LIE


tae

¶ Title: LIE | Author: Areumdaun Lee | Cast: Kim Taehyung, Min Ji Hye/YOU(OC), Park Jimin | Genre: Angst-Romance | Rating: General | Lenght: Oneshoot ¶

©AL_2017

It was a lie, if I said that I don’t have a feeling towards you ..

.

.

My first fanfiction about BTS!
This fiction is dedicated to my beloved best friend who’s love KIM TAEHYUNG so much!

(And also this fiction is dedicated to another’s ARMY in the world! xD) 
Hope you like it dear~

.

.

PS: THIS FICTION IS PURE MINE! SO, PLEASE DON’T YOU TRY TO STOLE MY STORY!
LET’S STOP PLAGIARISM. OKAY?! 

.

.

.

Sepasang mata berwarna cokelat milik seorang pria yang semula tampak teduh kini berubah menyipit, menampakkan kilatan tajam bagai mata elang begitu maniknya melihat sebuah pesan singkat yang tertera pada ponsel yang tengah digenggamnya. Ekspresi wajahnya bahkan juga ikut berubah datar, menampakkan aura yang sulit dijelaskan dengan satu kata. Karena tidak ada seorang pun yang tahu apakah pria itu saat ini sedang merasa marah, benci, atau sedih. Orang lain tidak akan pernah tahu, bahwa sebenarnya dibalik keindahan mata cokelat yang semula teduh dan hangat itu serta wajah tanpa ekspresinya ternyata menyimpan banyak rahasia akan semua perasaan yang selama ini selalu diredamnya. Orang lain tidak akan pernah tahu bahwa sebenarnya saat ini pria itu tengah membunuh perasaannya kembali untuk kesekian kalinya dalam waktu yang sudah tak terhitung lagi.

“Kuharap setelah ini kau benar-benar akan berpikir dua kali sebelum kau mengambil tindakan. Dan lagi, jika aku kembali melihatmu berada didekatnya maka jangan menyesali jika akhirnya dia menjadi bahan pembicaraan orang banyak karena dirimu.”

Pria itu mengepalkan satu tangannya yang berada di sisi tubuh ketika Ia selesai membaca sederet kalimat tersebut di ponselnya. Sedetik kemudian Ia pun mulai memikirkan seseorang di dalam pikirannya, perasaannya campur aduk ketika bayangan seseorang itu memenuhi kepalanya. Lalu saat Ia merasa dirinya semakin tidak bisa menahan gejolak emosi dalam dadanya, pria itu lalu memutuskan untuk meninggalkan tempatnya berdiri. Namun sebelum Ia mengambil langkah pria itu kembali menolehkan wajahnya ke arah bangunan dengan arsitekstur bergaya eropa yang megah, Ia menatap bangunan elit itu dengan tatapan nanar. Dirinya merasa berat hati untuk pergi dari sana karena Ia tahu bahwa di dalam sana seseorang pasti akan mencarinya begitu Ia tidak lagi berada di dalam.

“Taehyung-ah!”

Sang pemilik nama seketika langsung menoleh begitu telinganya menangkap suara yang sudah tidak asing lagi tengah meneriakkan namanya dari kejauhan. Pria yang semula sedang sibuk dengan laptop dipangkuannya itu segera menutup laptopnya dengan gerakan buru-buru setelah sebelumnya Ia menyimpan data yang tadi sedang dikerjakannya lebih dulu. Lalu begitu gadis yang tadi meneriaki namanya sudah berada didekatnya, pria itu mendongak menatapnya dengan ekspresi bersahabat.

Eoh, Jihye-ya. Ada apa?” tanya Taehyung kemudian.

Gadis bernama Jihye itu tidak langsung menjawab pertanyaan yang Taehyung lemparkan padanya melainkan Ia justru mengambil posisi duduk di sisi kiri Taehyung sambil terus menatap Taehyung dengan ekspresi wajah cemberutnya.

Ya! Kemarin malam dipertengahan acara ulang tahun Jimin, kau pergi kemana eoh? Kenapa kau tiba-tiba menghilang seperti itu dan meninggalkanku sendirian? Apa kau sengaja ingin membuatku khawatir? Kau bilang kau berjanji akan berada di sana sampai acaranya selesai tapi kenapa kau malah meninggalkanku sendirian di sana, Kim Taehyung?”

