I’m Sorry, I’m Promise


Hyuk Jae Lee

♠ Title: I’m Sorry, I’m Promise | Author: Areumdaun Lee | Cast: Lee Hyuk Jae, You/Oc | Genre: Sad-Romance | Rating: General | Lenght: Oneshoot ♠

.

.

“Bibi, mana Hyemi? Aku tidak melihatnya sejak aku tiba di sini.”

“Hyemi ada di kamarnya. Ah .. Hyuk Jae-ya, dia tidak mau keluar dari kamarnya. Sudah sejak semalam anak itu tidak mau beranjak dari kamarnya. “

“Apa? Hyemi tidak mau keluar dari kamarnya? Kenapa?”

“Iya, anak itu sejak semalam terus mengurungnya dirinya di kamar. Bahkan dia tidak mau menjawab panggilanku setiap kali aku bicara padanya di depan kamarnya. Aku tidak tahu kenapa dia seperti itu, tapi aku khawatir dengannya. Hyuk Jae-ya, bagaimana ini?”

Nyonya Cho menatap cemas ke arah Hyuk Jae saat pria itu menanyakan keberadaan putrinya. Wanita paruh baya itu bahkan tanpa sadar mengaitkan jemarinya di depan perutnya, perasaan khawatir yang sejak semalam melanda hatinya terasa semakin menjadi saat putrinya benar-benar tidak keluar dari kamarnya.

“Hm, baiklah. Kalau begitu biar aku saja yang menemuinya. Bibi tunggu di sini saja, oke?” ucap Hyuk Jae mencoba menyakinkan Nyonya Cho  sekaligus menenangkan perasaan wanita tersebut.

Dan tanpa menunggu jawaban dari Nyonya Cho, Hyuk Jae kemudian beranjak dari tempatnya berdiri. Meninggalkan Nyonya Cho sendirian di ruang tamu yang kini hanya menatap punggung pria itu dengan tatapan berharap. Ya, wanita itu berharap Hyuk Jae bisa membujuk putrinya untuk segera keluar dari kamarnya.

Nyonya Cho menunduk seraya menggigit bibir bawahnya. Pandangannya terlihat menerawang saat pikirannya kembali di penuhi oleh sosok Hyemi –putrinya.

.

.

Hyuk Jae kini tengah berdiri di depan pintu kamar Hyemi. Pria itu menatap permukaan pintu kamar di sertai helaan napas panjang. Berharap dirinya berhasil membujuk gadis itu untuk keluar dari kamarnya. Setelah mencoba meyakinkan dirinya, Hyuk Jae lalu meraih gagang pintu kemudian memutarnya pelan. Namun gerakan tangan pria itu terhenti saat menyadari bahwa pintu itu di kunci dari dalam. Hyuk Jae mendongak seraya menutup matanya sejenak, kemudian kembali menatap permukaan pintu berwarna cokelat metalik tersebut. Satu tangannya yang terbebas kini mencoba untuk mengetuk pintu tersebut.

Tok tok.

“Hyemi, ini aku Hyuk Jae. Ayo buka pintunya, aku ingin masuk.” ucapnya seraya menempelkan telinganya di pintu.

Tidak ada jawaban apapun setelah pria itu mengucapkan rentetan kalimat tadi. Hanya hening yang di terimanya dan itu membuatnya kembali membuka suara.

“Hyemi–ya, ayo buka pintunya. Aku ingin masuk dan bertemu denganmu. Apa kau tidak ingin bertemu denganku?” ucapnya lagi.

Masih dengan keadaan yang sama seperti sebelumnya, Hyemi lagi-lagi tidak menjawab ucapan Hyuk Jae dari balik pintu kamarnya. Hal itu membuat Hyuk Jae merasa sedikit gemas, karena sungguh tidak biasanya gadis itu seperti ini. Hyuk Jae selalu di sambut hangat oleh Hyemi. Gadis itu bahkan selalu menunggunya di depan pintu setiap kali Hyuk Jae mengatakan akan datang ke rumah.

Tapi kali ini berbeda, Hyemi tidak seperti biasanya. Gadis itu tidak menunggunya di pintu, karena itulah tadi Hyuk Jae menanyakan keberadaannya pada Nyonya Cho.

