REMEMBER ME — CHAPTER #2


kyuhyun-and-ara

¶ Title: REMEMBER ME | Author: Areumdaun Lee | Cast: Cho Kyuhyun, Park Hyesub/YOU, Lee Donghae, Park Jung Soo, ect. | Genre: Drama–Family–Romance | Rating: General | Length: Chaptered ¶

.

.

©AL_2016

.

.

“Jika saja sepuluh tahun lalu ibuku tidak menikah dengan ayahmu, mungkin saat ini kau dan aku bukan saudara. Dan jika saja kau tidak ditakdirkan menjadi kakakku, mungkin kau tidak akan bisa melarangku melakukan hal yang kuinginkan. Lagipula aku juga tidak pernah mengharapkan seorang kakak sepertimu, Lee Donghae. Kehadiranmu di sini hanya mempersulit keadaanku dan aku benci itu. Ya, itu benar. Aku membencimu.”

Rentetan kalimat itu kembali terngiang di telinga Donghae ketika Ia kembali mengingat pertengkarannya dengan Kyuhyun beberapa saat lalu. Semua kalimat yang keluar mulut Kyuhyun tersebut terdengar begitu menusuk bagi Donghae dan hal itu membuatnya kembali merasakan sakit yang selama ini selalu Ia simpan sendiri. Perasaan sakit hatinya yang selama ini selalu Ia simpan rapat-rapat dihatinya kembali menguak dan memperlihatkan bagaimana luka hidupnya di masa lalu.

*Flashback On*

Mokpo–si, Jeollanam–do, South Korea.
September 2001, at Mokpo Hankook Hospital.

Anak laki-laki berusia lima belas tahun itu terus mengikuti langkah kaki seorang pria paruh baya di depannya tanpa bertanya apapun kepada pria paruh baya tersebut. Namun walapun Ia mengekor di belakang, anak laki-laki itu tidak bisa memungkiri bahwa di dalam benaknya terbersit perasaan bingung ketika pria paruh baya tersebut memintanya untuk ikut ke sebuah rumah sakit. Kemudian ketika Ia sudah sampai di depan sebuah ruangan, sebuah perasaan aneh pun muncul dalam hatinya. Anak laki-laki itu pun lantas menoleh pada pria paruh baya yang berdiri di samping kanannya.

“Harabeoji, kenapa kita datang ke sini? Siapa yang sakit?” tanya anak laki-laki itu setelah sebelumnya Ia tidak mengatakan apa-apa, rasa penasarannya kini berubah menjadi perasaan cemas yang sangat tidak nyaman di hatinya.

Dan pria paruh baya yang mendengar pertanyaan anak laki-laki itu seketika langsung menghentikan pergerakkan tangannya ketika hendak membuka pintu ruangan di hadapannya. Ia lalu menoleh ke arah anak laki-laki di sampingnya yang tidak lain adalah cucunya, raut wajahnya terlihat sedih ketika Ia menatap wajah polos cucunya tersebut.

“Donghae–ya ..” pria paruh baya itu lalu meraih tangan Donghae, kemudian menggenggamnya dengan erat seraya kembali berucap, “Kita datang ke sini untuk menjeguk ibumu, anakku. Ibumu .. dia mengalami kecelakaan.”

Seperti sebuah halilintar, jawaban dari kakeknya itu sangat mengejutkan bagi Donghae. Membuat Donghae seketika langsung merasakan lemas di kedua kakinya hingga anak lelaki itu nyaris limbung jika saja sang kakek tidak sigap menahan tubuhnya. Donghae terdiam, dirinya terlihat shock begitu sang kakek memberitahukan kabar buruk itu padanya. Dan tanpa sadar ketika Donghae semakin memikirkan ibunya, sebuah kristal bening di matanya akhirnya jatuh mengenai kulit wajahnya. Donghae menangis. Sang kakek yang melihat cucunya menangis pun segera memeluk tubuh Donghae untuk menenangkan perasaannya. Donghae tidak tahu jika maksud kedatangan sang kakek di sekolah untuk menjemputnya pulang beberapa saat lalu sebenarnya adalah untuk memberitahukannya berita duka tersebut.

Donghae menoleh ke arah sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja nakas di samping tempat tidurnya. Tatapan matanya terlihat sendu ketika manik cokelatnya menatap figur seorang wanita usia empat puluhan di sana. Seorang wanita yang selama ini selalu dirindukannya namun tidak akan pernah Ia temui lagi. Donghae lalu mengalihkan wajahnya ketika matanya sudah tidak sanggup lagi menahan perih, pria itu lagi-lagi menitikkan air mata ketika dirinya hanyut dalam perasaan dukanya yang selama ini selalu berusaha Ia tahan kuat-kuat.

I–ibu ..” gumam Donghae pelan. Suaranya terdengar parau ketika Ia menyebutkan kata tersebut. Donghae kemudian berbaring di atas tempat tidurnya dengan posisi menyamping, menghadap ke arah meja nakasnya seraya menekuk kedua kakinya. Dan ketika air matanya mengalir semakin deras, pria itu pun memeluk kakinya erat-erat. Donghae berusaha menahan suara tangisnya agar tidak terdengar oleh Kyuhyun, tubuhnya bahkan sampai bergetar ketika Ia tangisnya semakin menjadi.

“I–ibu .. aku ..” suara Donghae terdengar terbata ketika Ia berusaha mengatakan sesuatu. Lidahnya terasa kelu saat Ia berusaha mengucapkan satu patah kata. Jangankan untuk bisa bicara dengan lancar, untuk mengucapkan satu patah kata pun rasanya terlalu sulit bagi Donghae.

