa.” ucapnya. “Tidak, aku tidak mau mengacaukan waktu mereka. Aku bahkan terlalu canggung setiap aku berada dekat dengan mereka. Hm, termasuk .. kau oppa.” lanjutnya kemudian.

Leeteuk mengangguk mendengar ucapan Nami, Ia lalu mengambil posisi untuk duduk di samping Nami. Ikut memandangi langit cerah yang bertabur gemerlap bintang. Hening kemudian menyelimuti keduanya saat keduanya sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing.

Adalah Leeteuk yang pertama kali membuka suara, mencoba untuk membuat suasana tidak terasa terlalu canggung dan kaku.

“Nami, bolehkah aku bertanya padamu?”

“Iya, tanya apa oppa?”

“Mungkin ini akan terasa konyol dan tidak begitu penting. Tapi aku ingin tahu apa jawabanmu jika aku bertanya siapa diantara kami yang paling kau sukai?”

Nami menoleh, kedua alisnya bertaut saat Ia mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Leeteuk. Terbesit tanya dalam benaknya untuk apa pria itu bertanya seperti itu kepadanya. Gadis itu kini kembali menatap langit. Seakan mencoba memilih kata-kata yang tepat untuk Ia ucapkan.

“Siapa yang paling aku sukai? Hm, Aku rasa diantara kalian yang paling membuatku jatuh cinta adalah dongsaeng mu yang paling manja, oppa. Aku tahu mungkin ini juga akan terdengar konyol tapi memang benar adanya seperti itu. Kau tahu oppa, saat pertama kali aku melihatnya aku merasa bahwa dia adalah satu-satunya member yang memiliki sifat istimewa tersendiri diantara member lainnya. Dia selalu bisa membuat jantungku tiba-tiba berdegup kencang, bahkan hanya dengan melihatnya.”

Nami tersenyum di akhir kalimatnya saat Ia kembali mengingat kejadian di kamarnya tadi. Kejadian dimana saat Donghae mendesaknya hingga nyaris membuatnya berhenti bernapas saat pria itu mengatakan ancaman itu padanya beberapa saat yang lalu sebelum mereka tiba di taman ini.

Leeteuk yang mendengarkan setiap kalimat yang meluncur dari mulut Nami kini menahan senyumnya saat Ia membayangkan salah satu dongsaeng yang dimaksud oleh Nami. “Aku tahu siapa yang kau maksud Nami–ya.”

Nami tertunduk, berusaha untuk tidak tertawa saat menyadari kekonyolannya didepan Leeteuk. Jujur saja Ia merasa tidak seharusnya mengatakan semua kalimat itu karena bagaimanapun Ia tidak akan bisa mengatakan itu bahkan membuatnya nyata sekalipun.

“Maafkan aku, tidak seharusnya aku bicara seperti itu oppa. Dan aku mohon jangan katakan apapun pada Donghae oppa jika aku mengatakan aku jatuh cinta padanya. Aku—”

“Aku rasa tadi kau tidak mengatakan itu padaku, Nami–ya.” sela Leeteuk seraya menatap Nami dengan ekspresi alis yang bertaut.

“Ah, tapi tidak apa-apa. Sekarang aku tahu ternyata kau jatuh cinta ya pada Donghae?” lanjutnya kemudian.

Oppa ..”

“Aku akan mengatakan ini—”

“Jangan! Tidak, kau .. kau tidak boleh mengatakannya pada Donghae oppa.”

“Memang kenapa? Bukankah Donghae pasti akan merasa senang jika Ia tahu hal ini?”

“Tidak oppa, jangan katakan padanya. Nanti dia akan memberitahu member yang lain dan semuanya akan meledekku jika tahu apa yang sudah kukatakan padamu tadi. Kumohon ..”

Leeteuk terkekeh saat Ia melihat ekspresi memohon di wajah Nami. Gadis itu terlihat lucu dan begitu polos hingga membuatnya tidak bisa untuk tertawa karenanya. Leeteuk lantas mengangkat salah satu tangannya lalu meletakkannya di puncak kepala Nami kemudian berucap.

