Why, So Serious?


Yeollie

¶ Title: Why, So Serious? | Author: Areumdaun Lee | Cast: Park Chanyeol, Kim Yeonri/YOU | Genre: Fluff–Romance | Rating: General | Length: Oneshoot ¶

.

©AL_2016

.

“Chanyeol, kau sedang apa?”

“Hm.”

“Chanyeol, kau mendengarku ‘kan? Kau sedang apa?”

“Hm.”

“Ya, kau ini kenapa? Serius sekali di sana, apa kau sedang membuat sesuatu eoh?”

“Hm.”

“Benarkah? Apa yang sedang kau buat? Apa kau sedang membuat sketsa? Lukisan? Atau .. ah, kau pasti sedang menggambar diriku! Iya ‘kan?”

“…….”

“Chanyeol, kenapa tidak menjawabku? Kau sedang membuat gambar diriku ‘kan?”

“…….”

“Ya, Park Chanyeol! Jawab ak—”

“Tidak.”

Jleb! Jawaban Chanyeol detik itu juga langsung membuat pergerakan tangan Yeonri terhenti ketika gadis itu baru saja berniat ingin melempar Chanyeol dengan salah satu pensil warna yang berserakan di atas meja. Yeonri mematung di tempat duduknya, kedua manik cokelatnya terlihat tercengang ketika mendengar kata itu berhasil lolos dari bibir Chanyeol.

Yeonri lalu menatap Chanyeol dengan tatapan bingung, kedua alisnya bahkan sampai bertaut ketika tahu ternyata Chanyeol tidak memberikan jawaban sesuai yang Ia harapkan. Gadis itu kemudian kembali menurunkan tangan kanannya yang tadi menggantung di udara dengan gerakan perlahan, Ia lalu menyandarkan bahunya pada sandaran kursi dengan lemah. Sungguh, jawaban Chanyeol barusan benar-benar memberi efek lebih pada Yeonri karena gadis itu tadi mengharapkan bahwa Chanyeol memang sedang membuatkan sesuatu untuknya tapi ternyata itu hanya imajinasi kekanak-kanakannya saja.

“Tidak?” ulang Yeonri.

Chanyeol langsung mengangguk begitu mendengar Yeonri kembali mengulangi jawabannya beberapa detik lalu. Pria itu bahkan tidak menoleh ke arah Yeonri sedikit pun ketika Ia mengangguk, Chanyeol hanya terus menundukkan wajahnya, benar-benar serius menikmati waktunya sendiri tanpa mempedulikan bagaimana perasaan gadis yang duduk di seberangnya.

Yeonri merasa kecewa. Sungguh.

Seharusnya tadi Ia tidak usah bertanya apa yang sedang dilakukan pria jangkung itu di depannya, seharusnya tadi Yeonri tidak usah terlalu berharap bahwa Chanyeol akan membuatkan sesuatu untuknya, seharusnya— ah .. tidak, sudah cukup! Yeonri tidak mau melanjutkannya lagi. Membayangkan bagaimana bodoh dan konyol dirinya saat ini di hadapan Chanyeol membuat Yeonri tidak bisa lagi berpikir jernih. Yang Ia tahu saat ini dirinya sedang dikesampingan dulu oleh kesibukkan Chanyeol bersama semua benda berwarna-warni di tangan Chanyeol dan hal itu benar-benar membuat Yeonri merasa kecewa pada pria bermarga Park tersebut. Sungguh, karena tidak biasanya Chanyeol akan mengabaikannya seperti ini. Memalukan!

Yeonri tetap bergeming di tempatnya, gadis itu sama sekali tidak berniat untuk bangun dan memilih tempat duduk lain di meja yang berbeda. Tidak, Yeonri tidak akan pindah dari tempat duduknya walau hanya semenit pun. Gadis itu bertekad untuk menunggui Chanyeol sampai pria itu selesai dengan aktivitasnya bersama semua pensil warna di tangannya. Ya, Yeonri akan dengan sungguh-sungguh menunggui Chanyeol di sana.

Sepuluh menit kemudian.