Selama lima belas tahun Ia selalu menyembunyikan lukanya dalam kebisuan, Donghae benar-benar menyimpan semua dukanya seorang diri tanpa diketahui oleh siapapun. Bahkan pria itu pun menyembunyikannya dari keluarganya sendiri. Dirinya sungguh tidak ingin membagi dukanya dengan siapapun karena menurutnya tidak akan ada satu orang pun yang bisa menyembuhkan lukanya tersebut.

“Ibu .. aku merindukanmu. A–aku sangat merindukanmu.”

Setelah menunggu selama dua puluh delapan jam akhirnya kabar baik itu datang pada keluarga Lee. Kabar yang sangat ditunggu-tunggu oleh keluarga Donghae dimana akhirnya ibu Donghae berhasil melewati masa kritisnya dan kini sudah sadarkan diri. Hal itu benar-benar melegakan setelah selama dua hari ini keluarga Donghae selalu dirundung perasaan cemas dan was-was. Terlebih lagi untuk Donghae, anak laki-laki itu sungguh merasa lega dan senang karena akhirnya Ia bisa melihat sang ibu kembali membuka matanya. 

Namun ternyata dibalik keajaiban yang Tuhan berikan pada keluarga Donghae, hal itu justru memberikan kabar lain bagi keluarganya juga. Meskipun keadaan Ibu Donghae memang tidak terlalu parah ketika beliau mengalami kecelakaan tetapi kondisi tubuhnya amat lemah. Dokter Baek yang menangani kondisi Ibu Donghae menyatakan bahwa Nyonya Lee ternyata mengidap sebuah kanker. Dokter mengatakan bahwa kanker yang diderita oleh Nyonya Lee telah sampai pada stadium akhir dan penanganannya pun sudah terlalu terlambat. Berita itu tentu saja membuat Tuan Lee yang saat itu sedang bicara empat mata dengan sang dokter merasa sangat shock. Ia tidak pernah menyangka jika istrinya selama ini mengidap kanker.

“Ti–dak mungkin. Istriku tidak mungkin mengidap kanker. Selama ini dia selalu baik-baik saja, Dok. Tidak, Anda pasti salah. Istriku baik-baik saja, dia tidak—”

“Maafkan saya, Tuan Lee. Itulah kenyataannya, istri Anda memang menderita kanker dan mungkin selama ini dia sengaja menyembunyikannya dari Anda. Beliau sengaja mnyembunyikan penyakitnya dari Anda karena tidak ingin membuat Anda merasa khawatir. Terlebih lagi pasti sangat sulit baginya untuk memberitahu Anda dan juga anak Anda mengenai penyakitnya tersebut. Hal itu tentunya tidaklah mudah bagi istri Anda untuk memberitahu Anda, Tuan Lee.”

Bukk!! Bungkusan parcel buah ditangan Donghae tanpa sadar terjauh tepat ketika dokter menyelesaikan kalimat yang diucapkannya. Hal itu sontak saja membuat Tuan Lee dan juga Sang dokter menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara. Keduanya tampak tertegun begitu mendapati Donghae tengah berdiri di lorong dan menatap mereka dengan ekspresi wajah terkejut.

“Dong–Donghae-ya?” gumam Tuan Lee. Lelaki setengah baya itu tergagap ketika Ia menyebutkan nama anaknya tersebut. 

“I–ibu ..” 

Sang dokter hanya menatap ayah dan anak itu secara bergantian ketika ternyata mereka berada didalam situasi yang tidak terduga. Dokter Baek tidak tahu jika selama percakapannya dengan Tuan Lee ternyata Donghae berada di lorong yang sama dengan mereka. Dan Donghae sendiri begitu mendengar percakapan ayahnya dengan dokter barusan kini terlihat shock, anak laki-laki itu bahkan sampai mundur dua langkah sebelum akhirnya jatuh terhuyung dan berakhir terduduk di lantai.

“Donghae-ya!”

“Donghae-ssi!”

Jarum jam pada jam dinding yang tergantung di kamar Kyuhyun kini sudah menunjukkan pukul 20.30 pm, itu berarti sudah setengah jam Ia berada di kamarnya setelah insiden pertengkarannya dengan Donghae beberapa saat lalu. Rencana Kyuhyun untuk pergi meninggalkan rumah malam ini sepertinya terpaksa tidak bisa Ia lakukan lantaran halaman rumahnya telah dijaga ketat oleh seluruh penjaga keamanan.Tidak hanya itu, Kyuhyun bahkan bisa menduga Donghae juga pasti telah menyiapkan dua orang penjaga keamanan di depan pintu rumahnya.

“Ck, benar-benar mengganggu.” gerutu Kyuhyun dalam hati ketika Ia melihat beberapa penjaga berdiri di halaman rumahnya. Ia benci setiap kali Donghae melakukan ini padanya, Kyuhyun sungguh tidak menyukai sikap Donghae yang terkesan sok mengatur dirinya.

Kemudian ketika Kyuhyun tengah mengamati keadaan di sekitar halaman rumahnya tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di kepalanya. Pria itu kemudian merogoh ponselnya di saku celananya, mencoba untuk menghubungi seseorang yang dikenalnya yang menurutnya bisa membantunya terbebas dari ‘kekangan’ Donghae.

“Halo. Hyung, aku butuh bantuanmu.” ucap Kyuhyun langsung pada intinya ketika seseorang diseberang sambungan teleponnya menerima panggilannya. Ia lalu tersenyum penuh kemenangan ketika menyadari bahwa situasi yang dihadapannya ini tidaklah terlalu sulit baginya.

.

.

.

*To Be Continue …

Advertisements

2 thoughts on “REMEMBER ME — CHAPTER #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s