“Hahaa, baiklah .. baiklah. Aku tidak akan mengatakan semua yang kau katakan tadi. Tapi mungkin saja ini akan membuat Donghae sedikit kecewa.”

Nami tidak menyahuti ucapan Leeteuk, gadis itu hanya tersenyum tipis ketika mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan Leeteuk. Ya, mungkin ini akan sedikit membuat Donghae kecewa. Tapi sungguh, Nami tetap tidak ingin pria itu tahu tentang apa yang Ia rasakan terhadapnya. Nami hanya ingin terus menyimpan perasaannya seperti ini.

Karena Nami tahu, dia hanyalah seorang gadis biasa yang begitu— ah tidak! Dia hanyalah seorang gadis yang sangat mengagumi pria bernama Lee Donghae. Seorang gadis yang tidak lebih dan tidak bukan hanyalah seorang penggemar.

.

.

“Sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Heechul saat mereka tiba di sebuah lapangan basket.

Henry memperhatikan sekitar, sebuah ide pun terlintas di kepalanya. Pria itu lalu mengacungkan tangannya ke udara dengan penuh antusias. “Hyung, aku ada ide hyung!”

Eoh, katakan. Apa idemu Henry-ah.” sahut Kibum.

“Aku harap kau tidak memikirkan ide yang gila Henry–ah.” sambung Eunhyuk.

Henry menatap satu per satu semua hyung nya. Pria itu tersenyum misterius saat memperhatikan wajah-wajah penasaran para hyung nya.

Ck, tentu saja tidak Eunhyuk hyung. Begini. Bagaimana kalau kita ..”

Mereka semua mulai berkumpul dan berdiri seraya merangkul bahu satu sama lain. Henry pun mulai mengatakan ide yang dimaksudnya tadi. Sementara itu di kejauhan, Nami yang sedang berada di van hanya bisa memperhatikan gerak-gerik mereka dengan ekspresi tidak mengerti. Alisnya bertaut, “Mereka sedang apa? Sepertinya oppadeul sedang merencanakan sesuatu?” gumam Nami dalam hati.

Merasa tidak mau mencampuri urusan para pria tampan di depan sana, Nami akhirnya memilih untuk kembali menyibukkan diri. Ia mengambil kotak pendingin berukuran sedang yang ada di dalam van. Nami berniat untuk menyiapkan minuman jika alih-alih semua pria itu kehausan.

“Bagaimana? Semua setuju denganku ‘kan?” tanya Henry setelah Ia selesai menyampaikan maksudnya.

Semua anggota lain yang telah mendengarkan ide Henry tadi mulai mengangguk dan tersenyum senang. Mereka saling melempar tatapan misterius kemudian kembali menatap Henry dan mengangguk mantap padanya.

“Iya, kami setuju.” jawab mereka bersamaan. Lalu semuanya pun saling melempar senyum saat membayangkan bagaimana jadinya jika ide Henry benar-benar dilakukan.

.

.

Nami berjalan santai menuju lapangan basket yang berada beberapa meter dari tempat van terparkir. Gadis itu tersenyum saat melihat Kangin, Zhoumi, dan Yesung menghampirinya. Ia lantas membungkuk untuk memberikan bow seperti yang biasa di lakukan oleh orang korea kepada seseorang yang lebih tua usianya sebagai bentuk hormat.

“Nami–ya.”

“Iya, oppa?” sahut Nami saat Zhoumi menyebut namanya.

Zhoumi lantas mengambil posisi di samping kanannya. Sementara itu Kangin menyusul dan berdiri di samping kanannya.

“Berikan ice box itu pada Yesung hyung. Biar dia saja yang membawanya.” ucap Kangin seraya menunjuk Yesung.

Nami mengalihkan iris matanya kearah Yesung yang berdiri di depannya. Kedua alisnya terangkat, “Eoh?”

“Apa? Aku yang membawanya?” tanya Yesung. Pria itu mengerjapkan matanya saat mendengar kalimat yang baru saja Kangin katakan.

