[MONSTA X FF PROJECT] — STEAL YOUR HEART (SHOWNU Ver.) #Part 1


Shownu - Son Hyun Woo

¶ Title: Steal Your Heart | Author: Areumdaun Lee | Cast: Son Hyun Woo, Baek Na Ra/YOU(OC) | Genre: Drama–Romance | Rating: General | Length: Two Shoot ¶

©AL_2017

.

THIS FANFICT IS PURE MINE!
DO NOT TRY TO STEAL IT & COPY-PASTE IN OTHER PLACE!

.

Jam weker yang terletak di atas meja nakas di samping tempat tidur terus berdering keras sejak tiga puluh detik lalu. Benda bulat berwarna biru muda itu menjerit keras membangunkan seseorang yang terlelap di balik selimut putih yang tampaknya, Ia masih ingin bergelung di sana sedikit lebih lama lagi. Lalu selang tiga menit berikutnya tangan kokoh yang semula berada dibalik selimut mulai terulur meraih jam weker di sampingnya untuk menghentikan suara berisik yang mulai mengganggunya itu.

Son Hyun Woo, pria itu kemudian langsung terduduk ketika matanya melihat waktu yang tertera di jam wekernya. Pukul 07.30!

Argh! Sial, aku akan terlambat!” decak Hyunwoo dengan nada setengah jengkel. Ia pun lantas menyibak selimutnya dengan cepat dan langsung berlari menuju kamar mandi. Sekarang dirinya sudah tidak punya waktu untuk bersantai-santai lagi, Ia harus bergerak cepat atau nanti dirinya akan kehilangan kesempatan wawancaranya pagi ini.

Ya, wawancara. Pagi ini Hyunwoo memiliki agenda khusus yang berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya setiap pagi Ia akan pergi ke tempat latihan Taekwondo untuk mengajar ilmu bela diri, hari ini Hyunwoo justru memulai senin paginya dengan mengikuti wawancara di salah satu perusahaan yang cukup terkenal di Korea. Itu pun jika bukan karena keinginan ibunya yang selalu memintanya untuk bekerja sebagai karyawan perusahaan, mungkin saat ini Hyunwoo masih bisa mengajar anak-anak latihan bela diri di tempatnya biasa mengajar.

Setelah selesai mandi dan bersiap-siap, Hyunwoo pun langsung bergegas turun ke lantai satu rumahnya. Waktunya tinggal lima belas menit lagi sebelum wawancaranya dimulai. Hyunwoo berjalan mendekat ke meja makan dan melihat ibunya yang sedang menyiapkan sarapan di sana. Pria itu lalu mengambil segelas air putih yang kemudian langsung diminumnya hingga tandas. Sang ibu yang melihatnya hanya minum segelas air putih terlihat sedikit khawatir dengan kondisi puteranya yang akan pergi wawancara tanpa mengisi isi perutnya dengan makanan.

“Hyunwoo–ya, kenapa hanya minum air putih? Makanlah sedikit roti isi yang sudah ibu siapkan. Kau harus sarapan meskipun hanya sedikit.” ucap sang Ibu.

Hyunwoo menyampirkan tas kerjanya di bahu kirinya, pria itu lalu menggeleng menjawab ucapan ibunya. “Maaf bu, aku sudah terlambat. Aku akan makan di jalan saja.” katanya seraya kemudian mengecup pipi Ibundanya.

“Baiklah. Kalau begitu, hati-hati di jalan. Jangan lupa berdoa sebelum kau memulai wawancaramu.”

“Tentu saja, bu. Baiklah, aku pergi sekarang. Sampai nanti, bu.” pamit Hyunwoo seraya sekali lagi mendaratkan ciuman hangat diwajah sang Ibu. Setelah itu Ia pun langsung bergegas meninggalkan rumah dengan sedikit berlari. Ia harus bergerak cepat jika dirinya tidak ingin ketinggalan bus nanti.

.

.

Dua jam yang menegangkan dan amat mendebarkan bagi Hyunwoo akhirnya berakhir sudah. Pria itu kini bisa bernapas dengan lega setelah selama dua jam menunggu dan sepuluh menit mengikuti wawancara, sekarang dirinya sudah bisa merasa rileks kembali. Hyunwoo sebenarnya tidak merasa tegang sedikit pun saat tadi Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan padanya ketika wawancara berlangsung. Tapi karena ini adalah pengalaman pertamanya mendaftarkan permohonan diri pada sebuah perusahaan diusianya yang akan menginjak dua puluh enam tahun, Hyunwoo pun tidak bisa menampik jika sebenarnya Ia sempat merasa gugup lantaran khawatir jika dirinya akan melakukan kesalahan saat wawancara tadi.

