There Is A Place


KRIS

¶ Title: There Is A Place | Author: Areumdaun Lee | Cast: Kris Wu, Moon Jia/YOU, Xi Luhan | Genre: Sad—Romance | Rating: General | Lenght: Oneshoot ¶

.

©AL_2016

.

Aku kembali menoleh ke arah jam weker yang berada di atas meja nakas di samping tempat tidur, kembali menatap jarum jam di sana yang kini sudah menunjukkan pukul 09.30 a.m. Itu berarti sudah setengah jam lalu sejak aku ‘mengurung diri’ di dalam kamarku setelah pertengkaran kami beberapa saat lalu.

Aku benci seperti ini.

Aku benci mengurung diriku setelah aku tidak sanggup lagi memperpanjang argumen kami yang memang pada akhirnya tidak akan ada satu pun dariku atau dirinya yang mau mengalah. Sungguh, hal ini membuatku merasa jadi gadis bodoh sekarang. Aku merasa bodoh karena diriku terlihat seperti sengaja menghindar darinya.

Dua detik kemudian aku mendengar pintu kamarku di ketuk. Aku pun lantas mengalihkan pandanganku ke arah pintu berwarna putih susu itu saat setelahnya suara ibuku terdengar di luar sana.

“Jia-ya, keluarlah .. jangan seperti ini.” suara ibuku terdengar seperti tengah memohon padaku, memintaku untuk tidak mengurung diri seperti ini. “Apa kau tidak ingin menemuinya sebelum dia pergi? Pesawatnya akan berangkat kurang dari dua jam. Keluarlah, nak. Keluar dan cepat temui dia sebelum terlambat.”

Aku masih bisa mendengar suara isak tangis ibuku di luar sana. Wanita itu pasti masih menangisi keadaanku saat ini, berusaha membujukku agar aku melawan egoku untuk tidak terlalu keras kepala dan kemudian menuruti ucapannya untuk menemui ‘dia’ yang kutahu akan segera pergi dalam waktu kurang dari dua jam lagi.

“Jia, ibu tahu kalian sedang bertengkar. Tapi tolong jangan seperti ini di saat dia akan pergi. Kalian harus bertemu dan bicara. Keluarlah, nak .. ibu mohon keluarlah dari kamarmu.”

Lagi, suara ibuku kembali terdengar di indera pendengaranku. Tangis wanita setengah baya itu semakin terdengar pilu di telingaku, membuatku yang mendengarkannya ikut larut dalam perasaan yang dirasakan oleh ibuku. Aku menangis. Aku menangis saat wanita itu terus saja memohon padaku dan terus membujukku tanpa merasa jengah sedikitpun setelah segala usahanya tidak ada yang kutanggapi satu pun.

Tapi setelah aku mendengarkan ucapan ibuku tadi, aku kemudian berpikir tentang apa yang akan terjadi padaku jika aku terus bersikap seperti ini dan hanya terus menuruti egoku membuatku kemudian tersadar bahwa apa yang diucapkan oleh ibuku itu adalah benar. Dan saat pikiranku kini dipenuhi oleh satu nama yang amat kukenal tanpa sadar air mataku malah semakin deras mengalir, napasku bahkan mulai terasa sesak lantaran aku berusaha menahan tangisku agar ibuku tidak mengetahuinya. Namun percuma saja, nama itu terlalu nyata di dalam pikiranku dan membuatku yang semakin memikirkannya semakin teringat dengannya. Bayangan akan dirinya yang terasa semakin jelas di dalam pikiranku, membuat ketakutan tiba-tiba muncul di dalam benakku.

“Tidak! Ini tidak boleh terjadi!” aku menghapus air mataku dengan gerakan kasar. Menggeleng tegas ketika sebuah kemungkinan yang kutakutkan mulai mempengaruhi pikiranku. “Kau tidak boleh pergi. Kau tidak boleh meninggalkanku begitu saja, Kris!” gumamku saat perasaan takut dan kesal mulai menguasai hatiku.

Tiga detik berikutnya aku pun segera turun dari tempat tidur dan berjalan dengan langkah cepat menuju lemari pakaian, menyambar mantel hitamku dengan gerakan kasar lalu memakainya dengan cepat. Setelah itu aku pun kembali melangkah dengan terburu-buru menuju pintu, membuka pintu kamarku hingga membuat ibuku yang masih berada di sana terkejut melihat kemunculan diriku di hadapannya.

