MONSTER #1st CHAPTER — A BEGINNING OF ..


MONSTER

¶ Title: MONSTER | Author: Areumdaun Lee | Cast: Cho Kyuhyun, Park Hyesub/YOU, Choi Siwon, Lee Donghae, Kim Kibum, Kim Heechul, ect. | Genre: Drama–Romance–Family–Hurt | Rating: PG16 | Lenght: Multichapter ¶

.

.

Suara hingar bingar dari musik yang diputar dan juga kerlip dari bola lampu disco yang menggantung di tengah ruangan kini tidak terlalu dipedulikan lagi oleh seorang gadis yang tengah duduk di salah satu kursi di depan meja pantry. Wajah gadis itu tertunduk, Ia menyandarkan keningnya di atas lengan kanannya. Pikirannya terlalu pusing setelah tadi Ia terlalu banyak minum.

“Hei, Heechul–ah!” gadis itu memanggil salah satu bartender di sana. Ia melambaikan tangannya tak tentu arah. “Berikan. Aku. Segelas. Minuman. Lagi.” racaunya. Nada bicaranya sudah patah-patah lantaran terlalu mabuk.

Heechul, bartender yang berdiri di depannya hanya menggelengkan kepala. Tidak percaya jika gadis yang duduk di hadapannya itu masih saja menginginkan segelas wine padahal dia sudah sangat teler.

“Hyesub–ah, kau sudah teler seperti ini masih ingin minum lagi? Ya, apa kau tidak khawatir dengan—”

Akhh!” Hyesub menggebrak meja pantry dengan keras. “Jangan cerewet kau Kim Heechul!” Hyesub memukul-mukul meja pantry, raut gadis itu berubah kesal saat Heechul menolak untuk memberikannya minuman lagi.

“Cepat .. berikan .. aku .. minum lagi! Cepat, cepat! Mana minumanku!?” Hyesub semakin kalap, membuat beberapa orang yang juga berada di sana sontak menoleh ke arahnya. Menatapnya dengan tatapan aneh bercampur bingung.

“Hyesub–ah ..”

Heechul hanya diam dan menatap Hyesub dengan tatapan yang sulit diartikan. Pria itu lalu segera menyerahkan segelas wine yang diminta Hyesub. Memilih untuk tidak memperpanjang masalah jika gadis itu sedang dalam keadaan seperti ini.

Hyesub meminum wine yang tadi disodorkan Heechul. Gadis itu langsung menghabiskannya dalam sekali tenggak. Kemudian setelah itu Ia meletakkan gelas bekas minumannya dengan gerakan kasar. Membuat Heechul yang masih menatapnya sempat tersentak karena sikapnya.

“Dia itu brengsek! Ya, dia itu .. sangat brengsek!” gumam Hyesub.

Entah siapa yang sedang digumamkan oleh Hyesub saat ini, namun Heechul hanya bisa menghela napas berat saat maniknya masih terus tertuju ke arah gadis tersebut. Wajah Hyesub terlihat seperti sedang mengalami masalah yang berat, membuat Heechul dalam diamnya merasa iba pada Hyesub.

Hyesub kembali menyandarkan kepalanya di atas meja, kedua matanya terlihat tidak sanggup lagi terjaga sampai akhirnya Ia pun memejamkan matanya bersamaan dengan kristal bening yang berhasil lolos dari sudut matanya.

.

.

“Bodoh! Aku minta kalian melakukan yang seperti ini saja kalian tidak bisa melakukannya dengan benar!?”

“……….”

“Kalian semua payah.”

“……….”

“Jika melakukan hal sepele seperti ini saja kalian tidak bisa melakukannya dengan benar, untuk apa kalian bekerja di sini? Dan untuk apa pula aku menggaji orang-orang payah seperti kalian eoh!?”

Braakk!

Ruangan yang khusus dijadikan sebagai ruang evaluasi tersebut mendadak terasa menegangkan saat seorang pria baru saja meledakkan amarahnya di sana seraya melemparkan beberapa map hingga membuat seluruh kertasnya berserakan di meja bahkan sampai jatuh ke lantai. Membuat seluruh karyawannya hanya bisa menunduk dalam lantaran takut terkena amukan pria tersebut jika melihat wajahnya walaupun hanya sekilas.

“Kita harus melakukan banyak promosi untuk menarik investor-investor besar di luar sana. Proyek kita masih banyak yang belum rampung dan baru berjalan separuh. Kita butuh penyongkong untuk membangun beberapa resort yang baru setengah jalan. Tapi—”

Hening.