Keadaan masih sama seperti saat Yeonri baru datang dan menanyai Chanyeol, belum terlihat ada tanda-tanda bahwa Chanyeol akan selesai dengan aktivitasnya itu. Yeonri cemberut. Semakin tidak mengerti dengan sikap Chanyeol yang menurutnya terlalu kekanak-kanakkan— sekarang dia juga menyebut Chanyeol kekanak-kanakkan. Tapi Yeonri tidak boleh menarik kesimpulan terlalu cepat, Ia masih harus menunggui Chanyeol sampai si jangkung itu benar-benar selesai. Yeonri lalu memutuskan untuk menyibukkan dirinya juga sembari menunggui Chanyeol, gadis itu kemudian mengambil salah satu pensil warna yang berserakan di atas meja dan mulai mencoret-coret selembar kertas yang diambilnya dari bagian tengah buku tulisnya.

Sepuluh menit berlalu lagi.

Lagi-lagi Yeonri tidak menemukan tanda-tanda Chanyeol sudah selesai, pria itu masih ada di depannya dan Chanyeol masih memegang pensil warna di tangannya. Pria itu bahkan menggunakan dua jenis pensil warna berbeda sekarang yang sesekali Ia gunakan secara bergantian. Tidak hanya itu, Chanyeol bahkan terlihat berbeda dengan sepuluh menit yang lalu. Yeonri menangkap sesuatu yang aneh di wajah Chanyeol, sesuatu yang sontak membuat Yeonri langsung merasa curiga padanya.

Chanyeol tersenyum!

Yeonri bisa melihat itu dengan jelas dari tempat duduknya meskipun Chanyeol menundukkan wajahnya di sana. Ya, pria itu benar-benar tersenyum tadi! Tidak salah lagi, Yeonri tidak mungkin salah tangkap bahwa beberapa detik lalu Chanyeol menarik kedua sudut bibirnya. Tapi .. kenapa Chanyeol tersenyum? Rasanya Yeonri tidak menemukan sesuatu di sekitarnya yang membuatnya tersenyum seperti yang dilakukan pria itu. Alis Yeonri lantas bertaut, gadis itu menatap Chanyeol dengan tatapan curiga. Apa Chanyeol sedang memikirkan gadis lain saat ini? Apa sesuatu yang sedang dibuat Chanyeol saat ini adalah sesuatu yang akan Ia berikan pada gadis lain nantinya? Apa Chanyeol tersenyum karena dia memikirkan bagaimana ekspresi gadis yang nanti akan menerima hasil guratan tangannya itu?

Ugh! Yeonri meremas pensil warna di tangannya. Raut wajahnya terlihat semakin cemberut ketika memikirkan berbagai macam spekulasi kini memenuhi isi kepalanya. Bagaimana jika semua kecurigaannya itu benar? Bagaimana jika Chanyeol memang seperti itu? Bagaimana jika Chanyeol memang benar-benar sedang memikirkan gadis lain saat ini? Aaaaaaa!!! … Yeonri meringis, Ia langsung menggelengkan kepala dengan tegas. Menepis kuat-kuat kebenaran itu dan membuang jauh-jauh kecurigaannya pada Chanyeol. Tidak, itu tidak mungkin. Chanyeol-nya tidak mungkin seperti itu, Ia tidak mungkin akan setega itu padanya. Ya, Chanyeol tidak mungkin seperti itu padanya. Tidak mungkin dan tidak akan pernah.

Cepat-cepat Yeonri meraih ponselnya dan menyambungkan earphone-nya, lalu memasangkannya ke telinganya. Yeonri kemudian mulai mencari salah satu lagu di dalam daftar putarnya dengan gerakan tidak sabaran dan begitu Ia berhasil menemukan lagu yang diinginkan, Yeonri langsung memutarnya dengan volume yang nyaris full. Gadis itu kemudian menelungkupkan wajahnya di atas kedua lengannya, Ia memejamkan matanya erat-erat seraya bibirnya ikut menggumamkan lagu yang didengarnya.

.

.

Empat puluh lima menit kemudian.

Yeonri terbangun saat Ia mendengar ponselnya menjerit dengan keras, rupanya ada sebuah panggilan masuk. Tanpa melihat nama si penelpon Yeonri pun langsung menggeser ikon hijau di layar ponselnya dan setelah itu sebuah suara berat yang amat dikenalnya masuk ke dalam indera pendengarannya.

“Apa kau tidur dengan nyenyak, Nona Kim Yeonri?”

Yeonri menoleh ke belakang begitu menyadari bahwa suara itu terasa dekat dan ternyata benar, si pemilik suara tersebut memang sedang berdiri di belakangnya. Dia tersenyum padanya.