Rentetan kalimat tanya yang dilontarkan Jihye secara bertubi-tubi tanpa jeda itu membuat Taehyung enggan menjawabnya dengan cepat. Pria itu justru terus diam sampai Jihye benar-benar tenang setelah ‘mengintrogasinya’ seperti itu. Sementara dalam diamnya, Taehyung kembali merasa mencelos ketika mengingat moment terakhir malam itu saat dirinya terpaksa meninggalkan Jihye sendiri di tengah-tengah acara ulang tahun Jimin.

Mianhae.”

Setelah sempat hening selama satu menit lamanya, hanya satu kalimat itu yang akhirnya keluar dari mulut Taehyung sebagai jawaban dari semua pertanyaan Jihye yang dilontarkan padanya. Dan Jihye sendiri pun akhirnya ikut terdiam begitu pria yang duduk di sebelahnya itu menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan. Jihye bungkam ketika Taehyung tadi mengucapkan kalimat maaf itu dengan pelan dan intonasi suara yang mengisyaratkan bahwa Ia memang benar-benar menyesali sikapnya malam itu. Namun dibalik sikap Taehyung yang terlihat sangat menyesal itu Jihye menyadari sesuatu yang membuatnya kembali teringat dengan apa yang Jimin katakan padanya soal Taehyung ditengah-tengah percakapan mereka malam itu.

“Jihye-ya, Taehyung sudah pergi sejak tadi. Untuk apa kau mencarinya eoh? Lagipula jika kau berhasil menemukannya, dia tidak akan mau kembali ke sini. Sudahlah, biarkan saja dia pergi. Saat ini aku lebih membutuhkanmu, aku bahkan ingin mengenalkanmu pada semua teman-temanku dan beberapa anggota keluargaku juga.”

“Mianhae, Jimin-ah. Tapi aku benar-benar harus mengejar Taehyung, aku sudah berjanji akan bersamanya selama pestamu berlangsung. Dan Taehyung pun juga sudah berjanji demikian padaku. Jadi aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja.”

“Ya! Sebenarnya siapa yang di sini berperan sebagai pacarmu? Aku atau Kim Taehyung sialan itu?”

“Jimin.”

“Kenapa kau selalu memikirkannya padahal dia tidak lebih dari seorang teman yang selalu mengekorimu? Ck, dia bahkan menjadi sangat pengecut karena tidak berani menyatakan perasaannya sendiri.”

“Park Jimin. Jaga bicaramu, Taehyung tidak seburuk yang kau katakan.”

“Oh ya? Jika dia tidak seburuk apa yang kukatakan, lalu dia seburuk apa? Dia tidak berani mengatakan apapun selain hanya mengikutimu kemana pun kau pergi, dia tidak berani untuk menolak apapun yang kau minta dan bahkan dia juga tidak berani mengatakan bahwa ternyata Ia memiliki perasaan terhadapmu.”

“Jimin, kau tidak tahu apa-apa soal Taehyung. Dia mungkin terlihat seperti itu di matamu tapi bagiku dia satu-satunya pria terbaik yang pernah kukenal dan berada pada urutan pertama. Dan asal kau tahu, tanpa dia harus mengatakan perasaannya padaku, aku sudah mengetahuinya.”

“Min Jihye.”

“Jadi kumohon, berhenti membicarakan hal-hal buruk tentangnya.”

“…..”

“Dan satu lagi. Kurasa setelah ini kita tidak perlu bertemu lagi karena aku tidak ingin melanjutkan hubungan ini denganmu. Hubungan kita berakhir di sini.”

Dipenghujung percakapan yang diingat Jihye malam itu, gadis itu sekali lagi kembali merasakan hatinya mencelos mengingat bagaimana dirinya harus mendengar seluruh kata-kata Jimin yang menurutnya terlalu merendahkan Taehyung. Jujur, semua ucapan Jimin tentang Taehyung malam itu benar-benar membuatnya marah hingga dirinya mengambil keputusan final dimana akhirnya Jihye memutuskan untuk meninggalkan Jimin secara sepihak.

Sementara itu ditengah keheningan yang terus berlanjut diantara keduanya, dalam diamnya Taehyung kembali merasakan dadanya meneriakkan perasaan yang sama dalam kurun waktu selama tiga tahun ini. Perasaan sakit yang menggerogoti rongga hatinya semakin menyeruak dan nyaris membuatnya tidak bisa lagi mempertahankan hatinya dengan utuh.