“Jia-ya ..”

“Ibu, aku akan pergi. Aku pergi sekarang.” ucapku cepat sebelum ibuku sempat mengatakan sesuatu. Aku mengecup kening wanita setengah baya itu lebih dulu sebelum akhirnya aku kembali melanjutkan langkahku. Dengan cepat aku berusaha untuk segera sampai di satu tempat yang kutahu dimana dirinya mungkin saja sedang berada di sana. Aku harus cepat, aku harus cepat menemuinya sebelum dia benar-benar pergi seperti yang dikatakan ibuku.

.

.

“Dimana Kris?”

Pertanyaan itulah yang pertama kali terlontar dari bibirku saat aku baru saja sampai di rumah orang yang kucari. Adalah Luhan— sepupu Kris, pria yang berdiri di ambang pintu berwarna cokelat metalik itu nampak terkejut dengan kehadiranku, Ia terlihat tidak percaya jika aku benar-benar berada di hadapannya saat ini.

“Ji—Jia–ya?”

“Luhan jawab aku, dimana Kris?! Aku harus bertemu dengannya. Cepat katakan dimana dia?!” aku mulai tidak sabaran. Aku mengguncang-guncangkan bahu Luhan agar pria itu mau menjawab pertanyaanku.

Luhan lalu melepaskan tanganku dari bahunya, pria itu menghela napas pendek lalu menjawab. “Maaf Jia, aku tidak tahu.”

“Apa?”

Luhan berdecak pelan, tampak frustasi di tempatnya berdiri, “Sungguh, aku benar-benar tidak tahu dimana Kris sekarang. Aku sendiri panik saat dia tiba-tiba pergi meninggalkan rumah sejak pagi padahal hari ini kami akan kembali ke Jinan dan waktu penerbangan kita hanya tersisa kurang dari dua jam lagi.” jelas Luhan seraya meremas rambutnya, gemas.

Selesai menjelaskan ketidakhadiran Kris padaku, tiba-tiba Luhan merogoh saku celananya, rupanya ada satu pesan masuk di ponselnya. Pria itu lalu menatapku dengan mata membola. “Dari Kris!” serunya antusias, kemudian kembali menatap ponselnya. Luhan mulai membaca pesan singkat dari Kris.

“Luhan, aku masih di tempat rahasiaku. Aku akan pulang sebentar lagi.” Luhan membacakan pesan singkat Kris, pria itu kini tampak begitu lega setelah Ia membaca pesan Kris tersebut. Ia lalu menoleh ke arah ku kemudian berucap. “Dia akan segera pulang, masuklah. Lebih baik menunggu di dalam saja.” ucap Luhan seraya menawariku untuk masuk ke dalam rumah.

Aku menggeleng, menolak halus tawarannya. “Tidak. terima kasih.” jawabku. “Aku rasa lebih baik jika aku segera menemuinya sekarang. Aku tahu dimana tempat rahasia yang dimaksud oleh Kris itu.” ucapku lagi seraya tersenyum pada Luhan dan setelah itu aku pun pamit padanya.

“Jia! Y—ya, Moon Jia! Hati-hati!”

Seruan Luhan baru terdengar saat aku sudah berlari menjauh dari rumahnya, aku hanya tersenyum lebar saat mendengarnya. Langkahku semakin cepat saat aku kembali memikirkan Kris, bayangan pria itu kembali terlintas jelas di dalam kepalaku.

“Tunggu aku, Kris. Tunggu aku ..” gumamku pelan bersamaan dengan sebuah kristal bening yang saat itu berhasil lolos dari pelupuk mataku. Mengetahui keberadaannya saat ini membuatku meyakini bahwa aku memang harus bertemu dengannya sebelum terlambat. Aku tidak boleh kehilangannya. Tidak boleh sama sekali.

“Tunggu aku, Kris. Kumohon, sebentar saja. Tunggu aku ..”

.

.

Napasku tersenggal saat aku baru saja sampai di sebuah taman yang jaraknya memang tidak dekat dengan rumah Luhan tadi. Tempat ini memang terasa jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki, dan sialnya aku harus berlari untuk sampai di tempat ini tepat waktu.

