Under The Tree [There Is Story Between Us] — Chapter #2


Seventeen Cover

♥ Title: Under The Tree | Author: Areumdaun Lee | Cast: Jeon Wonwoo, Song Yikyung/YOU, Kim Mingyu, Choi Hansol, Eun Hyejoo (oc) | Genre: School Life–Friendship–Romance | Rating: Teenage | Length: Chaptered ♥

©AL_2016

.

WARNING!!

THIS IS PURE MINE! DON’T TRY TO COPY-PASTE MY FANFICTION!

PLEASE, STOP PLAGIARISM!

.

Eun Hyejoo terus mengarahkan matanya pada jam dinding yang tergantung di atas papan tulis, gadis itu mengerutkan keningnya ketika matanya dengan jeli terus memperhatikan jarum jam yang berputar di sana. Gadis itu bersumpah bahwa setelah ini dirinya harus bisa kembali mengintrogasi Yikyung sebelum sahabatnya itu hilang dari pandangannya. Sesekali Hyejoo bahkan melirik ke arah tempat duduk Yikyung yang berada di sebelah barisan mejanya. Dalam diam ketika Hyejoo memperhatikan Yikyung, dirinya tampak seperti tengah memikirkan sesuatu tentang hubungan Yikyung dan Jun.

Hyejoo tidak mengerti kenapa Yikyung terlihat begitu santai dan terkesan biasa saja setelah gadis itu menceritakan perihal hubungannya dengan Jun, sementara dirinya justru malah terlihat sangat pusing ketika membayangkan bagaimana bisa sahabatnya itu kembali putus dengan pacarnya.

Tepat ketika Hyejoo tengah memikirkan alasan kenapa hubungan Yikyung berakhir lagi, gadis itu tersentak kaget ketika bel sekolah berbunyi nyaring di depan koridor kelasnya. Dengan cepat Hyejoo kembali duduk dengan tegak dan menatap wali kelasnya yang sedang berdiri di depan kelas.

“Baiklah, cukup di sini dulu pelajaran kita hari ini. Jangan lupa kerjakan tugas kalian halaman 19 sampai 22, lusa sudah harus ada di meja saya. Arasseo?”

Ne, seonsaengnim!” jawab seluruh murid di kelas Hyejoo dengan kompak. Setelah itu sang guru pun meninggalkan kelas dan membuat kelas secara bersamaan langsung bernapas lega karena akhirnya bisa terlepas dari mata pelajaran matematika yang sangat membosankan.

Saat Hyejoo berniat untuk menghampiri Yikyung setelah merapikan peralatan tulisnya tapi seseorang di ambang pintu sudah lebih dulu memanggil Yikyung dan hal itu membuat Hyejoo seketika langsung menghentikan langkahnya. Gadis itu terdiam ketika dirinya melihat siappa seseorang yang di berdiri di ambang pintu kelasnya tersebut.

“Song Yikyung–ssi? Di sini siapa yang bernama Song Yikyung?”

Yikyung mengacungkan tangannya seraya menjawab, “Aku Song Yikyung. Ada apa?”

“Oh, itu kau. Park seonsaengnim memintamu untuk segera menemuinya di ruangannya, beliau bilang ingin mengatakan sesuatu yang penting padamu sekarang.”

“Baiklah, aku akan segera ke sana. Terima kasih informasinya.”

Seseorang yang berdiri di ambang pintu kelas Yikyung tidak menyahuti ucapan Yikyung, Ia hanya tersenyum dan mengangguk lantas membungkuk singkat lalu kemudian pergi meninggalkan kelas Yikyung.

Setelah seseorang itu sudah tidak ada lagi di ambang pintu kelas, Yikyung pun menoleh ke arah Hyejoo yang masih berdiri di antara barisan tempat duduknya. Gadis itu masih mengarahkan iris matanya ke arah pintu kelas saat Yikyung mengatakan bahwa dirinya tidak bisa makan siang bersama dengannya. Hyejoo yang memang masih dalam keadaan melamun saat itu tidak begitu mendengarkan ucapan Yikyung dengan jelas. Gadis itu hanya terus diam seraya dalam hatinya Ia menyebutkan nama seseorang yang tadi datang ke kelasnya. Nama seseorang yang tanpa sadar membuatnya seketika melupakan rencana awalnya untuk kembali bicara dengan Yikyung.

“Kim Mingyu ..”

.

.

Yikyung terus memikirkan kira-kira hal penting apa yang akan disampaikan nanti oleh Park seonsaengnim, pasalnya Ia merasa bahwa selama ini dirinya tidak pernah membuat masalah di sekolah tapi Ia heran karena alasan apa guru di bidang kesiswaan tersebut memanggilnya. Entahlah, Yikyung tidak tahu. Gadis itu tidak mau terlalu ambil pusing sebelum dirinya benar-benar bertemu dengan Park seonsaengnim.

Ketika sampai di depan ruangan Park seonsaengnim, Yikyung tidak langsung mengetuk pintu ruangan tersebut melainkan dirinya mencoba untuk rileks dahulu dengan mengambil napas dalam-dalam kemudian menghembuskan secara perlahan. Lalu setelah dirinya merasa benar-benar yakin Yikyung pun mengetuk pintu seraya mengatakan bahwa dirinya berada di sana.

Dan setelah di persilahkan untuk masuk, Yikyung pun membuka pintu kemudian dengan sopan Ia membungkuk hormat pada Park seonsaengnim di hadapannya.