“Chanyeol?”

Chanyeol hanya tersenyum melihat ekspresi bingung di wajah Yeonri. Pria itu lantas menarik kursi di sebelah kanan Yeonri kemudian duduk menghadap gadis itu. Chanyeol lalu memutuskan panggilan teleponnya dan memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celananya. Setelah itu Ia kembali mengarahkan maniknya pada gadis yang sejak satu jam lalu masih berada di tempat duduknya, menungguinya. Tangan kanannya bergerak ke wajah Yeonri, melepaskan sebuah kertas yang tanpa disadari oleh Yeonri ternyata sudah menempel di pipinya ketika Ia terbangun tadi.

“Kau pasti lelah menungguku, jadi aku tanya apakah kau tidur dengan nyenyakhm?” tanya Chanyeol lagi. Pria itu menyeka beberapa helai rambut yang menutupi pipi Yeonri lalu mengusap pelan permukaan kulit wajahnya.

Yeonri mengerjap pelan ketika merasakan gerakan tangan Chanyeol menyentuh lembut wajahnya, kedua alisnya kemudian bertaut saat memikirkan pertanyaan Chanyeol tadi. “Tidur?” gumam Yeonri. Tidak ingat jika tadi dirinya memang sempat tertidur waktu menunggui Chanyeol, Ia pasti tertidur saat mendengarkan lagu dengan volume penuh beberapa saat lalu.

Chanyeol mengangguk, pria itu pun menjelaskan bagaimana Yeonri tertidur selama Ia sibuk dengan aktivitasnya di seberang tempat duduk Yeonri. Chanyeol minta maaf karena tadi sempat mengabaikannya dan tidak menatapnya sebentar lantaran terlalu fokus dengan apa yang dia kerjaan, Chanyeol juga menjelaskan bahwa apa yang Ia kerjakan tadi sebenarnya adalah untuk Yeonri. Chanyeol benar-benar terlihat sangat menyesal telah membuat Yeonri menunggu begitu lama sampai akhirnya Ia membuat Yeonri tertidur karena dirinya. Dan dengan semua penjelasan serta perminta maaf yang diucapkan oleh Chanyeol, Yeonri pun sudah tidak merasa kecewa lagi melainkan gadis itu kini merasa bersalah pada Chanyeol karena sudah memikirkan hal yang bukan-bukan tentang pria itu.

“Mana hasilnya? Berikan padaku.” pinta Yeonri kemudian setelah Chanyeol selesai menjelaskan semuanya. Gadis itu menadahkan kedua tangannya di depan Chanyeol. Membuat pria itu langsung mengerutkan keningnya.

“Hasil apa?” tanya Chanyeol, pura-pura tidak mengerti dengan permintaan Yeonri.

“Itu ..”

“Itu apa?”

“Sketsa yang kau buat.”

“Aku tidak membuat sketsa apapun.” jawabnya seraya menggelengkan kepala.

“Yasudah, lukisanmu. Sini, berikan padaku.”

Chanyeol kembali menggeleng. “Aku juga tidak membuat lukisan apapun, Yeonri–ya.”

Yeonri langsung menurunkan kedua tangannya begitu mendengar jawaban Chanyeol tetap sama seperti sebelumnya. Ekspresi wajah Yeonri berubah datar begitu melihat Chanyeol kini bersandar dengan santai pada sandaran kursi seolah pria itu tidak ingat dengan apa yang Ia katakan beberapa saat lalu.

“Ya! Kalau memang kau tidak membuat sketsa atau gambar apapun, lalu kenapa kau bisa begitu serius tadi sampai-sampai kau mengabaikanku eoh?! Kenapa kau mengabaikanku selama satu jam lamanya, Park Chanyeol!?” Setelah mengatakan itu Yeonri langsung memutar tubuhnya dari Chanyeol, gadis itu menggerutu kesal seraya kembali mencoret-coret selembar kertas yang tadi Ia ambil dari bukunya. Yeonri kesal, sungguh. Chanyeol benar-benar menyebalkan jika Ia sudah seperti itu.