Kangin mengangguk. “Iya, cepat hyung. Kita harus bekerja sama jika ingin hasilnya nanti sempurna.”

“Hasil? Hasil apa oppa?” tanya Nami di sela-sela percakapan Kangin dan Yesung. Namun keduanya tidak menjawab pertanyaan Nami.

Sementara itu Zhoumi yang mendengarkan Kangin tanpa sadar refleks mengangguk seraya menunjukkan wajah polosnya. “Sudah hyung, ambil saja box nya dari Nami. Seorang gadis tidak baik membawa barang yang berat-berat.” sambung Zhoumi kemudian.

Sungguh, rasanya Yesung ingin menolak apa yang diperintahkan oleh kedua dongsaeng nya jika saja ini tidak ada hubungannya dengan rencana Henry beberapa saat lalu. Akhirnya dengan pasrah –sekaligus memang (berniat) ingin membantu Nami, Yesung pun menuruti ucapan Kangin dan Zhoumi. Ia mengambil box yang di bawa Nami dan setelah itu Yesung melangkah pergi, meninggalkan Kangin dan Zhoumi serta Nami.

Nami yang terlihat bingung dan tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi diantara ketiga pria tersebut akhirnya hanya bisa diam saja saat Yesung sudah melenggang pergi.

“Nah, Nami .. sekarang kau tutup matamu.” ucap Zhoumi.

“Apa?”

“Jangan tanya. Lakukan saja, Nami–ya. Kami tidak akan menyakitimu setelah kau menutup matamu. Ayo tutup matamu.” sahut Kangin.

Eoh, baiklah.” Setelah itu Nami pun mulai menutup matanya. Ia tahu Kangin dan Zhoumi memang tidak akan menyakitinya, tapi untuk apa mereka menyuruhnya menutup mata? Entahlah, Ia tidak tahu. Hal itu masih menjadi tanda tanya besar bagi Nami.

Setelah melihat Nami sudah menutup kelopak matanya, Kangin dan Zhoumi pun segera melakukan tugas berikutnya. Kangin bertugas untuk memasangkan penutup mata pada Nami sementara Zhoumi memegangi tangan Nami. Menunggu Kangin selesai memasangkan penutup mata. Dan setelah itu Kangin pun ikut memegangi tangan Nami.

“Kau sudah siap, Nona Ahn Nami?” tanya Kangin seraya menggenggam telapak tangan Nami.

“Siap untuk apa? Memangnya kita akan kemana oppa?”

Kangin tidak menjawab, pria itu hanya menahan senyum saat mendengar jawaban Nami. Gadis itu sepertinya memang tidak mengetahui rencana ini. Kangin lalu memberikan kode pada Zhoumi untuk segera melangkah, Zhoumi mengangguk paham dan Ia pun ikut menggenggam telapak tangan Nami.

Detik berikutnya mereka bertiga pun segera meninggalkan tempat mereka berdiri sebelumnya.

.

.

“Ya, Ahn Nami! Kau bisa mendengarku?” seru Kyuhyun.

Nami menolehkan kepalanya ke samping kirinya, suara Kyuhyun sepertinya berasal dari belakangnya. “Iya! Aku bisa mendengarmu Kyuhyun oppa!” sahut Nami lebih keras.

“Baiklah, bagus kalau begitu!” seru Kyuhyun lagi.

Saat ini Nami sedang berada di tengah-tengah lapangan basket dengan keadaan kedua matanya tertutup oleh sebuah kain. Entahlah, Ia tidak tahu kenapa saat ini semua anggota Super Junior melakukan ini padanya. Nami bahkan tidak mengerti kenapa kedua matanya di tutup seperti ini.

“Ahn Nami! Aku akan menjelaskan kenapa kami menutup matamu.” Kali ini yang terdengar adalah suara Leeteuk.

Nami sedikit memutar tubuhnya untuk mengenali dimana tepatnya suara Leeteuk berasal.

“Begini. Kami semua memiliki sebuah rencana. Mungkin ini akan terdengar konyol tapi kami ingin sekali memainkannya. Caranya mudah saja, kau cukup mencari posisi kami dan menangkap salah satu dari kami.”