Hyuk Jae tahu pasti ada sesuatu yang sudah terjadi hingga membuat Hyemi menjadi seperti sekarang. Ya, pria itu yakin Hyemi pasti memiliki alasan di balik sikapnya yang seperti ini. Pria itu kemudian memutar otak, mencoba untuk mencari satu ide yang bisa Ia gunakan untuk memancing reaksi gadis itu.

Dan Ia mendapatkannya.

Hyuk Jae mengulum senyumnya saat Ia memikirkan ide yang terlintas di kepalanya. Detik berikutnya bibirnya pun kembali bersuara bersamaan dengan ekspresi wajahnya yang juga berubah menjadi serius. Hyuk Jae mencoba untuk benar-benar membuat idenya terlihat nyata.

“Baiklah kalau kau tidak mau keluar dari kamarmu, tidak apa-apa. Tapi ..” Hyuk Jae menggantung kalimatnya, pandangannya menunduk dalam sementara dirinya berusaha keras untuk tidak tertawa saat ini.

“Tapi kau jangan menyesal jika besok yang mengantarku adalah gadis-gadis cantik. Ah tidak! Maksudku, gadis-gadis cantik dan juga sexy.  Apa kau—“

Dug!

Belum selesai Hyuk Jae bicara tiba-tiba sebuah benturan keras dari balik pintu kamar Hyemi lebih dulu mengudara hingga membuatnya terkejut. Hyuk Jae kini membelalakan matanya ke arah pintu kamar Hyemi. Mengerjap pelan lalu berucap.

“Hye–Hyemi? Hyemi kau tidak apa-apa? Suara apa itu tadi? Hyemi buka pintunya, ayo cepat buka pintunya. Aku—“

“Tidak mau!”

Hyuk Jae kembali menggantung kalimatnya begitu telinganya mendengar jawaban Hyemi. Pria itu bahkan menghentikan gerakan tangannya di udara saat lagi-lagi suara Hyemi lebih dulu masuk ke indera pendengarannya.

“Sana! Pergi saja sana dengan gadis-gadis bodoh yang kau sebutkan tadi!”

Hyuk Jae tertegun. Pria itu kembali mengerjap pelan saat mendengar kata-kata yang di lontarkan oleh Hyemi. Namun beberapa detik berikutnya tanpa sadar kedua sudut bibirnya melengkung menciptakan sebuah garis indah di sana. Hyuk Jae tersenyum, membuat deretan gigi-giginya yang putih terlihat.

“Aku membencimu Lee Hyuk Jae! Pergi sana! Aku tidak mau melihatmu lagi! Aku membencimu! Aku benar-benar membencimu!”

Sungguh, kali ini kata-kata Hyemi terdengar tidak begitu menyenangkan di telinga Hyuk Jae. Membuat pria itu seketika menghapus senyuman yang tadi mengembang di bibirnya, berganti menjadi ekspresi bingung yang kini terpetak jelas di wajahnya.

Apa yang baru saja Hyemi katakan padanya? Gadis itu membencinya? Oh tidak, itu tidak mungkin. Hyemi tidak mungkin membencinya dan Hyuk Jae tahu itu. Tapi entah kenapa tadi saat mendengar seruan Hyemi seperti tadi itu terdengar serius dan membuat Hyuk Jae merasa khawatir. Hatinya benar-benar khawatir sekarang dengan keadaan gadis itu. Ada apa sebenarnya denganmu Hyemi? Gumamnya dalam hati.

“Hye–Hyemi apa maksudmu? Ya, jangan begitu Hyemi-ya. Kau tidak benar-benar membenciku ‘kan? Aku tahu itu bohong. Kau itu mencintaiku, aku tahu itu.” ucap Hyuk Jae kemudian, suaranya terdengar begitu cemas membayangkan Hyemi mengatakan perasaannya dengan sungguh-sungguh.

“Ayolah, sayang. Buka pintunya, kumohon ..”

.

.

Sementara itu dari balik pintu kamar, Hyemi menatap permukaan pintu dengan ekspresi setengah kesal. Kedua matanya terpejam sejenak saat ucapan Hyuk Jae kembali tergiang di telinga dan itu membuat Hyemi tidak bisa lagi menahan air matanya untuk tidak jatuh. Pertahanannya kini runtuh. Tangisnya sudah tidak bisa Ia tahan lagi.

Sesak.