Dan Chanyeol yang duduk di sebelah Yeonri bisa melihat dengan jelas bagaimana ekspresi gadis itu sekarang. Chanyeol tahu Yeonri pasti akan kesal padanya lantaran tadi Ia terus mengelak pertanyaan yang dilontarkan gadis itu. Membayangkan betapa lucunya ekspresi Yeonri saat ini membuat Chanyeol diam-diam mengulum senyumnya. Pria itu terus tersenyum di samping Yeonri saat gadis itu sibuk meluapkan emosinya pada selembar kertas tidak berdosa tersebut.

“Yeonri–ya …” panggil Chanyeol pelan.

“Apa?!” sahut Yeonri tanpa menoleh pada Chanyeol sedikit pun.

“Apa kau sedang marah padaku?”

“Tidak!”

Alis Chanyeol bertaut, “Tidak marah?” ulangnya seraya menatap Yeonri dengan tatapan tidak mengerti padahal jelas-jelas gadis itu terlihat sedang marah padanya. “Kalau tidak marah, lalu kenapa—”

“Aku hanya kesal!”

Chanyeol menggantung kalimatnya saat suara Yeonri lebih dulu terdengar di indera pendengarannya. Pria itu terdiam di tempat duduknya sambil terus menatap Yeonri di hadapannya yang masih berkutat dengan pensil warna di tangannya. Satu detik .. dua detik .. dan ..

Chanyeol tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa lantaran membayangkan betapa lucunya Yeonri saat ini dan karena tawanya itu Yeonri yang duduk di depannya sontak menoleh ke arah Chanyeol. Gadis itu menatap Chanyeol dengan tatapan bingung, sedikit terkejut juga karena suara tawa Chanyeol sangatlah keras.

“Kenapa kau tertawa? Memangnya apa yang lucu?” ketus Yeonri. Gadis itu masih memasang ekspresi datar di wajahnya.

Chanyeol menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri, pria itu hanya menggeleng menjawab pertanyaan Yeonri. Chanyeol tidak bisa mengatakan apapun ketika Ia sedang tertawa, jadi Ia memutuskan untuk meneruskan tawanya sampai tawanya hilang dengan sendirinya. Barulah setelah Chanyeol sudah bisa mengendalikan tawanya, pria itu kemudian membuka suara. Tapi sebelum Chanyeol mengatakan apapun pada Yeonri, Ia lebih dulu menyerahkan sesuatu pada gadisnya itu.

Yeonri menerima benda yang diberikan Chanyeol, alisnya bertaut ketika menatap sebuah sketchbook di tangannya. “Apa ini?” tanyanya seraya kembali mengarahkan iris matanya pada Chanyeol.

“Itu untukmu.” jawab Chanyeol pelan.

“Untukku?”

Hm, untukmu.”

Yeonri tidak menyahuti ucapan Chanyeol lagi setelah gadis itu mendengar jawaban yang diberikan Chanyeol tetap sama. Detik berikutnya dengan perasaan tidak mengerti sekaligus penasaran akhirnya Yeonri pun membuka sketchbook yang diberikan Chanyeol tadi dan begitu Ia melihat halaman pertama di buku tersebut Yeonri langsung tercengang dibuatnya.

Chanyeol menatap sketchbook di tangan Yeonri, pria itu terlihat puas melihat hasil tangannya yang Ia torehkan di sana. “Bagaimana?” tanyanya kemudian seraya kembali mengarahkan maniknya pada Yeonri.

“Chanyeol, ini—” Yeonri menggantung kalimatnya, kedua sudut bibirnya sontak terangkat begitu matanya menangkap setiap garis yang terlukis di atas buku itu. Yeonri kagum, sungguh. “Chanyeol, ini indah sekali! Ini benar-benar indah sekali, Chanyeol. Bagaimana—”

“Apa kau menyukainya?” Chanyeol kembali bertanya lebih dulu sebelum Yeonri sempat menyelesaikan kalimatnya. Ia tersenyum senang ketika melihat Yeonri menatapnya dengan mata berbinar. Yeonri benar-benar terlihat senang dengan apa yang sudah Chanyeol buat untuknya.

“Tentu saja! Tentu saja aku menyukainya, Chanyeol! Ini sangat indah, tidak mungkin aku tidak menyukainya!”

Chanyeol semakin tersenyum lebar ketika mendengar jawaban Yeonri. Pria itu merasa lega sekaligus ikut senang karena Yeonri ternyata menyukai hadiah kecilnya itu. Yeonri membuka halaman berikutnya dan gadis itu pun kembali menatap kagum setiap garis yang tertoreh di sana. Guratan tangan Chanyeol di atas skecthbook tersebut benar-benar luar biasa indah! Hasilnya terlihat begitu nyata, membuat Yeonri tidak bisa menyembunyikan senyum senangnya ketika melihatnya.