Nami mendengarkan penjelasan Leeteuk dengan seksama. Kedua alis gadis itu bertaut saat mengetahui maksud dari rencana yang di katakan oleh Kangin beberapa saat lalu.

“Dan setelah itu kau harus menebak siapa yang kau tangkap, Nami–ya. Jika kau berhasil melakukannya kau akan mendapat hadiah dari kami semua. Tapi .. jika kau gagal menebak maka kami semua akan menghukummu. Kau mengerti?”

Nami tersenyum lebar mendengar kalimat yang baru saja Leeteuk ucapkan. Gadis itu bahkan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa karena membayangkan dirinya bermain seperti itu. Terlebih saat Leeteuk mengatakan jika Ia gagal dalam permainan ini, semua member akan menghukumnya. Astaga, bagaimana jika Ia akan benar-benar dihukum oleh mereka? Ugh, entahlah. Membayangkannya saja terlihat lucu. Ia pasti akan merasa sangat malu karenanya.

“Baiklah! Aku mengerti, Leeteuk oppa! Ayo kita mulai!” seru Nami kemudian. Membuat semua member yang mendengar seruannya tertawa dibuatnya.

Dan permainan pun di mulai.

Nami mulai melangkah untuk mencari siapa saja yang berada dekat dengannya. Ia berjalan tak tentu arah, ke kanan dan ke kiri seperti orang yang mabuk berat karena tidak bisa melihat sekitarnya. Gadis itu tersenyum bahkan tertawa saat beberapa member mencoba untuk menggodanya.

“Nami, awas!”

“Apa?!”

“Di sana hantu!”

“Apa?! Dimanaaaa?! Aaaaaaa~ Oppaaaa!!” Nami dengan cepat langsung melepaskan penutup matanya dan segera berlari menjauh dari lapangan.

Melihat Nami yang lari ketakutan seperti itu semua member sontak tertawa terpingkal-pingkal karenanya. Bahkan Kyuhyun tertawa lebih keras, puas karena berhasil mengerjai gadis itu. Sementara itu Nami yang sudah berada di pinggir lapangan sepertinya baru menyadari sesuatu.

Nami berbalik. Ia mencari-cari keberadaan Kyuhyun di depan sana. Dan begitu matanya menemukan posisi Kyuhyun, Nami mendengus lantas beranjak dari tempatnya berdiri. Menghampiri Kyuhyun yang masih tertawa di sana.

“Ya! Cho Kyuhyun, mati kau oppa!” titah Nami.

“Kyuhyun-ah, lari! Cepat lari dari sana! Nami akan membunuhmu bodoh!” seru Shindong, mencoba untuk menyadarkan Kyuhyun akan apa yang terjadi pada Nami. Gadis itu sepertinya terlihat kesal atas apa yang sudah Kyuhyun lakukan padanya.

Menyadari Shindong baru saja berteriak padanya Kyuhyun sudah tidak lagi tertawa seperti tadi. Pria itu kini malah terkejut saat Ia melihat Nami kini tengah berjalan kearahnya. “Oh ya tuhan, gadis itu menyeramkan sekali.” gumam Kyuhyun seraya tersenyum lebar. Membuat deretan gigi-giginya yang putih terlihat.

“Ya, Aku tidak takut denganmu Nona Ahn! Kau tidak akan berani melukaiku!” seru Kyuhyun.

“Dasar bodoh, apa yang kau lakukan Kyu?” bisik Sungmin yang berdiri tak jauh dari Kyuhyun.

“Kyuhyun–ah, sudahlah. Jangan meledeknya terus. Tidak baik, Kyu.” ucap Hangeng yang berdiri beberapa meter di depan Kyuhyun.

“Ya, Tuhan pasti akan membalasmu setelah ini Cho Kyuhyun!” umpat Siwon yang berdiri di sebelah Hangeng.