Aku mencoba untuk mengatur napasku seraya mengedarkan pandanganku ke seluruh taman, mencari sosok yang beberapa saat lalu membuatku bertekad untuk tidak menemuinya. Tapi apa yang terjadi sekarang? aku terlihat semakin bodoh saat diriku tidak bisa menepati ucapanku sendiri. Aku pergi menemuinya sekarang.

Saat aku melihat jarum jam pada jam tangan yang melingkar di tanganku, aku semakin gelisah mengingat waktu yang kupunya tidaklah banyak. Perasaanku menjadi semakin resah saat kemungkinan-kemungkinan yang kutakutkan itu kembali menghantui pikiranku. Membuatku kini entah kenapa merasa sedikit takut dengan keadaan yang kuhadapi saat ini.

“Dimana kau? Apa kau benar-benar berada di taman ini?” tanyaku entah pada siapa saat aku menyapukan iris mataku ke seluruh taman. Kulit keningku bertaut samar ketika menyadari sesuatu di sana. “Kenapa harus taman ini, Kris? Kenapa kau datang ke tempat kita pertama kali bertemu di saat kau akan pergi meninggalkanku?” aku memandang nanar ke seluruh taman. Tempat ini mengingatkan banyak hal padaku. Tempat dimana semuanya berawal, tempat dimana aku dan dirinya bertemu untuk pertama kalinya. Di sini, di taman ini. Semua cerita yang kubangun bersama Kris hingga saat sebelum aku dan dirinya sering bertengkar dan menjadi tidak pernah memiliki waktu untuk mengunjungi taman ini lagi.

“Jia?”

Aku tertegun saat sebuah suara yang amat kukenal masuk ke dalam indera pendengaranku. Membuatku perlahan memberanikan diri untuk memutar tubuhku menghadap pemilik suara itu, dan benar saja seperti dugaanku. Dirinya memang benar-benar datang ke taman ini.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya beberapa detik kemudian. Pria itu terlihat heran melihatku berada di tempat yang sama dengannya. Kris lalu berjalan ke arahku, langkahnya terlihat tenang seakan Ia tidak ingat dengan apa yang terjadi antara aku dan dirinya beberapa saat lalu. Ia seolah lupa bahwa kami sempat bertengkar di rumahku beberapa jam lalu.

Kris sudah berada tepat di hadapanku, pria itu tampak sedikit menggigil saat angin menerpa tubuhnya. “Di sini dingin. Kenapa kau tidak memakai topi hangatmu? Dan .. ini, kenapa kau juga tidak memakai sarung tanganmu? Kau mau mati kedinginan eoh?”

Aku menunduk saat Kris meraih tanganku kemudian menggenggamnya. Kris benar, aku tidak memakai sarung tangan dan topi hangatku. Astaga, aku pasti lupa mengambilnya tadi. Kris lalu menggosokkan kedua telapak tangannya kemudian menangkupkannya pada kedua pipiku untuk membuat kulit wajahku terasa hangat. Aku hanya diam saja dan terus menatapnya saat rasa hangat dari tangannya mulai menjalari kulit wajahku. Pandangan pun kami sempat bertemu sekilas saat Ia menangkup wajahku.

“Apa yang kau lakukan di sini? Kenapa di cuaca seperti ini kau tidak bisa tinggal di rumahmu dan malah keluyuran seperti ini eoh?”

Kris kembali menggosok telapak tangannya. Ia lalu menggenggam tanganku dan meniupkan udara ke dalam genggamannya. Lagi-lagi saat Ia mencoba untuk menghangatkanku, aku hanya diam saja dan terus memperhatikan gerak-geriknya. Aku terus memperhatikan setiap gerakan yang diperbuat Kris. Caranya menggosokkan kedua telapak tangannya, menangkupkan tangannya di wajahku, lalu sekarang Ia meniupkan udara hangat ke dalam genggaman tanganku membuatku tidak ingin lepas darinya. Bahkan saat Kris bicara pun aku enggan untuk membuka suara karena memang saat ini aku hanya ingin melihatnya. Aku hanya ingin memperhatikannya dalam diam, hanya itu.

Lalu saat hening menyelimuti kami berdua, tanpa sadar aku merasakan kedua manik mataku memanas dan di saat yang bersamaan aku pun langsung mengalihkan pandanganku dari wajahnya. Mencoba untuk menghindarinya agar Ia tidak mengetahui mataku sedang berkaca-kaca. Aku terus menghembuskan napas kasar saat dadaku tiba-tiba mulai terasa sesak lantaran air mata yang kutahan malah terasa semakin memenuhi pelupuk mataku. Dan Kris yang melihat gelagatku seperti itu merasa curiga kemudian Ia pun menatapku seraya bertanya.