Pria itu menggantung kalimatnya. Ia menatap seluruh karyawan dengan tatapan frustasi. Pria itu mendengus seraya memijat pelan pelipisnya. Dan seluruh karyawan di sana tidak ada yang berani membuka suara saat tadi pria itu sedang bicara di depan sana, membahas tentang rencana jangka panjang untuk perusahaannya. Seluruh karyawan lagi-lagi hanya bisa menundukkan wajah mereka lantaran mereka sembari berharap bahwa evaluasi hari ini segera selesai. Evaluasi ini membuat kepala mereka serasa ingin meledak detik itu juga.

Dan sepertinya Tuhan mendengarkan semua doa mereka karena tepat saat pria itu hendak kembali membuka suara, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Menampakkan seorang wanita muda yang kini tengah berdiri di ambang pintu.

“Permisi.” ucap wanita itu seraya membungkuk sopan pada pria yang berdiri memunggunginya dan juga seluruh orang di ruangan tersebut. “Maaf Choi Sajjangnim, ada tamu untuk Anda.” lanjutnya.

Seluruh karyawan kali ini mengalihkan fokus mereka pada seorang wanita yang tidak lain adalah sekretaris di tempat mereka bekerja. Jung Soojung namanya.

Pria yang dipanggil sajjangnim oleh Soojung tadi kini memutar tubuhnya menghadap Soojung. Ia menatap Soojung dengan ekspresi kedua alisnya bertaut.

“Siapa?” tanyanya.

“Beliau mengatakan bahwa Ia adalah Kepala Direktur dari perusahaan Park’s Music Record. Aku sudah memintanya untuk menunggu Anda di ruangan Anda, sajjangnim.”

Tatapan penuh tanya kini terpetak jelas di wajahnya saat pria itu mendengarkan penjelasan Soojung. Ia lantas kembali menatap wanita itu seraya berucap. “Baiklah. Aku akan segera menemuinya.”

Ne.” Soojung mengangguk paham. “Kalau begitu, aku permisi Sajjangnim.” lanjutnya. wanita itu kemudian kembali membungkuk.

Setelah Soojung sudah meninggalkan ruang evaluasi, kini pria tersebut kembali mengalihkan fokusnya pada seluruh karyawannya. Membuat seluruh karyawannya sontak kembali menundukkan wajah mereka.

“Baiklah, cukup sampai disini dulu. Kita lanjutkan lagi evaluasinya di lain waktu. Kalian boleh keluar sekarang.” ucap pria itu. Membuat seluruh karyawannya bisa bernapas lega saat ini. Dan setelah itu pria bermarga Choi tersebut segera meninggalkan ruang evaluasi.

.

.

“Awas!”

“Y–ya!”

Tepat ketika sebuah kaleng cat hendak jatuh mengenai kepala seorang gadis pejalan kaki, seseorang lebih dulu menarik tangannya dan membawanya menghindar hingga akhirnya kaleng itu tidak menimpa kepala gadis tersebut.

Akh!”

Suara erangan kemudian terdengar setelah seseorang itu berhasil menyelamatkan gadis pejalan kaki yang Ia selamatkan tadi. Gadis itu terkejut saat Ia menyadari bahwa pria yang menyelamatkannya itu kini sedikit membungkuk seraya memegangi punggungnya. Sementara tangannya yang lain memegangi gitar yang di bawanya.

Eoh! K–kau .. kau tidak apa-apa? Y–ya, apa yang kau lakukan tadi? Kenapa—”

“Tidak. Aku tidak apa-apa.”

Pria itu menyahuti ucapan si gadis pejalan kaki lebih dulu saat gadis itu belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Wajah gadis itu terlihat iba saat pria yang berdiri di hadapannya kembali meringis menahan rasa sakit di punggungnya.

“Apa sesakit itu kah?” gumam gadis pejalan kaki tersebut.

Sementara itu seorang pria paruh baya yang tadi sedang mengecat segera menghampiri dua muda-mudi yang berdiri tak jauh dari tangga tempatnya mengecat. Raut cemas terpetak jelas di wajahnya saat Ia melihat pria yang menolong gadis pejalan kaki itu kesakitan.

“Anak muda, apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka eoh? Mana yang sakit? Tunjukkan padaku. Ayo, aku akan mengantarmu ke rumah sakit jika lukamu parah.” tanya pria paruh baya tersebut. Membuat pria yang ditanyainya terkekeh pelan lantaran pria paruh baya tersebut melemparkan pertanyaan bertubi-tubi padanya.

“Tidak, paman. Aku tidak apa-apa. Hanya sedikit sakit rasanya, tapi sungguh aku tidak apa-apa.” jawab pria muda itu seraya tersenyum tulus. Membuat pria paruh baya di depannya merasa semakin tidak enak hati padanya.

