Love Letter #2— Maybe Tomorrow


IMG_20151019_095542

¶ Title: Love Letter | Author: Areumdaun Lee | Cast: Lee Donghae, YOU/Oc, Kim Yerim. | Genre: Romance–Angst–Friendship | Rating: General | Lenght: Multichapter ¶ 

.

Read First: [1st — #Prologue]

.

“Lee Donghae?”

Sepasang kaki milik Donghae seketika berhenti melangkah saat telinganya mendengar seseorang baru saja menyebutkan namanya. Ia lalu menoleh ke samping kirinya, tampak sedikit terkejut saat maniknya mendapati kehadiran seorang gadis yang dikenalnya kini tengah berdiri sambil bersandar pada sebuah mobil di belakangnya.

Gadis itu tersenyum senang sambil melambaikan tangannya begitu melihat Donghae baru menyadari kehadirannya. Ia lantas mengambil langkah untuk mendekat ke arah Donghae. Masih tersenyum, gadis itu kemudian bicara. “Do you miss me?” tanyanya.

Seakan baru saja terbangun dari tidur, Donghae terlihat seperti orang linglung. Bingung dengan situasi yang saat ini sedang dihadapinya. Pria itu mengerjap pelan, menatap sosok gadis yang berdiri di hadapannya dengan tatapan terkejut seolah dirinya tidak percaya apa kehadiran gadis tersebut adalah nyata atau hanya sekedar ilusinya saja.

“Kenapa melamun? Hei, ini aku. Kau ingat aku ‘kan?” suara gadis itu kembali terdengar di telinga Donghae. Membuat pria itu kembali mengerjap pelan, kesadarannya sudah kembali.

“Kim Yerim.” gumam Donghae kemudian. Membuat gadis yang berdiri di hadapannya kini semakin tersenyum senang ketika mengetahui bahwa Donghae masih mengingat dirinya.

“Nice to meet you again, Lee Donghae. Oppa.”

.

.

Suasana canggung sangat terasa saat Donghae dan Yeri kini sedang berada di dalam mobil. Saat ini keduanya tengah berkendara menuju ke rumah Donghae.

Kim Yerim atau biasa di sapa Yeri –begitulah Donghae memanggilnya– adalah seorang gadis yang Ia kenal sejak kecil. Keduanya adalah teman dekat saat mereka masih di taman kanak-kanak. Donghae mengenal Yeri karena dulu saat Ia baru pindah ke Seoul, Ibunya mengenalkannya pada Yeri. Saat itu ketika keluarga Lee baru saja tiba di rumah baru mereka, keluarga Yeri adalah yang pertama membantu mereka merapikan barang-barang pindahan mereka.

Namun kedekatan Donghae dan Yeri berubah saat keluarga Kim memutuskan untuk pindah ke Amerika. Saat itu Donghae dan Yeri sedang berada di bangku kelas 5 sekolah dasar. Karena Ayah Yeri yang merupakan seorang diplomat maka Tuan Kim harus membawa serta keluarganya saat Ia dipindah tugaskan ke negeri paman Sam tersebut. Hal itu sempat membuat Yeri menolak mentah-mentah keinginan sang Ayah yang ingin membawanya serta. Yeri ingin tetap di Seoul dan tinggal bersama Donghae tapi Donghae dengan bijak menasehati Yeri. Donghae mengatakan bahwa meskipun Yeri akan pindah ke Amerika, Donghae akan tetap berkomunikasi dengannya lewat surel. Tidak hanya itu, Ia juga mengatakan bahwa Ia akan menunggu dirinya sampai Yeri kembali lagi ke Seoul. Dan Yeri yang saat itu mendengar Donghae berkata seperti itu padanya merasa sangat senang. Yeri pun berjanji pada Donghae bahwa Ia akan kembali ke Korea. Akhirnya setelah Donghae membujuk Yeri, gadis itu pun menurut untuk ikut pindah bersama sang Ayah ke Amerika.

Oppa, bagaimana keadaanmu di sini? Apa kau baik-baik saja? Oya, paman dan bibi, apa mereka juga baik-baik saja?” tanya Yeri di tengah-tengah perjalanan menuju rumah Donghae.

Donghae tidak mendengarkan pertanyaan Yeri. Pria itu hanya terus tertunduk, sibuk dengan pikirannya sendiri. Kepulangan Yeri yang tidak terduga membuatnya merasa sedikit shock. Karena sungguh, Donghae benar-benar tidak mengetahui berita kepulangan Yeri ke Korea sama sekali. Yeri sendiri bahkan tidak mengatakan apapun padanya jika gadis itu akan kembali.

“Lihat, kau melamun lagi. Oppa, kau sedang sakit eoh? Kau kelihatan kurang sehat.” ucap Yeri seraya berniat untuk menyentuh kening Donghae. Namun Donghae dengan lembut menahan pergerakan tangan Yeri.

“Tidak. Aku tidak apa-apa.” jawabnya bohong.

“Sungguh tidak apa-apa? Tapi kau—”

“Yeri, aku baik-baik saja.” sela Donghae lebih dulu sebelum Yeri sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia lalu mengalihkan wajahnya dari Yeri, mencoba untuk menghindari tatapan gadis itu.