Ya, itulah yang sekarang Hyemi rasakan saat Ia kembali memikirkan pria bernama Lee Hyuk Jae tersebut. Bayangan pria itu terus saja berputar-putar di kepalanya seperti sebuah slide video hitam putih. Menampilkan gambar-gambar acak yang membuat Hyemi semakin terisak dalam.

“Hyemi–ya ..”

Hyemi mendongak begitu mendengar Hyuk Jae memanggil namanya. Suara pria itu kini terdengar begitu lembut di balik pintu kamarnya. Membuat Hyemi kini mencoba untuk menghentikan isakannya sejenak dan mempertajam indera pendengarannya. Gadis itu menatap lurus ke arah pintu kamarnya. Menunggu Hyuk Jae melanjutkan kalimatnya.

“Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu dan aku benar-benar ingin bertemu denganmu.” ucap Hyuk Jae.

Lagi, air mata Hyemi kembali jatuh saat mendengar perkataan Hyuk Jae barusan. Tangisnya semakin menjadi bersamaan dengan perasaan sesak yang melanda hatinya. Sungguh, Hyemi sendiri tidak tahu kenapa air matanya tidak mau berhenti mengalir padahal dirinya sudah berusaha keras untuk tidak terus-terusan menangis.

Dan beberapa detik berikutnya gadis itu pun memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya. Berjalan ke arah pintu kamarnya dan berniat untuk membukanya. Namun gerakannya terhenti saat mendengar Hyuk Jae kembali bersuara.

“Baiklah, kalau kau tetap tidak mau membuka pintunya tidak apa-apa. Lebih baik aku pulang saja. Jaga di—“

Cklek!

Terdengar suara pintu terbuka saat Hyuk Jae belum sempat menyelesaikan ucapannya. Pria itu mendongak dan mendapati Hyemi kini tengah berdiri di hadapannya. Wajah gadis itu terlihat sedih dan bahkan matanya terlihat merah. Hyuk Jae pun langsung mendekatinya.

“Hyemi, kau menangis? Ada apa? Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja?” cerocos Hyuk Jae seraya menangkup wajah Hyemi dan memaksa gadis itu untuk menatapnya.

Bukannya menjawab semua pertanyaan Hyuk Jae, Hyemi tiba-tiba merengkuh tubuh pria itu kemudian melingkarkan kedua tangannya di tubuh Hyuk Jae. Setelah itu Hyemi kembali menangis saat wajahnya bersandar pada permukaan dada bidang pria tersebut.

Hyuk Jae menunduk saat Hyemi kini tengah menangis di pelukannya. Ia pun segera melingkarkan tangannya juga di tubuh Hyemi, menarik tubuh gadis itu dan balas memeluknya tak kalah erat. Membuat Hyemi semakin terisak di pelukannya.

“Hei, ada apa hm? Kenapa kau menangis?” bisik Hyuk Jae tepat di telinga Hyemi.

Hyemi tidak menjawab, gadis itu hanya terus terisak di pelukan Hyuk Jae. Sungguh, Ia benar-benar tidak bisa bicara sekarang. Lidahnya terlalu kelu untuk mengucapkan satu kata pun, bahkan untuk bernapas pun Hyemi merasa sulit lantaran tangisnya belum juga mereda. Saat ini yang Hyemi butuhkan hanyalah pelukan Hyuk Jae, Ia hanya ingin terus memeluk Hyuk Jae seperti ini. Membiarkan kehangatan di tubuh pria itu mengalir padanya.

Ya, Hyemi hanya ingin itu.

Hyuk Jae mengelus lembut puncak kepala Hyemi dan memeluk tubuh Hyemi semakin erat seakan Ia benar-benar berusaha untuk membuat gadis itu merasa tenang.

Ssstt .. sudahlah, jangan menangis. Ada aku bersamamu.” bisik Hyuk Jae.

.

.

“Kau takut? Kau takut kehilanganku sampai-sampai kau tidak mau bertemu denganku?” tanya Hyuk Jae saat Hyemi sudah merasa lebih tenang.

Saat ini mereka sedang berada di kamar Hyemi, duduk di atas tempat tidur Hyemi sambil bersandar pada kepala tempat tidur. Hyemi tidak menjawab pertanyaan Hyuk Jae, Ia hanya tertunduk sambil terus memilin baju hangat yang dikenakan Hyuk Jae.

“Ya, kenapa kau lakukan itu? Bukankah semakin kau tidak mau menemuiku, kau malah semakin kehilanganku?” tanya Hyuk Jae yang sontak membuat Hyemi kini menghentikan pergerakan tangannya, gadis itu dengan cepat mendongak.