“Ya, jangan begitu anak muda. Kalau memang kau benar-benar terluka, lebih baik ke rumah sakit saja sekarang. Kita periksa lukamu sebelum itu menjadi semakin serius.”

“Iya, paman benar. Lebih baik kita periksa saja lukamu sebelum semakin serius.” kali ini gadis pejalan kaki itu angkat bicara. Setuju dengan apa yang dikatakan oleh pria paruh baya tadi. “Ayo, aku akan mengantarmu ke rumah sakit sekarang juga.”

Tidak ada jawaban dari pria muda tersebut saat gadis pejalan kaki dan juga pria paruh baya tadi membantunya berdiri. Gadis pejalan kaki itu lalu mengambil alih gitar yang di bawanya kemudian beralih menatap pria paruh baya yang berdiri di depannya.

“Paman, kami permisi dulu. Annyeong.” Gadis pejalan kaki dan juga pria muda yang terluka itu kemudian membungkuk sopan pada pria paruh baya di depan mereka.

“Iya, baiklah.” pria paruh baya itu balas membungkukkan tubuhnya. “Oh iya, tolong pastikan dia benar-benar tidak terluka serius, nona muda.” lanjutnya kemudian seraya menunjuk pria muda yang terluka itu.

“Oh, iya paman. Akan kupastikan itu.” jawab gadis pejalan kaki itu kemudian setelah itu Ia dan juga pria muda yang terluka tersebut meninggalkan pria paruh baya itu. Keduanya segera pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan luka pria muda yang tadi telah menolong gadis pejalan kaki tersebut.

.

.

Seorang gadis tampak berusaha mengimbangi langkah kaki seorang pria muda di sampingnya saat mereka baru saja keluar dari sebuah restoran berkelas. Ekspresi di wajah gadis tersebut terlihat bingung saat pria tersebut terus saja berjalan sambil memainkan ponselnya tanpa berniat menoleh sedikit pun padanya. Bahkan Ia tidak memperhatikan gadis itu sedikitpun ketika gadis itu sudah berdiri sejajar dengannya.

“Kyuhyun, kau mau kemana?”

“……….”

Tidak ada jawaban dari pria yang dipanggil Kyuhyun tersebut. Gadis itu berdecak pelan, kemudian Ia kembali bicara. “Ya! Aku sedang bicara denganmu, Kyu. Jawab aku, kau mau kemana eoh?” Gadis itu menggenggam lengan Kyuhyun. Mencoba untuk menahan pergerakan pria itu meskipun keduanya tetap melanjutkan langkah mereka.

“Pergi.” jawab Kyuhyun datar.

Mendengar jawaban yang lontarkan Kyuhyun, gadis itu tanpa sadar mulai merenggangkan genggamanya. Ia terdiam di tempatnya berdiri. Ekspresi wajahnya berubah saat Ia melihat ekspresi dingin di wajah Kyuhyun tadi. Pria itu seolah tidak menganggap kehadiran dirinya di sampingnya. Namun gadis itu tidak menyerah, Ia mencoba untuk bersikap biasa saja dan memaksakan dirinya untuk tersenyum. Kemudian gadis itu kembali melanjutkan langkahnya, mengekor di belakang Kyuhyun saat pria itu berbelok menuju tempat parkir.

“Aku tahu kau mau pergi. Tapi maksudku kau mau pergi kemana?”

“Bukan urusanmu.”

“……….”

Untuk kesekian kalinya gadis itu kembali merasakan sesuatu di hatinya. Perasaan sakit entah kenapa kini kembali memenuhi rongga dadanya saat Ia melihat sikap Kyuhyun yang selalu saja bersikap acuh padanya. Sungguh, demi semua waktu yang pernah Ia lalui bersama Kyuhyun, gadis itu tidak pernah sekali pun mendapatkan satu kesempatan manis bersama pria itu. Walaupun untuk sekedar melihat Kyuhyun tersenyum padanya pun, gadis itu tidak pernah melihatnya. Tidak pernah sekalipun.

“Seo Jieun.” suara Kyuhyun kembali terdengar di telinga gadis itu. “Jangan hubungi aku untuk sementara waktu. Aku ingin sendiri.” ucap Kyuhyun lagi sebelum akhirnya pria itu kemudian bergerak masuk kedalam mobilnya.

Gadis itu –Jieun– yang baru tersadar dari lamunannya sontak langsung menatap Kyuhyun, Ia mengerjap pelan kemudian menyahuti. “Apa? Ta–tapi Kyuhyun— Ya! Kyuhyun–ah! Tunggu!”