Melihat reaksi Donghae seperti itu membuat Yeri hanya bisa terdiam di posisinya. Entah kenapa Ia merasa bahwa sikap Donghae sekarang sudah berubah. Yeri seakan sedang tidak berhadapan dengan pria bernama lengkap Lee Donghae yang dulu dikenalnya. Donghae bersikap kaku padanya dan itu membuat suasana di antara mereka terasa canggung. Pria itu bahkan tidak menanyakan keadaannya saat mereka pertama kali bertemu di depan sekolah Donghae. Entahlah, mungkin saja Donghae hanya lelah karena tugas-tugas sekolahnya tadi. Ya, bisa saja Donghae memang merasa lelah karena hal itu.

Yeri tertunduk sejenak, gadis itu menghela napas pelan seraya tersenyum maklum. Ia yakin semuanya akan baik-baik saja. Mungkin setelah ini Donghae akan kembali bersikap seperti biasa padanya. Ya, Yeri percaya bahwa keadaan canggung di antara mereka saat ini pasti akan mencair. Yeri yakin bahwa setelah ini Ia dan Donghae akan kembali akrab seperti saat mereka kecil dulu.

Ck! Seoul benar-benar sudah berubah. Oh ya tuhan, aku sangat merindukan kota ini!” ucap Yeri girang. Gadis itu mencoba untuk tetap terlihat ceria meskipun saat ini keadaan terasa canggung baginya.

Oppa, kapan-kapan kau temani aku jalan-jalan ya? Aku sangat ingin menghabisan banyak waktu bersamamu. Bagaimana? Kau mau ‘kan oppa?” tanya Yeri kemudian seraya mengampit lengan Donghae. Bergelayut manja di samping pria itu, memohon agar Donghae mengiyakan keinginannya.

Donghae tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Yeri barusan. Pria itu hanya diam saat melihat Yeri memohon padanya. “Dia masih seperti dulu. Tidak berubah sedikitpun.” gumam Donghae dalam hati.

Oppa, apa kau mendengarkanku? Bagaimana, kau mau ‘kan temani aku jalan-jalan?” tanya Yeri lagi saat Ia tak kunjung mendapatkan jawaban dari Donghae.

Donghae tidak mau menghancurkan perasaan Yeri. Gadis itu terlalu baik jika Ia menghancurkan hatinya. Tidak, Donghae tidak ingin membuat perasaannya terluka dengan tidak menuruti keinginannya. Maka dari itu akhirnya Donghae pun mengangguk mengiyakan keinginan Yeri. Bagaimana pun juga meski dirinya belum bisa menerima kepulangan Yeri yang mendadak, Donghae harus tetap menyambut gadis itu. Dan apapun yang terjadi Donghae harus tetap bersamanya karena Yeri adalah seseorang yang harus Ia jaga.

Yeri tersenyum senang begitu Donghae mau menuruti keinginannya. Ia lalu menyandarkan kepalanya di bahu Donghae tanpa melepaskan tangannya dari lengan pria itu sedikitpun. “Kau memang yang terbaik. Aku menyayangimu, oppa!” kata Yeri kemudian. Gadis itu terlihat begitu senang saat ini. Yeri bahkan tidak bisa menahan senyumnya lantaran dirinya terlampau bahagia.

Lain Yeri, lain pula dengan Donghae.

Donghae tidak mengatakan apapun setelah Yeri mengucapkan kalimat tadi. Pria itu hanya diam seraya melemparkan pandangannya keluar jendela. Menatap jalanan kota dengan tatapan sendu. Hanya ada satu nama yang saat ini memenuhi isi kepalanya.

“Kim …”

.

.

Di dalam sebuah kamar yang tidak begitu besar, terlihat seorang gadis tengah bertopang dagu di sisi jendela kamar. Iris cokelatnya tertuju pada sebuah kotak surat yang berada di dekat pagar rumahnya. Tatapan matanya terlihat sendu saat memperhatikan kotak berukuran kecil berwarna merah ranum tersebut.

“Apa suratku tidak sampai padanya? Kenapa Lee belum juga membalasnya?” gumamnya.

Saat ini memang sedang tidak ada objek yang sedang Ia tanyai. Gadis itu berbicara pada dirinya sendiri. Terlihat gelisah saat Ia mengetahui bahwa belum ada kiriman surat dari Seoul padahal dirinya sudah menunggu sejak pagi tadi. Bahkan selama di sekolah pun Ia terlihat begitu gelisah lantaran terus memikirkan balasan yang ditunggunya. Namun sampai hari sudah menjelang sore seperti ini, balasan yang Ia tunggu pun belum juga sampai.

“Apa mungkin dia akan membalasnya besok?” Ia kembali bertanya. “Hm, baiklah. Kalau begitu aku akan menunggunya sampai besok.” ucapnya lagi seraya tersenyum. Mencoba untuk lebih bersabar dan berpikir positif.
Ya, benar. Ia harus lebih bersabar menunggu balasan dari Lee. Ia yakin bahwa Lee akan segera membalas suratnya meskipun akan sedikit terlambat dari yang Ia harapkan.

.

.

To Be Continue.

Advertisements

One thought on “Love Letter #2— Maybe Tomorrow

  1. Pingback: Love Letter #3 — Sweet Strange Feeling | Areumdaun Lee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s