Hati Taehyung semakin rapuh. Ruang di hatinya semakin rapuh seiring pikirannya terus memaksanya melawan kata hatinya untuk tidak menyuarakan perasaannya yang selama ini selalu Ia sembunyikan dari Jihye. Jiwanya semakin menjerit ketika tubuhnya selalu dipaksa menuruti seluruh keinginan otaknya untuk tidak meneriakkan inginnya menyatakan ketulusan hatinya pada Jihye bahwa Ia teramat sangat mencintai gadis itu.

Dan atas semua tindakan, ucapan, serta perasaannya yang selalu Ia tunjukkan pada Jihye, itu semua adalah sebuah kebohongan belaka. Ya, semua penolakan dan juga elakan atas setiap pertanyaan yang dilontarkan padanya itu adalah sebuah kebohongan besar.

Sebuah kebohongan yang berhasil merenggut cinta dan juga pengharapannya.

“Kau masih terus mengikutinya kemanapun dia pergi?”

“Maksudmu?”

“Jihye. Aku sedang membicarakannya. Apa kau masih terus mengikutinya kemanapun dia pergi?”

“Aku akan menuruti ucapannya jika dia memang memintaku untuk mengikutinya.”

Sebuah tawa kemudian terdengar setelah kalimat terakhir itu terlontar. Namun itu bukanlah tawa yang menjelaskan akan sesuatu yang lucu, melainkan tawa itu lebih pada tawa mengejek yang tengah merendahkan seseorang yang diperuntukkan pada lawan bicaranya.

“Ya, Kim Taehyung. Sampai kapan kau akan terus seperti itu? Kau terlihat seperti seorang budak yang selalu menuruti ucapan majikannya. Ck, sadarlah Taehyung. Kau tahu dia bukan milikmu. Sampai kapanpun juga kau tidak akan pernah berani mengatakan perasaanmu padanya. Kau tahu kenapa? Karena kau seorang pengecut. Kau hanya berani melangkah mendekatinya sebagai teman. Tidak lebih dari itu, padahal kau sudah menyukainya sejak lama bukan? Aahh .. aku lupa. Kau ‘kan hanya seorang pengecut yang tidak berani menyatakan perasaannya di depan Jihye. Dan lagipula saat ini Jihye sepertinya memang sudah tidak membutuhkanmu lagi. Karena aku, yang juga sudah menyukainya sejak tiga tahun lalu berhasil memilikinya. Selain itu aku juga yang akan membuat Jihye selalu bersamaku. Jadi kurasa sikap sok dewasa dan berkarismamu itu yang selalu menemaninya sudah tidak diperlukan lagi. Kau bukan lagi prioritasnya dan Jihye juga sudah bukan prioritasmu lagi.”

“Park Jimin.” Rahang Taehyung mengeras ketika mendengar rentetan kalimat yang meluncur dari mulut Jimin.

“Berhentilah menjadi seseorang yang sok dewasa untuk Jihye. Kau bukan kakaknya, bukan pula seseorang yang dianggap Jihye sebagai seseorang yang spesial. Kau hanya seseorang yang sekarang ditinggalkan, seorang teman pengecut yang dibuang Jihye karena gadis itu lebih memilih bersamaku ketimbang bersamamu.”

“…..”

Taehyung diam. Ia tidak menyahuti ucapan Jimin dengan sepatah kalimat pun. Pria itu justru hanya terus menatap Taehyung dengan tatapan tajam dan juga ekspresi wajah dingin. Dan beberapa detik setelah keheningan diantara mereka, Jimin kemudian kembali membuka suara yang saat itu juga langsung membuat Taehyung mengepalkan tangan kanannya di sisi tubuh hingga buku-buku jari tangan kanannya itu memutih dan urat-uratnya mulai tampak secara perlahan lantaran menahan gejolak amarah di dalam dadanya.

“Kim Taehyung. Aku hanya akan mengatakan ini sekali padamu.” Jimin menatap Taehyung dengan tatapan setajam mata pisau yang sarat akan kebencian yang amat menusuk seolah Taehyung adalah musuh bebuyutannya yang sudah Ia benci sejak lama. Jimin lalu kembali melanjutkan kalimatnya, “Mulai detik ini menjauhlah dari Jihye dan jangan pernah muncul lagi dihadapannya, sekalipun itu kalian bertemu secara tidak sengaja. Menjauhlah darinya atau kau akan mendengar orang-orang membicarakan Jihye sebagai gadis dengan perangai buruk karena mendekati dua orang pria sekaligus.”