Ketika Hyunwoo meninggalkan perusahaan tempatnya tadi mengikuti wawancara, pria itu tidak bisa menyembunyikan senyumannya ketika mengingat bagaimana ucapan beberapa jajaran direksi dan staff rekrutmen perusahaan yang memuji dirinya. Mengatakan bahwa selain dirinya yang memiliki proporsi tubuh yang bagus ternyata Ia juga terlihat sangat sopan dan terkesan memiliki kedislipinan dalam mengatur waktu dengan sangat baik. Bahkan ketika salah satu staff rekrutmen memeriksa resume dirinya yang memiliki beberapa prestasi dalam bidang ilmu bela diri terlihat takjub padanya. Menurut mereka jarang ada calon karyawan yang memiliki keahlian khusus seperti Hyunwoo karena biasanya seseorang yang jago dalam seni bela diri akan kembali mengajar di tempatnya belajar ilmu bela diri tersebut. Hyunwoo hanya pun tersenyum mendengar banyak pujian yang dilontarkan padanya dan mengatakan bahwa Ia melakukan wawancara tersebut sebenarnya untuk membuat Ibunya bangga jika nanti dirinya bisa bekerja di salah satu perusahaan sesuai keinginan sang Ibu.

Dan sekarang di sinilah Hyunwoo, duduk menunggu bus di halte. Pria itu baru ingat bahwa sejak dua jam lalu dirinya belum mengisi perutnya sama sekali. Hyunwoo pun berniat untuk mampir ke restoran Kihyun lebih dulu sebelum dirinya pulang ke rumah. Sudah lama juga Ia tidak bertemu dengan sahabat karibnya tersebut, jadi Ia akan mampir dulu ke sana untuk sekedar menyapanya.

Namun saat bus yang ditunggu oleh Hyunwoo sudah tiba, sesuatu yang tidak terduga terjadi beberapa meter di depan matanya. Sebuah sepeda motor dengan kecepatan sedang baru saja menyerempet seseorang hingga membuat beberapa barang yang dibawa oleh korban jatuh berserakan di aspal. Hyunwoo pun yang merasa mengetahui kejadian tersebut tidak bisa acuh begitu saja, Ia kemudian langsung mengambil inisiatif dengan berlari lebih dulu ke tempat kejadian sebelum orang-orang disekitarnya. Dengan cepat Hyunwoo berlari menuju korban dan membantu korban yang ditinggalkan begitu saja oleh si pengendara sepeda motor yang tadi menabraknya.

Sesampainya di sana Hyunwoo langsung mendekati korban, bertanya tentang kondisi korban yang tengah menahan sakit. “Nona, kau baik-baik saja? Apa kau terluka parah?” tanya Hyunwoo penuh rasa simpati. Wajahnya bahkan sedikit khawatir lantaran korban yang berada di hadapannya itu adalah seorang gadis.

Gadis itu menggeleng, “Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih.” jawabnya seraya berusaha untuk bangun dan Hyunwoo dengan sigap membantunya berdiri. Setelah gadis itu berdiri, Hyunwoo lantas mulai memunguti barang-barang milik si gadis satu per satu. Sementara si gadis yang berdiri sambil menahan sepedanya di samping Hyunwoo diam-diam memperhatikan gerak-gerik pria itu seolah baru menyadari sesuatu. Rasanya Ia merasa tidak asing dengan sosok tinggi dan tegap yang berdiri di hadapannya tersebut.

Saat Hyunwoo tengah merapikan beberapa letak bunga dan kotak yang dibawa oleh si gadis ke dalam keranjang sepeda miliknya, gadis tersebut mengeryitkan alisnya seraya perlahan mulai tersenyum ketika dirinya menyakini betul bahwa sosok Hyunwoo memanglah seseorang yang dikenalnya.

Ketika Hyunwoo sudah selesai membantu merapikan barang bawaan milik gadis itu, Ia pun lalu menatap gadis itu dan bicara. “Aku sudah merapikan barang-barangmu, kurasa sekarang kau bisa pergi ke—” Hyunwoo menggantung kalimatnya ketika Ia melihat gadis itu kini tengah tersenyum padanya. Hyunwoo terdiam, kedua alisnya tertaut ketika dirinya tidak mengerti kenapa gadis itu melemparkan senyum padanya.

