ONE AND ONLY


 

ONE & ONLY

¶ Title: ONE AND ONLY | Author: Areumdaun Lee | Cast: Cho Kyuhyun, Cho Yoora/YOU(OC) | Genre: Angst–Drama–Family | Rating: General | Length: Oneshoot ¶

©AL_2017

.

.

Maaf, aku meninggalkanmu sendiri. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi.

.

.

“Cho Yoora, cepat turun! Sarapanmu sudah siap!”

Yoora, yang semula tengah menatap pantulan dirinya di cermin rias miliknya seketika langsung menoleh ke arah pintu kamarnya begitu telinganya menangkap suara yang terdengar familiar di indera pendengarannya. Kemudian tanpa berniat menyahuti seruan dari lantai satu rumahnya, gadis itu kembali mengalihkan pandangannya ke cermin. Kembali menatap pantulan dirinya di sana dengan raut wajah tanpa ekspresi dan tatapan mata kosong. Lalu lima detik berikutnya Ia kemudian meraih ponselnya yang berada di atas meja rias lantas bangun dari duduknya untuk mengambil tasnya yang Ia letakkan di atas tempat tidurnya. Yoora memasukkan ponselnya ke dalam tas lebih dulu sebelum akhirnya gadis itu berjalan ke arah pintu, turun ke lantai dasar untuk sarapan.

Ya, kenapa langkahmu lamban sekali eoh? Kau sengaja ingin membuatku menunggu lama?”

Saat Yoora berjalan mendekat ke meja makan, pertanyaan itulah yang pertama kali menyapa dirinya. Yoora lagi-lagi tidak menyahut, gadis itu hanya menatap sekilas seorang pria yang baru saja duduk di kursi paling ujung meja makan, yang tidak lain adalah kakak laki-lakinya. Ya, pria yang baru saja melemparkan pertanyaan tadi adalah kakak laki-laki Yoora yang setahun lebih tua darinya. Cho Kyuhyun, seorang pria muda dengan begitu banyak prestasi gemilang saat masa sekolahnya dulu dan kini kakak Yoora itu merupakan seorang pengusaha sukses yang juga bergelung di dunia musik.

“Aku akan pulang larut nanti malam. Jika kau lapar, aku sudah menyiapkan bahan-bahannya. Kau hanya tinggal memasaknya saja.” ucap Kyuhyun, memulai obrolan pertama mereka pagi ini. Pria itu kemudian mulai menyantap sarapannya seraya kembali bicara di detik berikutnya. “Oh ya, karena aku akan pulang larut, kau jangan pergi kemana pun tanpa memberitahuku dulu.” katanya.

Yoora baru saja menghempaskan bokongnya di kursinya saat kakaknya itu kembali bicara. Ia enggan menyahuti ucapan sang kakak walau satu kata pun . Gadis itu masih terdiam, mulai menyantap sarapannya tanpa berniat melihat Kyuhyun barang dua detik pun untuk sekedar mengetahui bagaimana ekspresi kakaknya saat itu. Ia tahu saat Kyuhyun bicara dengannya pun, pria itu juga tidak menatapnya. Jadi untuk apa Yoora melihat wajah Kyuhyun jika kakaknya saja tidak ingin melihatnya. Begitulah yang Yoora pikirkan sejak kakaknya itu berubah ketika kariernya meroket, Kyuhyun seolah melupakannya di sana. Dan jika saja dirinya dijinkan berpendapat di hadapan kakaknya, sebenarnya Yoora ingin sekali mengatakan bahwa Ia sangat membenci sikap Kyuhyun yang sekarang. Entah kenapa setiap kali Yoora melihat sikap Kyuhyun yang sangat berbeda dari yang sebelumnya, hatinya selalu merasa sakit hingga dirinya selalu ingin menangis.