Jihye berusaha menghubungi nomor ponsel Taehyung berkali-kali namun berulang kali juga usahanya tidak membuahkan hasil. Taehyung sama sekali tidak mau menjawab teleponnya dan itu membuat Jihye semakin dirundung perasaan cemas. Gadis itu mencemaskan Taehyung sejak pria itu tidak pernah menemuinya lagi setelah pertemuan terakhir mereka di taman belakang kampus beberapa hari lalu.

Demi tuhan, jika saja saat itu dirinya tidak membungkam mulutnya setelah Taehyung mengatakan kalimat maaf padanya, mungkin saat ini Jihye masih bisa berada di sampingnya. Jika saja waktu itu Jihye masih memiliki waktu untuk menjelaskan pada Taehyung sebelum pria itu (benar-benar) pergi meninggalkannya di taman kampus, mungkin saat ini Ia masih bisa mengobrol, membahas banyak hal dan menghabiskan waktu bersama pria itu hingga larut malam.

Jihye menyesali keputusannya.

Ya, Ia menyesali keputusannya yang lebih memilih untuk berada di sisi Jimin dibandingkan berada di sisi Taehyung, pria yang dikenalnya sejak tiga tahun lalu. Sungguh, Ia tidak menduga jika keputusannya itu akan berakibat seperti ini pada hubungannya dengan Taehyung. Selain itu kini Jihye semakin menyadari bahwa dirinya juga semakin membuat Taehyung terluka.

Dan malam ini setelah lima hari Jihye tidak mendengar kabar dari Taehyung, Ia tidak bisa lagi mengacuhkan fakta bahwa Taehyung adalah pria yang lebih baik daripada pria yang telah dipilihnya. Malam ini Jihye akan menyatakan perasaannya yang sebenarnya pada Taehyung. Ia tidak peduli jika dirinya lah yang harus pertama kali menyatakan perasaan lebih dulu. Karena sungguh, Jihye tidak mau dirinya terus berada di tengah-tengah perasaan gamblang dan Ia juga tidak mau terus-menerus menyakiti perasaan Taehyung.

Jihye lalu berniat untuk pergi ke rumah Taehyung, gadis itu pun dengan cepat langsung menyambar mantelnya dan berjalan dengan langkah terburu-buru menuju pintu. Namun ketika Ia sudah berada di luar flatnya, langkah kakinya langsung terhenti begitu matanya menangkap sosok yang dikenalinya tengah berdiri beberapa meter di depannya.

“Taehyung-ah!”

Tidak ada jawaban dari Taehyung, pria itu hanya berdiri dan menatap lurus ke arahnya. Jihye tersentak saat dirinya menyadari sesuatu yang ganjil pada Taehyung. Gadis itu baru menyadari bahwa saat ini penampilan Taehyung terlihat sangat kacau, pria itu bahkan terlihat sedikit mabuk karena Jihye melihat cara berdiri Taehyung yang tidak seperti biasanya. Karena cemas akan keadaan Taehyung yang sewaktu-waktu bisa saja jatuh terhuyung, Jihye pun kemudian memutuskan untuk mendekatinya.

Mata Jihye semakin menunjukkan kecemasan yang semakin meningkat ketika apa yang Ia duga sebelumnya ternyata benar. Taehyung mabuk. Ya, pria itu mabuk meskipun tidak sampai benar-benar teler dan hal itu membuat Jihye tidak bisa menampik jika saat ini kondisi Taehyung membuat hatinya semakin dirundung kecemasan yang tidak karuan.

“Taehyung-ah, kau mabuk. Ada apa eoh? Apa telah terjadi sesuatu?” tanya Jihye dengan lembut namun masih dengan kecemasan yang sama. Gadis itu tahu, mungkin pertanyaan ini tidak akan mendapatkan jawabannya dari Taehyung. Namun Jihye juga tahu jika dirinya tidak bertanya seperti itu, Taehyung pasti akan semakin kehilangan kesadarannya karena pengaruh alkohol yang diminumnya.

