Promise


Kim Joon Myeon.

¶ Title: Promise | Author: Areumdaun Lee | Cast: Kim Joonmyeon, Han Yejin/YOU | Genre: Sad–Angst | Rating: General | Lenght: Drabble ¶

.

.

“Jika aku sudah besar nanti, aku ingin tinggal di Seoul.”

“Tinggal di Seoul?”

“Eum! Aku ingin menjadi orang terkenal di sana. Aku ingin semua orang tahu siapa aku.”

“Maksudmu, kau ingin menjadi artis di sana?”

“Hm, ya .. kurasa seperti itulah.”

“Tapi nanti jika kau sudah menjadi artis dan terkenal di sana, kau pasti akan melupakanku.”

“Ya, kenapa kau berpikir seperti itu?”

“Ibuku bilang, orang-orang yang pergi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan akan selalu berhasil. Tapi kemudian jika orang itu berubah menjadi tamak harta maka dia akan lupa dengan segalanya. Termasuk dari mana dulu dia berasal.”

“Lalu, apa kau benar-benar mempercayai apa yang dikatakan ibumu itu?”

“Tentu saja. Dia kan ibuku. Ibu selalu berkata benar. Dia tidak pernah salah dengan apa selalu Ia katakan.”

“Bagaimana jika Ibumu salah?”

“Maksudmu?”

“Bagaimana jika aku sudah terkenal nanti, aku tidak melupakanmu? Tidak seperti yang di katakan ibumu itu. Aku bisa membuatmu percaya bahwa aku tidak akan menjadi seperti itu.”

“Itu .. I–itu …”

“Yejin–ah.”

“Iya?”

“Ayo kita berjanji.”

“Berjanji? Berjanji untuk apa?”

“Ayo kita berjanji untuk tidak saling melupakan. Apapun yang terjadi, kita harus tetap saling mengenal satu sama lain. Kita harus tetap seperti ini. Bagaimana?”

“Hm, itu terdengar sangat menarik.”

“Jadi bagaimana? Apa kau mau berjanji padaku bahwa kau tidak akan melupakanku. Apapun yang terjadi?”

“Eum, baiklah! Aku berjanji padamu. Aku tidak akan melupakanmu. Tapi kau juga harus berjanji padaku, kau tidak boleh melupakanku. Kau harus terus mengingatku. Setiap hari.”

“Baiklah, baiklah. Iya, aku berjanji tidak akan melupakanmu juga Yejin–ah. Aku berjanji akan terus mengingatmu. Setiap hari. Aku akan melakukannya.”

“Oke. Kalau begitu aku percaya padamu. Calon artis, Kim Joonmyeon.”

“Aish. Yejin, itu terdengar menggelikan. Jangan panggil aku seperti itu.”

“Hahaa, memangnya kenapa? Aku benar ‘kan? Calon Artis Kim Joonmyeon?”

“Ya, sudah kubilang jangan panggil seperti itu! Kau ingin aku menggelitikimu eoh?!”

“Omo! Ya, Joonmyeon–ah! Ya, hentikan!”

“Sini kau, aku akan menggelitikimu sampai kau tidak bisa berhenti tertawa!”

“Ibu, tolong aku! Ya, berhenti menggelitikiku Kim Joonmyeon!”

“Tidak mau! Kau sudah mencari masalah denganku. Han Yejin, mati kau!”

“Tidak. Ibu, tolong aku! Ibuuuu!!!”

.

.

Memori percakapan itu kembali berputar di dalam kepala Joonmyeon saat pria itu sedang berdiri di balkon apartemennya. Percakapannya dengan gadis bernama Han Yejin itu kembali membawanya pada kenangan masa kecilnya. Kenangan dimana Joonmyeon pernah berjanji pada Yejin lima belas tahun lalu.

“Yejin–ah. Bagaimana keadaanmu di sana?” tanya Joonmyeon.

Tatapannya terlihat sendu saat Ia melontarkan pertanyaan itu. Joonmyeon lalu menundukkan wajahnya, menatap sendu sebuah figura kecil di tangannya. Figura tersebut menampakkan foto seorang gadis berseragam sekolah yang sedang tersenyum seraya memeluk erat sebuah boneka beruang berukuran besar. Joonmyeon tersenyum tipis melihatnya.

Joonmyeon ingat, dulu Ia pernah membelikan boneka beruang pada Yejin. Boneka beruang itu Ia berikan pada Yejin saat gadis itu berusia tujuh belas tahun. Joonmyeon membelikannya sebagai kado ualng tahun Yejin sekaligus sebagai tanda terima kasihnya karena Yejin selalu mendukung apapun yang Joonmyeon inginkan. Bahkan sampai Joonmyeon berhasil meraih impiannya menjadi seorang artis pun, Yejin masih terus mendukungnya.

“Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu, Han Yejin.”

Joonmyeon kembali tersenyum tipis. Pria itu lalu tertunduk, Ia memejamkan matanya dan detik berikutnya sebuah kristal bening pun berhasil lolos dari pelupuk matanya. Joonmyeon menangis. Ia tidak bisa menahan air matanya lebih lama lagi saat memori tentang Yejin kembali memenuhi pikirannya. Sosok Yejin terus berputar di kepalanya bagai sebuah slide video hitam putih. Membuat Joonmyeon semakin tidak bisa menghentikan air matanya. Dan itu membuat dirinya semakin sesak saat Ia semakin larut dalam kenangan tersebut.

“Kau lihat ‘kan, aku tidak melupakanmu. Aku masih mengingatmu seperti saat aku berjanji padamu dulu. Aku menepati janjiku, Yejin-ah. Dan—” ucap Joonmyeon seraya mengusap permukaan kaca figura di tangannya. Ia menggantung kalimanya lalu Joonmyeon mendongakkan wajahnya. Ia tersenyum menatap langit cerah malam ini, kemudian Joonmyeon kembali melanjutkan ucapannya. “Aku mencintaimu, Han Yejin.”

Joonmyeon menghela napas, pria itu lalu kembali mengalihkan irisnya pada figura yang dipegangnya. Joonmyeon tersenyum tipis mengingat Yejin juga pernah mengatakan bahwa gadis itu ingin tinggal bersamanya saat Ia sudah berhasil di Seoul.

“Aku harap aku bisa bersamamu saat ini, Yejin–ah. Tapi kurasa tempatmu sekarang pasti jauh lebih baik daripada di sini.”

Semoga kau tenang di sana. Han Yejin.

.

.

.

*Fin*

Advertisements

2 thoughts on “Promise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s