Bicara soal perubahan sikap yang terjadi pada Kyuhyun, Yoora tidak tahu pasti karena alasan apa kakaknya itu berubah drastis. Tapi yang Ia tahu Kyuhyun menjadi dingin padanya adalah karena faktor pekerjaannya yang selalu menyita banyak waktunya. Karena pekerjaannya Kyuhyun jadi jarang memiliki waktu bersamanya dan hampir tidak pernah duduk berdampingan hanya untuk sekedar mengobrol ringan. Kakaknya itu seolah berubah menjadi workaholic, yang entah mampu membedakan antara sibuk atau sangat mencintai pekerjaannya tidak. Entah Kyuhyun menyadari ini atau tidak, tapi semenjak Kyuhyun berubah menjadi super sibuk dan tidak lagi memperhatikannya, Yoora merasa semakin kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang Ia miliki setelah kedua orangtuanya meninggal tiga tahun lalu.

“Aku sudah selesai. Yoora, bisakah kau merapikan piringku setelah ini?” Kyuhyun bangun dari kursinya dan meraih jasnya yang tersampir di kursinya lalu memakainya dengan cepat. Pria itu menyudahi sarapannya meskipun belum benar-benar selesai seperti yang dikatakannnya. Sedetik kemudian Kyuhyun kembali bicara sebelum akhirnya pamit pada Yoora. “Aku sudah terlambat, jadi aku harus pergi sekarang. Mianhae.”

Belum sempat Yoora menjawab ucapannya, Kyuhyun sudah pergi meninggalkan ruang makan lebih dulu. Meninggalkan Yoora yang masih terdiam di kursinya dan hanya menatapnya dengan raut wajah tanpa ekspresi. Namun ketika Yoora melihat Kyuhyun semakin menghilang dari pandangannya, perlahan tatapan matanya mulai meredup. Manik kecokelatan itu jelas sekali menampakkan kesedihan dan luka di sana.

.

.

Kyuhyun kini sedang memeriksa berkas yang dibawakan oleh sekretarisnya beberapa jam lalu. Kyuhyun terlihat serius sekali dengan pekerjaannya meskipun Ia sudah menandatangi berkas-berkas yang membludak itu -entah sudah berapa lama- yang sebelumnya memang belum sempat Ia periksa lantaran jadwal pekerjaannya yang terus menyita waktunya. Bahkan sekarang hanya dirinyalah yang masih berada di kantor sementara karyawannya yang lain sudah kembali ke rumah. Ck, benar-benar tipikal orang yang gila kerja. Ugh!

Sepuluh menit lagi berlalu dan Kyuhyun sudah menyelesaikan semua berkas-berkas tebal di atas meja kerjanya. Kemudian ketika Kyuhyun baru saja berniat untuk menyandarkan punggungnya, ponselnya menjerit keras menyuarakan ringtone bervolume penuh. Kyuhyun pun tersentak kaget seraya berdecak kesal ketika tahu bahwa ponselnya tengah menjeritkan alarm. Ia lalu meraih ponselnya yang Ia letakkan di atas meja kerjanya, menatap kesal ponsel putih miliknya tersebut sambil memikirkan alarm apa yang bunyi di jam segini?

Namun begitu manik Kyuhyun terfokus pada rentetan kalimat yang tertera di ponselnya, pria itu seketika langsung menghentikan umpatan kesalnya detik itu juga. Kalimat dengan huruf kapital bertuliskan ‘HAPPY BIRTHDAY CHO YOORA! SARANGHAE YOORA-YA!’, sukses menarik perhatian Kyuhyun dan membuat hatinya mencelos di saat yang bersamaan. Tiba-tiba Kyuhyun teringat dengan sikapnya dan apa yang Ia ucapkan pada Yoora tadi pagi, hal itu pun semakin membuat Kyuhyun merasa tidak nyaman. Ia merasa bersalah karena telah bersikap buruk dan melupakan hari penting Yoora yang jatuh pada tengah malam ini.

“Sudah tanggal 02 Maret? Ck, aku sungguh melupakan ulang tahun anak itu.”

.

.