Taehyung benar-benar tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Jihye sedetik lalu, pria itu hanya terus menatap Jihye dengan kedua matanya yang tidak sepenuhnya terbuka, dalam keadaan yang entah berapa persen tingkat kesadarannya tersebut. Dan Jihye sendiripun tidak mempermasalahkan jika Taehyung memang tidak ingin menyahutinya. Itu tidak masalah baginya. Lalu saat Jihye membalas tatapan Taehyung dengan tatapan penuh pengertian yang menjelaskan bahwa dirinya akan bersabar menunggunya sampai pria itu membuka mulutnya untuk bicara, Taehyung justru mendaratkan satu tangannya di atas puncak kepala Jihye dan mengusap rambutnya dengan gerakan pelan. Gerakkan lembut tangan Taehyung pun sontak membuat Jihye tersentak dan membuat jantungnya berdegup detik itu juga.

Mianhae.” ucap Taehyung pelan saat Ia tengah mengusap lembut puncak kepala Jihye.

Kedua alis Jihye tertaut, gadis itu tidak mengerti kalimat maaf yang baru saja terlontar dari mulut Taehyung tersebut. Pasalnya Ia tahu mungkin Taehyung akan meminta maaf padanya soal dirinya yang tiba-tiba menghilang ditengah-tengah acara ulang tahun Jimin kemarin malam, tapi itu sudah lewat sejak lima hari yang lalu. Dan sekarang pria itu kembali meminta maaf padanya namun sekali lagi Jihye tidak tahu kemana kata maaf itu terhubung.

Lalu saat Jihye sedang mencoba mencerna kembali ucapan Taehyung tersebut, didetik berikutnya barulah gadis itu mendapatkan jawabannya atas kebingungannya.

“Maaf karena aku tidak pernah mencoba untuk mengatatakannya padamu sejak lama. Aku tahu, tidak seharusnya aku menutupnya rapat-rapat hingga nyaris membuatnya rapuh karena sikap pengecutku.”

Hening. Taehyung memberikan jeda sejenak kalimat yang Ia ucapkan tadi. Pria itu lalu melingkarkan kedua tangannya di tubuh Jihye dan berhasil membuat gadis itu kembali tersentak karena sikapnya tersebut. Secara perlahan, Ia pun mulai mengeratkan pelukannya bersamaan dengan seluruh perasaannya yang luruh detik itu juga.

“It was a lie, if I said that I don’t have a feeling towards you ..”

Jihye tahu kemana arah ucapan Taehyung ini. Ia tahu jika saat ini Taehyung sedang berusaha mengatakan semuanya terkait perasaannya yang selama ini selalu disimpannya rapat-rapat. Gadis itu tahu jika saat ini Taehyung tengah berusaha keras untuk menyampaikan perasaannya ditengah-tengah kerapuhan yang perlahan semakin merenggut dirinya dan menariknya nyaris pada jurang keputus-asaan.

Setelah Taehyung mengatakan kalimat itu barusan, pria itu kini tidak lagi membuka mulutnya untuk bicara karena dirinya sudah terlalu lemah karena tekanan yang beberapa hari selalu mengganggunya. Dan alhasil Taehyung pun kehilangan kesadarannya, pria itu memejamkan matanya. Kedua tangannya yang berada di pinggang Jihye pun perlahan mulai mengendur seiring Taehyung semakin jatuh kesadarannya.

Jihye yang menyadari pelukan Taehyung perlahan mulai mengendur ditambah dengan pria itu yang sudah tidak lagi bicara akhirnya balas melingkarkan kedua tangannya ditubuh Taehyung. Ia membalas pelukan Taehyung dengan sangat erat agar tubuh Taehyung tidak benar-benat terjatuh ke jalan. Selain itu disamping karena ingin menahan tubuh Taehyung, Ia juga ingin membuat Taehyung merasa ‘lebih baik’ atas perasaan ‘tertekannya’ setelah beberapa hari ini. Jihye berusaha untuk memeluk seluruh kerapuhan yang dirasakan oleh pria yang sebenarnya juga amat dicintainya tersebut.

.

.

.

*Fin*

BTS first story with 2000< words! Yeeaayyy!! >.<

Gak tau deh ini bisa disebut fanfict atau ngga. Aku gak yakin kalau ada yang suka sama nih fiction (terutama ARMY, karena aku bawa Tae di sini :3). Maaf kalo masih banyak typo di sana-sini, maaf juga kalo alurnya aburadul nan absurd tralala. Pokoknya ..

Sorry for bad fiction deh yaaa …

Btw, makasih buat yang udah baca loh~
Jangan lupa mampir ke kolom komentar atau kirim ‘Like’ nya yaa~ ^^

ThanKYU

Advertisements

2 thoughts on “LIE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s