“Hei, kau menangis?” Kris menyentuh daguku, memintaku untuk menatapnya. “Ada apa? Kenapa kau menangis?” tanyanya seraya terus menatapku, mencoba untuk mendapatkan jawabannya atas pertanyaannya tersebut.

Aku hanya menggeleng pelan menjawab pertanyaannya. Aku tidak bisa mengatakan sepatah kata pun saat Kris menanyakanku seperti itu. Rasanya sangat sesak ketika aku memikirkan jawabannya di dalam pikiranku, aku benar-benar tidak sanggup menjawab pertanyaannya. Dan detik itu juga saat Kris terus menatapku, aku tidak sanggup menahan air mataku lebih lama hingga akhirnya aku pun menangis. Aku langsung menundukkan wajahku dari Kris karena aku tidak mau Ia melihatku menangis seperti ini.

“Jia, ada apa? Katakan padaku. Kenapa kau menangis, hm? Apa aku melukaimu?” tanya Kris lagi.

Sungguh, kali ini pertanyaan Kris tidak membuat suasana hatiku membaik. Ia justru malah semakin membuatku merasa bersalah saat dirinya terus menanyakan kenapa aku seperti ini. Lagi-lagi aku pun kembali menggeleng menjawab pertanyaannya. Namun masih dengan wajah tertunduk aku terus menangis lantaran air mataku tidak bisa kukontrol.

Kris menghela napas pelan. Ya, aku bisa mendengarnya menghela napas di depanku dan itu membuatku hanya bisa terus tertunduk di hadapannya. Aku takut jika aku menatap wajah Kris aku justru malah akan semakin menangis tidak karuan. Dan di detik berikutnya aku bisa merasakan sebuah tangan menggenggam lembut bahuku kemudian menarik tubuhku, membuat rasa hangat kini menyelimuti tubuhku. Aku tertegun saat menyadari bahwa Kris tengah memelukku sekarang.

Ya, Kris memelukku.

Ia memelukku dengan erat seolah Kris mencoba untuk menenangkan diriku dan berharap jika Ia memelukku maka itu akan menghentikan tangisku, tapi itu justru membuatku malah semakin terisak di dalam dekapannya. Merasakan Kris memelukku dengan erat, aku pun lantas melingkarkan tanganku di pinggangnya dan menangis sejadinya di pelukannya. Aku membenamkan wajahku di permukaan dada bidangnya. Dan tangisku semakin menjadi saat aku merasakan tangan kokoh itu semakin menarik tubuhku ke dalam dekapannya.

“Maafkan aku. Maafkan aku, Jia. Sungguh, maafkan aku.” Suara Kris terdengar lirih ketika Ia mengatakan kalimat itu dan itu membuatku refleks menggeleng ketika mendengarnya.

“Maaf karena semua yang sudah kulakukan padamu telah menyakitimu. Maaf  karena aku tidak bisa menjadi pria yang baik untukmu dan hanya bisa membuatmu menangis. Maaf karena aku tidak bisa bersikap lembut padamu dan hanya ingin menang sendiri. Maaf karena semua keegoisanku, aku membuatmu terus menangis. Maaf karena semua keegoisanku, aku membuat hubungan ini semakin berantakan. Maaf—“

“Hentikan. Kumohon, hentikan Kris.” Aku semakin terisak ketika terus mendengarkan Kris mengucapkan maaf padaku. Aku kembali menggeleng kemudian melanjutkan. “Sudah cukup. Aku tidak mau mendengar semua kata maafmu lagi.”

“Jia–ya ..”

Aku melepaskan pelukan kami dan menatap Kris dengan tatapan nanar. “Cukup! Aku bilang aku tidak mau mendengarkan maafmu lagi, Kris! Berhenti minta maaf padaku! Aku tidak suka saat kau terus mengatakan itu padaku. Kau tidak melakukan kesalahan apapun, jadi kumohon berhentilah minta maaf, Kris.”