“……….”

Jieun berusaha mencegah Kyuhyun saat pria itu sudah bergerak untuk memasang save belt-nya. Jieun lalu berdiri di sisi jendela tempat Kyuhyun berada seraya mengetuk kaca mobil saat kendaraan roda empat tersebut mulai bergerak meninggalkan tempat parkir.

“Ya! Cho Kyuhyun tunggu ak— Ya! Kyuhyun–ah!” Jieun nyaris limbung ketika Ia berusaha mengejar mobil yang dikendarai Kyuhyun yang saat itu sedang berbelok ke kiri dan kemudian langsung melesat begitu saja.

Terlambat.

Jieun kehilangan Kyuhyun. Pria itu sama sekali tidak mengindahkan seruan Jieun saat gadis itu terus menyerukan namanya dan memintanya untuk berhenti. Jieun terdiam di tempatnya berdiri. Pandangan gadis itu lalu mulai terlihat kabur saat Ia kini merasakan matanya memanas.

“Kyuhyun–ah ..”

.

.

“Maafkan aku.”

Kalimat itulah yang pertama kali meluncur dari bibir Soona saat Ia kini berhadapan langsung dengan Kibum. Soona tidak berani mengangkat wajahnya untuk menatap Kibum yang sedang duduk di balik meja kerjanya.

“……….”

“A–aku tidak sengaja melakukannya. Sungguh, maafkan aku.”

“Kau tidak sengaja melakukannya?”

“……….”

Soona membatu di tempatnya. Seperti ada sebuah palu raksasa yang baru saja menghantam dadanya. Meninggalkan sebuah perasaan yang tidak mengenakan di dalam sana. Sungguh, pertanyaan yang baru saja Kibum lontarkan itu terdengar sinis dan seperti tengah menyindir dirinya.

“Kau sudah menghancurkan kerja kerasku dan kau bilang kau tidak sengaja melakukannya?” Suara Kibum kembali terdengar. Kibum menaikkan nada bicaranya hingga yang terdengar hanyalah suara dirinya di ruangan itu. Tidak hanya itu, ucapannya juga terdengar ketus dan kali ini Kibum tidak bisa menahan emosinya lantaran semua kertas berisi narasi cerita dan juga daftar lagu yang Ia buat selama dua minggu untuk sebuah pentas kanak-kanak dari salah satu panti asuhan kini rusak parah.

Kibum marah. Tatapan pria itu terlihat tajam dan terkesan begitu menusuk di mata Soona. Membuat Soona hanya bisa menelan samar saliva–nya tanpa berani mengatakan apapun lagi selain kata maaf yang bisa Ia ucapkan saat ini.

“Aku tidak peduli dengan permintaan maafmu. Semua kerja kerasku sudah hancur karena kecerobohanmu. Sekarang menyingkir dari hadapanku.”

Kibum melemparkan semua kertas berisi narasi cerita dan juga daftar lagu di tangannya yang sudah tidak jelas bentuk dan juga susunan hurufnya. Ia menghempaskan kertas-kertas itu di depan wajah Soona hingga kini semua kertas tersebut jatuh tepat di depan kaki Soona.

“Jangan masuk ke ruanganku sampai aku bisa menyelesaikan semua kekacauan ini. Dan lagi, aku juga tidak ingin melihatmu hadir di sini sampai beberapa waktu kedepan.”

Soona mendongak, raut wajahnya kini berubah pias. “A–apa? T–tapi—”

“Keluar dari ruanganku sekarang.” ucap Kibum dingin. Pria itu kemudian memutar kursinya hingga kini Kibum duduk memunggungi Soona.

“……….”

Soona menatap permukaan kursi yang Kibum duduki. Kemudian tanpa Ia sadari sebuah kristal bening jatuh membasahi kulit wajahnya. Soona menarik napas dalam lalu kemudian menghembuskannya perlahan. Dadanya terasa sesak ketika Ia mengingat semua ucapan Kibum saat pria itu bicara padanya. Dan detik berikutnya Soona pun memutuskan untuk keluar dari ruang kerja Kibum. Ia mulai mengambil langkah, meninggalkan ruang kerja Kibum tanpa menimbulkan suara sedikit pun di langkah kakinya.

.

.

.

— TBC —

Advertisements

4 thoughts on “MONSTER #1st CHAPTER — A BEGINNING OF ..

  1. Oh jdi ini critanya mencertakan smua castnya yehh ohh ahhaha di awal” ak smpat bingung krna ada adegan” yg lain lgi ahhaha but its okey ini bgusss aku sukaaaaaa 😄😄😊😊😊
    #very nice

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s