“Y-ya! Kenapa kau berkata seperti itu?” Hyemi menjauhkan kepalanya yang sedari tadi bersandar di bahu Hyuk Jae. Gadis itu lalu memukul dada Hyuk Jae hingga membuat pria itu sedikit meringis.

“Kau mengharapkanku benar-benar kehilanganmu eoh? Kau benar-benar ingin aku merasa semakin kehilanganmu nantinya. Iya?” lanjutnya kemudian memalingkan wajahnya ke arah jendela kamarnya.

Hyuk Jae mengelus permukaan dadanya yang tadi di pukul Hyemi, pria itu menatap Hyemi yang kini tengah memunggunginya dengan tatapan bersalah. Satu tangannya kemudian terulur ke lengan Hyemi, menggenggamnya lembut seraya berucap.

“Hyemi-ya ..” panggilnya.

Hyemi tidak menyahuti panggilan Hyuk Jae, gadis itu masih terus pada posisinya. Dan Hyuk Jae yang merasa Hyemi masih bersikukuh tidak mau menatapnya akhirnya menarik lengan gadis itu hingga kini tubuh Hyemi kembali jatuh di pelukannya.

“Kau marah padaku eoh? Maafkan aku.” ucap Hyuk Jae pelan. Pria itu lalu melingkarkan tangannya di tubuh Hyemi.

Hyemi masih terus menatap lurus ke arah jendela kamarnya. Tangannya masih berada di depan bagian perutnya. Hingga beberapa detik kemudian Hyuk Jae kembali melanjutkan.

“Maafkan aku. Maafkan atas semua yang kukatakan padamu tadi. Aku benar-benar tidak berniat membuatnya terdengar sungguh-sungguh. Hyemi-ya, kumohon jangan seperti ini. Kau benar-benar menghukumku, kau tahu.”

Ada jeda sejenak saat Hyuk Jae menyandarkan kepalanya di bahu Hyemi. Ia lalu semakin mempererat pelukannya dan membiarkan tubuhnya terus membagi rasa hangatnya di tubuh Hyemi. Barulah beberapa detik kemudian Ia kembali melanjutkan.

“Aku tahu aku sudah membuatmu khawatir, bahkan sampai membuatmu takut. Tapi sebenarnya bukan itu maksudku yang ingin kusampaikan padamu Hyemi. Dan .. mengenai kabar kepergianku ke London, aku memang akan segera berangkat ke sana. Perusahaan ayahku membutuhkanku jadi aku harus melakukannya. Aku harus bertemu dengan klien ayahku di sana. Maafkan aku karena aku tidak memberitahumu sebelumnya. Maafkan aku karena aku tidak menceritakan semuanya sejak awal. Tapi Hyemi ..”

Hyuk Jae melepaskan pelukannya. Pria itu kemudian menghadapkan tubuh Hyemi padanya hingga kini gadis itu menatapnya. Hyuk Jae tersenyum tipis saat manik matanya menatap sesuatu di mata Hyemi. Tangannya pun terangkat untuk menyentuh wajah gadis itu, mengelusnya dengan lembut. Membuat Hyemi merasa bahwa matanya benar-benar perih sekarang.

“Cho Hyemi, dengarkan aku.” Hyuk Jae menatap Hyemi tepat di matanya. Sambil tersenyum penuh arti Ia melanjutkan.

“Aku memang akan segera meninggalkanmu, tapi itu untuk memenuhi kewajibanku sebagai anak yang berbakti pada orangtua bahkan sebagai pria dewasa korea yang bertanggung jawab. Kau tidak perlu khawatir dengan apapun yang akan terjadi setelah aku benar-benar berada di sana. Kau tidak perlu khawatir jika kita tidak bisa bertemu selama tiga tahun yang akan datang, aku tidak akan meninggalkanmu. Bahkan Hyemi, kau tidak perlu khawatir jika aku akan melupakanmu di sana. Untuk apa aku meninggalkan gadis secantik dirimu ini eoh? Jelas-jelas kau adalah satu-satunya gadis yang sangat mencintaiku.”