Nami semakin dekat dengan posisi Kyuhyun. Tatapan gadis itu terlihat misterius dan beberapa member bisa melihat itu. Bahkan Leeteuk sebagai leader pun mulai merasa khawatir Nami akan benar-benar marah pada Kyuhyun.

“Nami–ya, kau tidak benar-benar marah pada Kyuhyun ‘kan?” tanya Leeteuk cemas.

Nami tidak mendengarkan apa yang Leeteuk katakan padanya. Gadis itu hanya terus memfokuskan iris matanya pada Kyuhyun, semakin terlihat misterius saat jarak mereka tersisa lima meter lagi.

“Lihat saja, kita lihat apakah kau benar-benar marah atau tidak Ahn Nami.” gumam Kyuhyun dalam hati. Pria itu kini menunjukkan ekspresi yang sama seperti Nami. Bahkan sebuah sebuah senyuman evil pun perlahan muncul di bibirnya.

Nami semakin dekat, dekat, dan dekat.

Dan tepat saat tangan gadis itu terangkat ke udara, berniat untuk memukul Kyuhyun, gerakan tangannya seketika terhenti dan perlahan Ia pun menurunkan tangannya saat Ia merasakan tubuhnya dipeluk. Bola mata Nami terbelalak kaget, kakinya mendadak lemas, dan seketika jantungnya langsung berdegup kencang.

“Sudah kubilang jangan berbuat macam-macam atau aku akan menghukummu, Ahn Nami.”

Adalah Donghae yang kemudian berbisik di telinga Nami. Pria itu kemudian semakin mempererat pelukannya. Menyalurkan seluruh kehangatan tubuhnya pada Nami. Dan tanpa Donghae sadari sebenarnya saat ini Nami menjadi benar-benar gugup karenanya.

See, kalian lihat ‘kan? Nami tidak mungkin bisa melukaiku. Hehee ..” celetuk Kyuhyun beberapa saat kemudian. Mencairkan hening yang sempat terjadi sejak Donghae memeluk Nami.

Mendengar ucapan Kyuhyun, Donghae pun melepaskan pelukannya. Pria itu sedikit tertunduk untuk melihat wajah Nami yang juga sedang tertunduk. “Hei, kau mau memukul Kyuhyun ‘kan?” bisik Donghae seraya tersenyum pada Nami.

Nami mendongak, kedua alisnya terangkat saat telinganya mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Donghae.

“Apa?”

“Aku tanya padamu, kau mau memukul Kyuhyun ‘kan? Aku akan memberikanmu kesempatan. Jadi kau mau memukulnya atau tidak?” ulang Donghae.

Nami tidak langsung menjawab pertanyaan Donghae. Gadis itu lebih dulu melirik ke arah Kyuhyun yang berdiri di belakang Donghae. Ia kembali menatap Donghae, tersenyum jahil seraya mengangguk cepat. Dan setelah itu Donghae pun mengangguk melihat respon yang di berikan Nami.

“Ah .. baiklah. Nami–ya, Kau siap melakukannya?”

Donghae sengaja meninggikan nada bicaranya. Membuat semua member yang mendengarnya menatap Donghae dengan tatapan bingung. Siap untuk apa?

Nami kembali menatap Kyuhyun di depannya. Dan Kyuhyun yang melihat Nami kembali melemparkan tatapan misterius itu kini mendadak bingung sendiri di tempatnya. Ia terkekeh saat Nami mulai maju selangkah kearahnya.

“Y–ya, apa yang kau lakukan Nami–ya? Donghae hyung, apa yang kau katakan padanya?”

“Aku tidak mengatakan apa-apa.”

“Aish! Ikan sialan!” desis Kyuhyun saat melihat Donghae hanya mengedikkan bahu lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.

“Na–Nami–ya .. Maafkan aku. Aku tidak— aakkhh!!!!”

Kyuhyun langsung berteriak keras saat Nami menyubit pipinya dengan kencang. Pria itu bahkan sampai memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya saat Nami mulai mencubitnya. Sementara itu dengan member lain yang melihat apa yang terjadi pada Kyuhyun sontak tertawa. Astaga, Nami benar-benar melakukannya. Sekali lagi gadis itu berhasil membuat kagum semua member karena keberaniannya, Nami berani untuk menghadapi Kyuhyun. Cho Kyuhyun The Evil Magnae.