Yoora menatap sebuah kue ulang tahun dengan lilin bertuliskan angka 24 yang Ia letakkan di atas meja. Ia menatapnya tanpa minat, seolah dirinya sungguh tidak menginginkan kue itu meskipun tampilannya terlihat menarik sekalipun. Namun Yoora juga tidak bisa acuh begitu saja karena kue itu adalah simbol dari peringatan hari pentingnya. Setidaknya Ia harus membuat harapan dan meniupkan lilin ulang tahunnya agar kue itu tidak terlalu terbuang sia-sia. Yoora pun lantas menyatukan kedua tangannya dan menutup mata untuk berdoa, mengucapkan harapan di ulang tahun ke 24-nya. Gadis itu menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara perlahan, mencoba untuk menyiapkan hatinya sebelum Ia mengucapkan harapannya.

“Tuhan .. hari ini adalah ulang tahunku. Umurku sudah 24 tahun. Itu berarti, umurku juga berkurang satu tahun.”

Seseorang baru saja memasuki rumah ketika kalimat itu Yoora ucapkan dalam hati. Ia masuk dan melangkah menuju ruang keluarga tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Seseorang itu kemudian menapakkan kakinya dengan gerakan hati-hati agar tidak membuat Yoora menyadari keberadaannya di sana.

“Aku tidak akan meminta kado yang istimewa, karena ulang tahunku kali ini pun tidak terasa istimewa.”

Yoora mengucapkan kalimat itu dengan suara bergetar meskipun Ia mengucapkannya dalam hati. Dirinya nyaris menitikkan air mata ketika mengatakan bahwa ulang tahunnya kali ini tidak istimewa. Namun Yoora tetap menahan diri untuk tidak menangis, Ia tidak ingin menangisi kesendiriannya di tengah-tengah perayaan ulang tahunnya.

“Karena ayah dan ibuku sudah bersama-Mu di sana dan kakakku sekarang adalah seseorang yang sukses. Aku rasa aku tidak perlu apapun lagi sebagai kado ulang tahunku. Kebutuhanku bahkan sudah lebih dari cukup karena Kyuhyun oppa selalu bekerja keras untuk menghidupi kebutuhan kami berdua.”

Api pada lilin bertuliskan angka 24 itu sempat bergoyang ketika seseorang itu meletakkan sesuatu di atas kue ulang tahun Yoora. Hembusan napasnya yang mengenai lilin itu nyaris membuat cahaya cantik itu padam jika saja seseorang itu tidak cepat menahan napasnya kala tangannya meletakkan sesuatu di atas kue. Dan ketika usahanya sukses menata benda kecil nan lucu itu, dirinya pun duduk di atas karpet kemudian menatap Yoora yang masih memejamkan matanya. Ia tersenyum ketika melihat wajah tenang milik gadis yang tengah mengucapkan harapan itu.

“Apa yang Ia harapkan kali ini? Apakah Ia meminta sesuatu yang lucu lagi, seperti saat ulang tahun masa kecilnya?” gumam seseorang itu ketika pikirannya kembali membawanya pada kenangan masa kecilnya bersama Yoora. Sebuah kenangan lucu yang membuatnya tersenyum sendiri saat mengingat harapan yang Yoora katakan padanya, mengenai keinginannya di ulang tahunnya yang ke-5, yang ingin menikah dengan Shindong— salah satu anak laki-laki bertubuh gembul dengan wajah imut yang dulu bertetangga dengan mereka. Ketika ditanya apa alasan Yoora ingin menikah dengan Shindong, gadis itu menjawab dengan polosnya, ‘Karena Shindong memiliki wajah yang imut, jadi nanti anak-anakku juga akan terlihat imut seperti dia.’ Jawaban Yoora itulah yang kini membuat seseorang yang duduk di depannya (tanpa sepengetahuannya) kembali tersenyum sendiri, mengenang betapa polos adik kecil kesayangannya itu.

Saat seseorang itu sedang tersenyum mengenang tingkah lucu Yoora, gadis itu justru menunjukkan ekspresi yang kontradiksi dengannya. Yoora tiba-tiba meneteskan air mata di depannya, membuat seseorang itu langsung menghapus senyumnya perlahan kala matanya menangkap kristal bening itu jatuh mengenai kulit wajah gadis itu.

“Tuhan, Kau mengetahui apa yang kumiliki saat ini memang sudah cukup bagiku. Tapi kenapa aku justru tidak merasa bahagia sepenuhnya? Kenapa aku merasa bahwa semua ini justru membuatku terluka?”