Ya, bagaimana mungkin Yeonri tidak menyukainya? Bagaimana mungkin Yeonri tidak kagum pada semua hasil tangan Chanyeol? Hadiah kecil yang diberikan Chanyeol untuknya ini bagi Yeonri adalah sesuatu yang sangat indah yang pernah Ia terima dari pria jangkung itu. Kenapa? Karena di dalam sketchbook tersebut terdapat gambar dirinya bersama Chanyeol dengan berbagai jenis warna di sekitarnya. Chanyeol membuatkan begitu banyak gambar dirinya bersama Yeonri di sana, pria itu menggambarkan saat mereka pernah berjalan di tepi sungai Han, saat mereka sedang makan ramen bersama di rumah Yeonri, saat mereka sedang memancing bersama di akhir pekan, saat mereka bermain basket –Chanyeol menggambar bagian saat dirinya mengajarkan Yeonri melempar bola basket ke ring–, saat mereka memainkan piano bersama di rumah Chanyeol, dan masih banyak lagi gambar yang dibuat Chanyeol di dalam sketchbook tersebut.

Chanyeol ingat semua potongan memori yang pernah Ia lewati bersama dengan Yeonri. Pria itu menggambarkan semuanya di dalam skecthbook walaupun tidak dengan ukuran yang begitu besar, tapi setidaknya Chanyeol bisa membuatnya dan Ia berhasil melakukannya dengan sangat baik. Jadi sebenarnya jika dilihat bagaimana sikap Chanyeol tadi saat pria itu mengabaikan Yeonri adalah karena Chanyeol sibuk membuatkan semua gambar-gambar dari potongan memorinya bersama Yeonri. Chanyeol mengabaikan Yeonri karena pria itu ingin memberikan hasil yang terbaik untuk hadiah kecilnya tersebut. Chanyeol tidak memiliki alasan lain yang membuat dirinya sibuk selain karena gadis yang Ia cintai. Ya, hanya karena Yeonri–lah Chanyeol mau menyibukkan dirinya berlama-lama walau sampai lelah sekalipun.

.

.

*Fin*

AKHIRNYA SELESAI JUGAAAAA!!!! >.<

Fiiuuhh~ ini ff makan banyak waktu dan bikin aku jenuh selama prores pengerjaannya. Serius, aku ngga bohong. Ini susah banget dibuatnya jadi maaf-maaf aja kalo kalian nemu typo di atas. Tapi biarpun begitu yang penting akhirnya aku berhasil bikin ff ini TANDAS setelah ngejogrok berjam-jam di depan laptop! :v Kkk~

Untuk Park Yeonri (tersangka di balik hadirnya ff ini), ini fanfict yang aku janjiin ke kamu udah lahir dan aku mau hadiahin ini ke kamu sebagai hadiah ulang tahun kamu bulan lalu. Maaf, harusnya bukan ff ini yg aku jadiin hadiah ultah kamu. Tapi gapapa ya? Aku harap kamu suka sama hadiah kecil aku ini dan aku harap setelah ini kamu ngga nuntut apa-apa lagi ke aku. Udah cukup stress dan nyaris gila aku ngadepin sikap nyebelin kamu, Park Yeonri .. -_- *pout*

Oh iya sekalian mau curhat juga, untuk bagian akhirnya itu sebenarnya aku dapet inspirasi dari seseorang. Karena baru beberapa menit yang lalu dia balas komentar di instagram aku yang hasilnya langsung buat aku semangat nulis lagi. So .. dengan segala rasa kagum & cinta aku sebagai reader-nya, aku juga mau persembahin fanfict ini untuknya ^^

@real.imaa (Noonapark) Tolong semangat nulis lagi ya kak. Jangan patah semangat pokonya walaupun waktu kakak udah ngga se-leluasa dulu. Pokonya harus tetap jadi Happy Virus buat semua orang-orang di sekitar kakak ya 🙂(termasuk semua pembaca Noonapark).

Oke, udah cukup. Ini berlebihan & udah terlalu alot-_-

Makasih buat yang udah mampir & sempetin waktu buat baca ff aku. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya? ^^

With LoveAreumdaun Lee.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s