.

.

“Bagaimana, apa keadaan benar-benar aman sekarang?” bisik Kibum saat Ia baru saja tiba di kamar Nami.

Donghae menoleh, Ia mengangguk kemudian menjawab. “Iya, aku rasa aman Kibum–ah.”

Saat ini Kibum dan Donghae sedang berada di kamar Nami. Kedua pria itu ditugaskan untuk melihat keadaan di sana sebelum Nami masuk. Dan setelah diyakini keadaannya memang benar-benar aman, Kibum pun menatap keluar jendela. Ia memberikan kode pada beberapa member yang berada di bawah kamar Nami.

Hyung, Nami sudah bisa masuk sekarang.” ucapnya.

Nami hanya bisa menggeleng melihat kelakuan member Super Junior saat ini. Sepertinya memang benar apa yang selama ini dikatakan oleh semua ELF bahwa Super Junior memanglah sekumpulan orang idiot. Ck, Nami selalu tertawa setiap kali mengingat qoutes konyol itu.

“Baiklah, Nami–ya. Sekarang cepat naik sebelum ada orang yang melihatmu.” ucap Heechul.

Oppa, aku bisa naik sendiri. Kau tidak perlu—”

“Tidak, tidak! Kami harus tetap memegangi tangganya, Nami–ya.” sela Yesung sebelum Nami sempat menyelesaikan kalimatnya lebih dulu.

Nami memutar bola matanya dengan malas, “Tapi oppa, aku—”

“Ya, kau ini berani membantah orangtua Nona muda?!” sela Yesung lagi. Membuat Nami yang mendengarnya seketika bungkam.

“Sudahlah, menurut saja Nami–ah. Naiklah, kami akan memegangi tangganya.” ucap Sungmin lembut seraya menatap Nami dengan tatapan penuh arti.

Melihat Sungmin menatapnya penuh arti, Nami merasa bahwa lelaki itu ingin Ia percaya padanya dan juga semua member bahwa mereka akan menjaganya. Ya, begitulah yang Nami tangkap dari tatapan yang terpancar di mata Sungmin. Dan detik berikutnya Nami pun mulai bergerak untuk menaikki tangga. Gadis itu mulai melangkahkan kakinya perlahan pada anak tangga dengan hati-hati.

Setelah berhasil menaikki tangga dengan penuh kehati-hatian akhirnya Nami pun sampai di kamarnya. Donghae dan Kibum langsung menghampirinya dan membantu gadis itu melewati jendela. Dan Nami berhasil masuk dengan sukses. Tanpa membuat gaduh sedikitpun.

“Baiklah, sekarang kau sudah kembali ke kamarmu. Kembalilah tidur.” ucap Donghae.

“Hm, baiklah aku akan tidur sekarang.” jawab Nami seraya mengangguk. Ia kemudian berjalan menuju tempat tidurnya, duduk dan bersandar pada kepala tempat tidur.

Hyung, aku duluan turun ya? Aku rasa aku hanya akan menganggu kalian. Hehee ..”

“Kibum oppa, bagaimana mungkin bisa begitu? Ya, ucapanmu terdengar berlebihan.” Nami tersenyum di akhir kalimatnya. Ia pun mulai menarik selimut hingga batas pinggangnya.

Donghae menoleh kearah Kibum. “Baiklah terserah kau saja, Kibum. Nanti aku menyusul.” sahutnya kemudian.

Kibum mengangguk, Ia pun menatap Nami dan membungkuk singkat pada gadis itu. Nami membalasnya, gadis itu kemudian tersenyum seraya berucap. “Terima kasih untuk malam ini Kibum oppa. Salam untuk oppadeul lain di bawah sana.”

“Hm, akan kusampaikan salammu Nona Ahn.” jawab Kibum seraya balas tersenyum pada Nami. Setelah itu Kibum pun sudah melangkah kearah jendela lagi. Bersiap untuk kembali turun ke bawah sana.