Yoora yang semula bertekad untuk tidak menangis di hari ulang tahunnya, kini justru sudah tidak sanggup menahan diri lagi. Dinding pertahannya runtuh detik itu juga saat Ia kembali memikirkan Kyuhyun. Tangisnya pecah saat Yoora kembali mengingat semua hal tentang Kyuhyun, mulai dari masa kecil mereka berdua yang penuh canda tawa, masa remaja mereka yang selalu dihabiskan bersama, sampai ketika kakaknya itu berubah menjadi seperti sekarang. Sungguh, mengingat itu semua membuat Yoora benar-benar menangis di sana.

“Tuhan, aku memang tidak menginginkan kado apapun hari ini. Tapi bisakah kau mengembalikan Kyuhyun oppa padaku? Aku hanya ingin Kyuhyun oppa kembali, hanya itu. Kumohon, kembalikan Kyuhyun oppa yang kukenal. Kembalikan kakakku yang dulu sangat memperhatikanku. Aku sangat merindukannya.”

Melihat air mata Yoora yang semakin deras mengalir di kulit wajahnya, seseorang yang masih tetap berada di depan gadis itu kembali merasakan sesuatu yang menganggu hatinya. Perasaan bersalah pun kembali menelusup masuk ke dalam rongga hatinya kala manik cokelatnya menangkap kristal bening milik Yoora. Ia merasa bahwa tangis gadis itu pastilah ada kaitannya dengan dirinya yang mungkin saja telah menyakiti perasaannya.

Sementara seseorang itu tengah merenungkan kesalahannya yang mungkin telah menyakiti perasaan Yoora, di saat yang bersamaan Yoora pun kini mulai kembai membuka kedua matanya secara perlahan kala menyudahi ‘make a wish’nya.

“Yoora-ya ..”

Yoora tertegun ketika gadis itu baru menyadari keberadaan seseorang di sana. Suara bariton yang khas milik seseorang itu sukses membuat darah Yoora di balik kulitnya berdesir ketika Yoora mendengar Ia menyebutkan namanya. Sungguh, gadis itu tidak menduga jika orang yang tadi Ia sebutkan dalam doanya kini sudah berada di hadapannya. Ya, benar. Seseorang yang sejak tadi menunggunya di sana tidak lain adalah kakak laki-laki yang dirindukannya. Cho Kyuhyun.

Kyuhyun kemudian mengulurkan tangannya ke wajah Yoora untuk menghapus jejak-jejak air mata gadis itu. Ketika Kyuhyun melakukannya Yoora tetap bergeming di sana, membiarkan tangan kokoh milik Kyuhyun menyentuh wajahnya.

“Kenapa kau menangis, hm?” tanya Kyuhyun pelan. Suara lembutnya dan tatapan hangat di mata Kyuhyun membuat setetes kristal bening itu kembali jatuh di wajah Yoora. “Apa kau menangis karenaku. Iya?”

Oh tuhan, Yoora tidak bisa mengendalikan tangisnya lagi. Dadanya terasa sangat sesak ketika Ia berusaha menahan air matanya, terlebih lagi sekarang Kyuhyun sedang duduk di depannya, hal itu sungguh membuat Yoora semakin tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis di sana. Haruskah Ia mengaku jika dirinya memang sedang menangisi pria itu? Dan bisakah Ia menjawab pertanyaan kakaknya barusan? Entahlah. Yoora tidak tahu apa yang harus Ia lakukan sekarang. Pikirannya terlalu pening untuk memikirkan sebuah jawaban untuk Kyuhyun, lidahnya terlalu kelu untuk sekedar menyebutkan nama pria itu dan hatinya terlalu terkejut dengan kehadiran Kyuhyun yang tiba-tiba muncul di hadapannya tanpa sepengetahuannya.

Lalu ketika Kyuhyun tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Yoora, Ia pun akhirnya memutuskan untuk merengkuh tubuh sang adik, yang seketika langsung membuat Yoora menangis sejadi-jadinya kala kedua tangan kokohnya melingkar ditubuh gadis itu.