“Kau sudah melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Kau juga sudah melakukannya dengan sangat baik. Dan kau benar, kau memang terus membuatku menangis tapi itu bukan satu-satunya alasan bahwa kaulah yang menyebabkan hubungan ini berantakan, Kris. Masih ada aku, Kris. Semua ini terjadi karena aku juga yang menjadi penyebab kenapa hubungan kita tidak seperti dulu. Aku juga sama sepertimu, Kris. Aku juga memiliki ego yang besar dan hanya ingin menang sendiri dan karena itulah kita sering bertengkar.”

Aku lantas meraih tangannya dan mengenggamnya. “Jadi kumohon padamu, mulai sekarang jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Apapun yang terjadi pada hubungan kita, itu karena kesalahan kita berdua. Aku tidak mau kau terus menyalahkan dirimu sendiri sementara aku tidak dilibatkan di dalamnya. Untuk itu, mulai sekarang kau juga harus berhenti minta maaf padaku. Dengan begitu kita bisa sama-sama merubah sikap egois masing-masing dan saling mengerti satu sama lain untuk ke depannya. Mengerti?” lanjutku seraya tersenyum padanya.

Kris menatapku dalam diam dan hanya mendengarkan semua perkataanku, pria itu tidak menyahuti ucapanku ketika aku bicara seperti itu padanya. Kris kembali menangkup wajahku, menghapus air mataku dan mengelus lembut permukaan kulit wajahku lalu mengangguk pelan. Ia kemudian mengecup keningku, membuatku refleks menutup kedua mataku dengan perlahan ketika kurasakan bibirnya menyentuh lembut keningku.

Setelah Kris mengecup keningku cukup lama, Ia lalu kembali memelukku. Aku pun membalas pelukannya dengan tak kalah erat. Hening pun menyelimuti kami berdua dan di saat yang bersamaan air mataku kembali jatuh ketika aku menyadari bahwa kami mengakui kesalahan yang kami perbuat satu sama lain. Hal itu membuatku merasa lega sekarang. Rasanya aku sudah bisa kembali bernapas dengan baik.

“Aku mencintaimu, Jia.” ucap Kris seraya mengecup kepalaku.

Aku tersenyum mendengar ucapannya lantas mengangguk mengiyakan. “Aku juga mencintaimu, Kris.”

.

.

“Kau ingat apa yang tadi kukatakan padamu ‘kan?”

Hm, aku ingat.”

“Setelah ini aku tidak bisa menemuimu lagi untuk beberapa waktu ke depan dan mungkin ini juga akan lebih menyakitimu karena aku tidak bisa membatalkan semuanya. Tapi kau jangan khawatir, Jia. Aku janji aku akan kembali lagi ke sini dan menemuimu. Aku janji begitu semua urusan keluargaku di Jinan sudah selesai maka aku akan langsung menemuimu di rumah. Aku janji setelah aku kembali, aku akan mengganti semua waktu yang terlewat dan aku juga janji akan kembali membawamu ke taman itu setiap akhir pekan seperti yang pernah kita lakukan dulu.”

“Kalau begitu aku akan menunggumu.”

Huh?”

“Iya. Kau bilang setelah semua urusanmu selesai kau akan kembali, jadi aku akan menunggumu sampai hari itu tiba. Aku akan menunggumu pulang dan aku juga akan menunggu janjimu untuk membawaku ke taman itu lagi.”

“Jia–ya ..”

“Tenang saja, ini bukan masalah besar bagiku. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, aku akan baik-baik saja, Kris.”

“Kau yakin kau akan baik-baik saja?”

Eum! Aku yakin.”

“Tapi bagaimana jika—”

“Ya, Kris Wu! Kau pikir aku tidak bisa mengurus diriku sendiri? Apa kau meragukanku karena aku kelihatan tidak bisa ditinggal olehmu eoh? Aish! Tenang saja. Jika kubilang aku akan baik-baik maka aku akan baik-baik saja. Percayalah.”

Lagi, kami kembali berdebat di saat-saat terakhir waktu keberangkatan Kris tiba. Aku dan Kris sama-sama tidak mau mengalah saat aku mencoba meyakinkan dirinya yang meragukan keadaanku setelah Ia pergi. Kris, benar-benar .. ugh!

“Baiklah, baiklah! Aku percaya padamu.” Kris menatapku kesal. Pria itu mencibir pelan ketika melihatku tersenyum puas mendengar jawabannya. Kris lalu menangkup wajahku kemudian berucap. “Selama aku tidak ada di sampingmu, jaga dirimu baik-baik dan menurutlah pada ibu. Mengerti?”