Dan setelah Kibum sudah meninggalkan kamar, kini hanya ada Nami dan Donghae di sana. Keduanya terdiam cukup lama. Entah harus bagaimana untuk memulai percakapan. Rasanya sedikit canggung daripada sebelumnya.

“Ah, kau pasti sangat lelah malam ini Nami–ya. Maaf karena sudah mengajakmu keluar malam-malam begini. Tidak seharusnya aku melakukan itu padahal besok kau harus pergi ke sekolah.” ucap Donghae setelah sempat hening beberapa saat.

Nami tersenyum lembut mendengar kalimat yang baru saja dikatakan Donghae. Gadis itu lalu menggeleng seraya menjawab. “Tidak, tidak apa-apa. Aku tidak merasa lelah sedikitpun, oppa. Aku sangat senang malam ini bisa menghabiskan waktu bersama kalian. Aku tidak akan pernah melupakan apa saja yang sudah kita lakukan bersama tadi.”

Donghae berjalan mendekati Nami lalu mengambil posisi duduk di sisi ranjang. Pria itu kemudian menggenggam telapak tangan Nami, sementara satu tangannya yang terbebas mengelus lembut puncak kepalanya.

“Terima kasih sudah mau bersama kami selama ini. Aku tahu ini bukanlah waktu yang sebentar untukmu tetap bertahan bersama kami. Terima kasih karena sudah mencintai kami. Kami beruntung mendapatkan cinta yang begitu tulus dari gadis sepertimu Nami–ya. Dan untukku pribadi, terima kasih karena sudah mencintaiku.”

Nami terdiam mendengar rentetan kalimat yang meluncur dari bibir Donghae. Bahkan ketika Donghae mengucapkan satu kalimat terakhir itu, “Dari mana Ia tahu? Mungkinkah Leeteuk oppa ..”

“Aku tahu kau memilihku diantara semua member sebagai anggota yang paling kau sukai ‘kan? Aku tahu. Aku sudah tahu itu sejak awal, aku tahu sejak aku pertama kali melihat matamu, Ahn Nami. Untuk itu, terima kasih. Terima kasih banyak. Kau tidak perlu malu mengatakannya. Banyak diantara ribuan peri biru lainnya selain dirimu yang berani mengatakan ‘Aku mencintaimu’ padaku dan juga member lainnya. Jadi aku rasa kau juga harus mengatakannya secara langsung Nami–ya.”

Nami menelan samar salivanya, gadis itu tertunduk. “Mengatakannya secara langsung? Bagaimana bisa Ia melakukannya?” Oh ayolah Ahn Nami, kau pasti akan mati lemas setelahnya jika benar-benar bisa mengatakannya. Entahlah, gadis itu tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika Ia memang melakukannya.

“Nami, sebentar lagi akan pagi. Aku harus segera pergi dan kembali ke dorm sebelum mendapat masalah setelah ini.” Donghae menggerak-gerakkan tangan Nami yang Ia genggam, membuat Nami kembali mendongakkan wajahnya dan menatap pria itu dengan tatapan polosnya.

“Kalau kau tidak mau—”

“Aku mencintaimu!” sela Nami cepat sebelum Donghae sempat menyelesaikan kalimatnya. “A–aku .. aku mencintaimu, Donghae oppa. Aku sangat mencintaimu.”

Donghae tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak tersenyum saat ini. Pria itu merasa sangat senang saat mendengar kalimat yang meluncur dari bibir Nami. Sungguh, Donghae bahagia mendengarnya. Ia lalu menarik tubuh Nami dan memeluknya dengan sangat erat. Hingga akhirnya kalimat itu pun meluncur dengan indah di bibir Donghae.

“Aku juga mencintaimu, Ahn Nami. Aku sangat mencintaimu.” bisik Donghae tepat di telinga Nami.

.

.

Suara dering jam weker yang berada di atas meja nakas di samping tempat tidur terasa begitu berisik. Nami bergelung manja di balik selimutnya, gadis itu bukannya terbangun malah kembali menarik selimutnya hingga batas lehernya.