Hyemi terus mendengarkan setiap kalimat yang di ucapkan oleh Hyuk Jae, tanpas sadar Ia tersenyum tipis mendengar semua kalimat yang Hyuk Jae ucapkan. Bersamaan dengan itu gadis itu juga berusaha keras untuk menahan air matanya saat matanya benar-benar terasa perih sekarang. Bahkan untuk melihat Hyuk Jae pun Hyemi sedikit sulit karena air matanya menghalangi indera penglihatannya.

Sementara dengan Hyuk Jae, pria itu tertunduk sesaat seraya mencoba untuk mengisi paru-parunya dengan udara agar Ia bisa bernapas dengan baik. Hyuk Jae lalu kembali mendongakkan wajahnya, kembali menatap Hyemi.

“Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Sungguh, hanya itu yang perlu kau tahu Hyemi. Karena sejauh dan selama apapun aku tidak menemuimu aku akan selalu menjaga perasaanku. Berapa lamanya pun aku tidak berada di sisimu, hatiku akan tetap untukmu. Hanya untukmu Cho Hyemi. Aku janji.” Hyuk Jae menghapus air mata Hyemi saat gadis itu tidak bisa lagi menahan dirinya untuk tidak menangis.

“Aku janji Hyemi, aku janji aku akan kembali dengan selamat dan sehat. Aku janji, jika aku sudah selesai menjalankan tugas yang diberikan ayahku, aku akan segera menemuimu. Dan juga bibi tentunya. Aku janji aku melakukannya.”

Air mata Hyemi semakin deras mengalir saat Hyuk Jae mengucapkan kalimat panjang tersebut. Ia mencoba menahan dirinya untuk tidak menangis dengan keras sementara Hyuk Jae kembali bersuara.

“Lalu ketika saat itu tiba, aku akan membawa keluargaku padamu. Aku akan membawa Ayah dan Ibu serta Sora noona untuk menemuimu dan bibi. Aku akan melamarmu dan kita akan menikah setelahnya.” ucap Hyuk Jae seraya tersenyum. Tanpa sadar air matanya juga kini mulai membasahi kulit wajahnya saat Ia memikirkan tentang rancangan masa depannya bersama Hyemi.

“Kita akan menikah dan menjadi pasangan yang membuat iri pasangan suami istri lainnya. Lalu kita akan memiliki anak-anak yang cantik sepertimu dan pastinya tampan seperti ayahnya” Hyuk Jae terkekeh pelan di akhir kalimatnya. Pria itu kembali menghapus air mata Hyemi. “Dan pada akhirnya kita akan hidup bahagia hingga bertahun-tahun setelahnya.” lanjutnya lagi.

Hyemi langsung merengkuh tubuh Hyuk Jae. Memeluk pria itu dengan sangat erat. Sampai satu detik berikutnya tangis Hyemi pun buncah dan terdengar seluruh sudut kamarnya. Gadis itu menangis dengan keras. Air matanya benar-benar sudah tidak mampu Ia tahan lebih lama lagi.

Hyuk Jae pun sama, pria itu juga langsung melingkarkan tangannya di pinggang Hyemi. Menundukkan wajahnya hingga kini Ia bisa mencium aroma tubuh Hyemi saat Ia membenamkan wajahnya di leher Hyemi. Kedua mata Hyuk Jae terpejam erat bersamaan dengan air matanya yang juga mengalir membuat basah kulit wajahnya.

“Jangan khawatir, Hyemi.” bisik Hyuk Jae.

“Jangan khawatir. Aku ada bersamamu.” Hyuk Jae semakin mempererat pelukannya. Mencoba untuk melepaskan semua perasaan yang Ia rasakan di hatinya saat ini.

Sungguh, Hyuk Jae sangat mencintai Hyemi. Ia benar-benar mencintai gadis itu dan tidak ingin melihat Hyemi menangis seperti ini. Tapi .. tapi apa yang terjadi sekarang, Hyuk Jae hanya ingin membiarkan gadis itu menangis saat ini.

Bersamanya.

“A–aku .. aku mencintaimu, Hyuk jae-ya.” ucap Hyemi pelan saat Ia membenamkan wajahnya di bahu Hyuk Jae.

Sementara itu Hyuk Jae yang mendengarnya hanya tersenyum saat kalimat itu meluncur dari bibir gadisnya. Hingga beberapa detik setelahnya Ia pun menjawab.

“Aku juga mencintaimu, Hyemi. Sangat mencintaimu.”

.

.

*Fin*

Advertisements

2 thoughts on “I’m Sorry, I’m Promise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s