Eum! Okay.” jawabku seraya mengacungkan ibu jariku dan melemparkan wink padanya.

Kris hanya terkekeh melihat reaksiku seperti itu, Ia lalu mencium bibirku dengan singkat. Membuatku terkejut dengan sikapnya tersebut tapi setelahnya kami berdua pun menertawakan tingkah kami.

“Kris! Ayo berangkat!” seru Luhan dari kejauhan.

Aku dan Kris sontak menoleh ke arah Luhan yang sedang berjalan menghampiri kami. Luhan baru saja kembali dari toko untuk membeli beberapa makanan ringan yang akan mereka bawa selama penerbangan ke Jinan nanti.

Kris kembali menoleh padaku. “Jia, aku berangkat sekarang.” ucapnya seraya mengacak pelan puncak kepalaku. “Aku mencintaimu.” lanjutnya lagi seraya mengecup lembut keningku.

Aku kembali tersenyum mendengar ucapannya kemudian memeluknya. “Aku juga mencintaimu, Kris.” jawabku.

Luhan yang berdiri di depan kami langsung berdecak ketika melihat aku dan Kris sedang berpelukan. “Hei, hei, hei! Apa yang kalian lakukan? Waktu take off sudah hampir tiba, jadi cepat lepaskan pelukan kalian.” protes Luhan.

Mendengar protes yang layangkan Luhan, aku dan Kris pun terkekeh kemudian melepaskan pelukan kami karena tidak ingin melihat pria itu semakin jengkel lantaran merasa cemburu melihat kehangatan hubunganku dan Kris. Setelah melepaskan pelukanku, kini aku beralih memeluk Luhan. Ia terkejut saat aku memeluknya.

“Y–ya! Ya, Moon Jia apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku, Ya! Kris—”

“Diam saja. Aku memelukmu karena aku merasa kasihan padamu, Luhan.”

“Apa?! Ya!—”

“Kau sepupu Kris ‘kan? Berarti kau juga sepupuku.” aku memeluk Luhan dengan erat kemudian melanjutkan. “Kau akan juga kembali ke Jinan dan itu membuatku sedih. Aku juga pasti akan sangat merindukanmu, Luhan.”

Aku lalu melepaskan pelukanku, menatap Luhan dengan sedih. “Tolong jaga Kris di sana dan cepatlah kembali ke sini jika semuanya sudah selesai. Hm?”

Luhan tidak langsung menyahuti ucapanku, pria itu malah mengalihkan fokusnya ke arah Kris. Luhan menatap Kris dengan tatapan bingung, berharap sepupunya itu tahu apa yang harus Ia lakukan. Dan Kris yang melihat ekspresi bingung di wajah Luhan hanya mengangguk, memberikan tanda bahwa Luhan hanya harus menurut saja pada apa yang kukatakan padanya.

Luhan kemudian kembali menoleh padaku lantas mengangguk, “Baiklah, aku juga akan kembali ke sini begitu urusan kami di Jinan selesai. Aku akan kembali menemuimu, Moon Jia.” ucapnya seraya tersenyum di akhir kalimatnya. Luhan bahkan mencubit kedua pipiku, membuatku refleks tersenyum lebar padanya.

Kemudian setelah Kris dan Luhan pamit, keduanya pun lantas meninggalkan tempat mereka berdiri. Aku terus tersenyum ke arah mereka saat kulihat punggung mereka mulai menjauh dariku. Dan saat mereka sudah nyaris menghilang dari pandanganku, aku melihat Kris dan Luhan sama-sama berbalik menghadapku lantas melambaikan tangan ke arahku. Masih tersenyum, aku pun balas melambaikan tanganku ke arah keduanya. Bahkan meskpun jarak mereka sudah sangat jauh dari tempatku berdiri tapi aku melihat Kris dan Luhan tersenyum ketika aku membalas lambai tangan mereka.

“Jaga diri kalian di sana. Aku benar-benar akan merindukan kalian berdua. Kris Wu, Xi Luhan.” gumamku seraya masih tersenyum saat mereka sudah benar-benar menghilang dari pandanganku.

.

.

.

*Fin*

Makasih udah baca dan Sorry for bad fanfict.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s