“Ya, jangan berisik bodoh! Aku masih ingin tidur!” dengus Nami.

Tanpa Nami ketahui, kini pintu kamarnya sudah terbuka lebar. Menampakkan seseorang yang kini tengah berdiri di ambang pintu. Seseorang itu adalah seorang pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakaknya. Pria itu berdecak kesal, menatap gemas adik perempuannya yang setelah empat tahun tidak pernah Ia temui itu masih saja belum berubah.

Pria itu lalu menghampiri Nami, duduk di sisi ranjang. “Nami–ya, bangun. Ini sudah siang, apa kau tidak mau berangkat sekolah eoh?” tanya Jaemin seraya menggoyang pelan tubuh Nami.

Sekali lagi, bukannya terbangun gadis itu malah mendengus. Menyingkirkan tangan Jaemin dari lengannya. “Sebentar lagi Donghae oppa, lima menit lagi. Oke?”

“Donghae? Siapa itu?” gumam Jaemin saat Ia mendengar igauan Nami. “Ya! Dasar malas, ayo bangun Ahn Nami!” kali ini Jaemin mengatakan kalimat itu tepat di telinga Nami. Membuat gadis itu seketika mulai tersadar, “Aku mengenal suara itu. Tapi bukan suara Donghae oppa apalagi member SJ lainnya.”

Detik berikutnya Nami pun mulai membuka matanya perlahan. Dan ketika Ia melihat siapa yang saat ini sedang berada di atas tempat tidurnya, sungguh betapa terkejutnya Ia saat mengenali bahwa itu adalah Ahn Jaemin– kakaknya.

“Jaemin Oppa!”

“Ya, rupanya kau tidak pernah berubah ya? Apa kabar?”” tanya Jaemin.

Nami terdiam. Pandangannya terlihat menerawang saat iris matanya menatap Jaemin. Kedua alisnya bertaut, “Tunggu, jadi aku tidak benar-benar mengalami itu semua? Dan Donghae oppa .. apa semalam itu aku juga hanya terlalu memimpikannya?” gumam Nami dalam hati.

Melihat Nami tidak menjawab pertanyaannya, Jaemin menatap adiknya itu dengan tatapan tidak mengerti. Tangannya pun bergerak di depan wajah Nami, Ia mencoba untuk mengembalikan kesadaran Nami.

“Ya, Ahn Nami. Kenapa kau melamun eoh? Memikirkan Donghae?”

Eoh? A–apa?”

“Kau melamun. Apa otakmu sedang memikirkan seorang pria bernama Donghae?”

Nami memejamkan matanya, gadis itu lalu menggeleng tegas. “Tidak, kau pasti sudah gila Nami. Sadarlah!” gumamnya. Detik berikutnya Ia kembali membuka matanya, Nami tersenyum kikuk pada jaemin, “Ah, itu .. tidak! Aku tidak memikirkan siapa-siapa, oppa.” ucapnya bohong.

“Baiklah, kalau begitu. Sekarang sebaiknya kau mandi, nanti aku akan mengantarmu ke sekolah.” ucap Jaemin kemudian seraya mengusap puncak kepala Nami.

Nami hanya tersenyum menanggapi ucapan Jaemin. Setelah itu Jaemin pun meninggalkan Nami. Beberapa saat setelah Jaemin keluar, Nami menoleh kearah meja belajarnya. Ia memperhatikan lukisannya yang semalam dibuatnya. Tanpa sadar sebuah senyuman pun mengembang di bibirnya.

“Selamat pagi oppa.” ucap Nami kemudian. Dan setelah itu Nami pun melenggang pergi ke kamar mandi. Bersiap untuk membersihkan dirinya. Pagi ini Ia akan segera menunjukkan lukisannya pada teman sekelasnya dan juga guru seninya.

.

.

*Fin*

Terima kasih buat yang udah baca sampai akhir. Sorry for bad fanfict.

and ..

HAPPY 10th ANNIVERSARY SUPER JUNIOR!!♥♥♥ ^^

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s