“Maafkan aku, Yoora. Maafkan aku.” ucap Kyuhyun penuh penyesalan saat tahu bahwa Yoora menangis memang karena dirinya. “Aku pasti telah sangat menyakiti perasaanmu selama ini. Sungguh, maafkan aku. Kau boleh menangis sambil mengumpatku, bahkan jika kau mau memukulku tidak apa-apa. Aku bisa menerimanya.”

Yoora tidak menyahuti ucapan Kyuhyun, Ia hanya diam dan terus menangis dipelukan pria itu hingga membuat Kyuhyun pun semakin mempererat pelukannya. Bagaimana mungkin Yoora mampu melampiaskan perasaannya dengan mengumpat atau memukul Kyuhyun, sementara rasa sayangnya pada kakak laki-lakinya itu jauh lebih besar daripada perasaan sakit hatinya. Katakanlah Yoora terlalu egois pada dirinya sendiri, yang tidak bisa membenci Kyuhyun meskipun Ia sadar kakaknya itu telah melukai perasaannya. Tapi bagaimana? Yoora bukanlah gadis pendendam, Ia sungguh tulus menyayangi Kyuhyun sepenuh hati dan teramat sangat menyayanginya bahkan melebihi Ia menyayangi dirinya sendiri. Hanya ada Kyuhyun dihatinya dan selamanya akan begitu, karena hanya Kyuhyun-lah orang terdekat yang Yoora miliki. Karena hanya Kyuhyun satu-satunya keluarga yang Yoora miliki saat ini, Ia tidak mau kehilangan kakak laki-lakinya hanya karena perasaan benci atau marah terkait dengan perubahan yang terjadi pada pria itu.

.

.

Pukul 01.28 dini hari, Yoora sudah jatuh terlelap di atas tempat tidurnya. Gadis itu sudah tertidur sejak sepuluh menit lalu setelah sebelumnya Ia banyak menangis di depan Kyuhyun. Sementara itu dengan Kyuhyun sendiri, pria itu justru masih terjaga di sana dan hanya terus menatap Yoora yang tertidur di sampingnya. Ya, malam ini Kyuhyun memutuskan untuk menemani adiknya setelah Ia mengetahui semua perasaan yang Yoora sembunyikan darinya.

Kyuhyun menghadapkan posisi tubuhnya pada Yoora dengan tangan kanannya yang Ia gunakan untuk menopang kepalanya, sementara tangan kirinya menggenggam erat tangan sang adik. Kyuhyun menatap wajah tidur Yoora dengan tatapan menyesal, perasaan bersalah masih menggelayuti hatinya ketika pikirannya kembali mengingat bagaimana Yoora menangis di hadapannya beberapa saat lalu. Apa yang telah Ia lakukan pada adiknya? Bagaimana bisa Ia tidak menyadari bahwa sikapnya selama ini telah menyakiti gadis itu? Oh ya tuhan, dirinya benar-benar telah bersikap buruk pada sang adik.

“Maaf, aku meninggalkanmu sendiri. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi.” ucap Kyuhyun pelan seraya kemudian mengecup lembut kening Yoora—cukup lama, lalu setelah itu Kyuhyun pun mulai memperbaiki posisi tubuhnya tanpa sedikitpun melepaskan genggaman tangannnya dari tangan Yoora. Mata Kyuhyun perlahan mulai terpajam kala rasa kantuk sudah tidak bisa ditahannya lagi. Dan akhirnya keduanya pun kini sudah terlelap bersama, tenggelam dalam dunia mimpi masing-masing.

.

.

.

*Fin*

Apa ini? Maafkan fict yang absurd dan gak berkualitas ini. Efek kena writerblock kan gini, akunya mendadak susah nyatuin feeling sama Kyuhyun. Huhuuu~ T_T

Well, makasih buat yg mampir & baca. Jangan sungkan kirim saran & kritiknya yaa .. ^^

Sekali lagi, sorry for typo & sorry for bad fiction.

ThanKYU

Advertisements

6 thoughts on “ONE AND ONLY

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s