Annyeonghaseyo, saya Song Yikyung.” ucap Yikyung, memperkenalkan dirinya.

“Ah, ya. Terima kasih sudah meluangkan waktumu untuk datang ke ruangan ini. Kemarilah, nak. Saya ingin menyampaikan sesuatu padamu.” Park seonsaengnim mempersilakan Yikyung untuk segara duduk di salah satu sofa di depannya. Yikyung pun mengangguk kemudian mengambil posisi duduk di hadapan Park seonsaengnim.

Yikyung sempat melirik ke samping kanannya dimana dirinya baru menyadari bahwa ada siswa lain yang sedang duduk di sana. Yikyung hanya mengangguk singkat pada siswa tersebut sebelum akhirnya kembali menoleh pada Park seonsaengnim dan menanyakan alasan dirinya dipanggil ke ruangan ini.

“Saya dengar bahwa saya dipanggil ke ruangan ini adalah karena Anda ingin menyampaikan hal penting kepada saya. Memangnya hal penting itu apa, seonsaengnim?” tanya Yikyung.

Lelaki setengah baya yang duduk di hadapan Yikyung pun tersenyum ketika Ia mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh gadis tersebut, pertanyaan yang sama yang Ia terima dari siswa yang duduk di sebelah kanan Yikyung. Beliau lalu mulai menjelaskan hal penting apa yang tadi dipertanyakan oleh kedua pelajar tersebut.

“Begini, Jeon Wonwoo dan Song Yikyung. Dua hari yang lalu saya mendapat informasi bahwa sekolah kita terpilih untuk mengikuti sebuah lomba musik yang akan diadakan oleh salah satu agensi besar di pusat Seoul. Dan alasan kenapa saya memanggil kalian berdua untuk bertemu di ruangan ini adalah karena kalian ditunjuk sebagai perwakilan sekolah untuk pergi mengikuti lomba tersebut.”

Ne?” baik Wonwoo maupun Yikyung, keduanya sama-sama terkejut setelah mereka mendengar penjelasan Park seonsaengnim mengenai alasan dirinya mereka di panggil ke ruang kesiswaan ini.

“Saya tahu hal ini mungkin sangat mengejutkan kalian, tapi keputusan ini adalah hasil perhitungan suara dari rapat yang dilakukan oleh semua guru kemarin sore. Kalian berdua ditunjuk sebagai perwakilan sekolah karena memang hanya kalian yang memiliki nilai plus dalam pelajaran seni musik. Terlebih lagi kalian berdua sudah pernah mengikuti lomba tingkat nasioal bukan? Nah, karena itu semua guru di sekolah ini percaya bahwa dengan kemampuan kalian tersebut itu akan memberikan gambaran bahwa sekolah kita ini memiliki pelajar yang sangat berbakat dalam bidang musik. Dan bukan sebuah hal yang mustahil ‘kan jika kita bisa memenangkan perlombaan ini?”

“Ta–tapi seonsaengnim, bagaimana bisa? Kami sudah berada di kelas akhir dan .. dan seharusnya kami hanya fokus pada ujian kami nanti. Apakah ini masih boleh dilakukan?” tanya Yikyung dengan cepat, gadis itu tampak begitu ragu dengan keputusan yang berikan oleh sekolah. Ia merasa bahwa jika dirinya ikut serta dalam lomba musik ini dirinya akan mendapatkan kesulitan dalam belajarnya.

“Benar, seonsaengnim. Apa hal ini masih bisa dilakukan? Apa kami benar-benar bisa ikut serta di dalam lomba musik ini?” sahut Wonwoo, pelajar pria itu juga memikirkan hal yang sama seperti Yikyung. Dirinya juga merasa ragu jika Ia tetap mengikuti lomba ini.

“Tidak apa-apa. Ini masih tahun ajaran baru, masih terlalu awal untuk memikirkan ujian. Lagipula kalian tidak akan memakan waktu banyak sampai ujian hanya untuk lomba musik ini, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Percayalah.”

Park seonsaengnim mencoba untuk meyakinkan kedua anak muridnya yang terlihat ragu, Ia tahu bahwa Yikyung dan Wonwoo berada di tingkat akhir saat ini dan wajar saja jika keduanya sangat mengkhawatirkan ujian mereka. Park seonsaengnim tersenyum ketika kembali mengingat reaksi Yikyung dan Wonwoo tadi, mereka tampak lucu saat ekspresi terkejut dan ragu tergambar jelas di wajah keduanya.

“Baiklah, Jeon Wonwoo dan Song Yikyung. Kami percayakan sekolah kami pada kalian, semoga kalian berdua bisa membawa nama sekolah di perlombaan sampai akhir. Selamat untuk kalian berdua dan semoga berhasil. Fighting!”

.

.

.

To Be Continue.

Areum is here! And Seventeen is back!

Hai reader’s, maaf belum bisa ngepost yang kemarin-kemarin. Aku masih dalam masa berkabung dan nge-posting ini pun karena aku lagi nyoba untuk nyicil utang-utangku yang udah ‘nyaris jamuran’. Maaf yaaaa T_T

Mohon pengertiannya dari kalian semua.

Dan terima kasih sudah mampir & baca tulisan absurd Areum♥ 🙂

Sorry for bad fanfict.

With Love — Areumdaun Lee.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s