“Son Hyun Woo. Annyeong.” ucap gadis itu kemudian tanpa sedikitpun menghilangkan senyum manisnya.

Hyunwoo terkejut ketika mendengar ucapan si gadis. Dari mana gadis itu mengetahui namanya? Rasanya Hyunwoo tadi tidak menyebutkan namanya pada gadis itu. Hyunwoo pun masih diam memikirkan berbagai pertanyaan dalam benaknya mengenai siapa sebenarnya gadis yang ditolongnya tersebut. Apa Ia mengenal gadis itu? Apa mereka pernah bertemu sebelumnya? Entahlah. Hyunwoo tidak tahu.

“Kau tidak mengenalku? Ini aku, Nara.” ucap gadis itu lagi ketika melihat Hyunwoo masih terdiam, tidak mengerti situasi yang terjadi di antara mereka saat ini.

“Nara?” ulang Hyunwoo dengan nada bingung. “Nara .. siapa?” tanyanya.

Gadis itu kemudian tertawa pelan ketika melihat ekspresi lucu Hyunwoo, pria itu benar-benar tidak tahu menahu soal siapa dirinya. Ekspresi bingungnya dengan mata bulatnya yang menggemaskan, rasanya masih sama seperti saat dulu Nara pertama kali mengenalnya tujuh tahun lalu. Hyunwoo yang Ia kenal tidak berubah, masih sama persis dengan ingatan yang melekat di kepalanya.

Ya, Son Hyun Woo. Kau benar-benar melupakanku? Ini aku, Baek Nara. Kita pernah berada di kelas yang sama saat kelas 12 dulu. Apa kau sungguh sudah melupakanku?”

.

.

Pukul 18.00 p.m, langit sudah berubah gelap dan malam sebentar lagi akan bergulir datang. Tanpa terasa sebentar lagi aktivitas di awal minggu ini akan segera berakhir. Beberapa orang pada jam ini akan kembali ke rumah setelah bekerja sejak pagi tadi. Namun tidak sedikit pula yang memutuskan untuk tetap berada di luar hingga beberapa jam kedepan. Ingin terus menikmati sisa waktu mereka demi melepas penat sebelum akhirnya kembali ke rumah masing-masing. Untu bersantai dengan teman atau hanya sekedar jalan-jalan di sekitar.

Salah satunya adalah Hyunwoo yang saat ini sedang berada di sebuah toko bunga sederhana milik Nara. Hyunwoo yang sejak siang tadi bersama Nara setelah tanpa sengaja bertemu dengannya di jalan, kini justru berakhir di tempat gadis itu setelah siang tadi Ia melupakan rencana awalnya yang ingin berkunjung ke tempat Kihyun. Hyunwoo bahkan mendapatkan kesempatan ‘langka’, yakni Ia bisa menghabiskan waktu makan siangnya bersama seorang gadis! Oh ya ampun, jika saja teman-temannya mengetahui hal ini, dirinya pasti akan menjadi bahan ledekan mereka semua. Ketika memikirkannya pun membuat Hyunwoo bersemu malu lantaran Ia tahu jika selama ini dirinyalah yang jarang sekali –NYARIS TIDAK PERNAH, menghabiskan waktu bersama seorang gadis manapun.

Perlu diketahui bahwa dibandingkan dengan semua temannya, hanya Hyunwoo-lah yang tidak pernah kelihatan dekat dengan seorang gadis. Entah karena Ia yang tidak ingin dekat gadis manapun atau karena sifatnya yang pemalu-lah yang akhirnya membuat Hyunwoo sulit merasa dekat dengan seorang gadis. Terlebih untuk gadis seperti Baek Nara yang dikenalnya saat SMA dulu, Hyunwoo benar-benar tidak tahu harus bagaimana di hadapan gadis itu.

Bicara soal sifat Hyunwoo yang pemalu .. ya, itu benar. Siapa yang pernah menduga jika pria yang memiliki postur tubuh super bagus nan ideal, jago dalam seni bela diri Taekwondo hingga menyabet sabuk hitam, ternyata adalah sosok yang pemalu dan sulit berinteraksi dengan lawan jenis? Hm, itulah Son Hyun Woo.

“Hyunwoo–ya, kau sedang apa?”

Terdengar suara tanya dari dalam, membuat Hyunwoo langsung mengalihkan fokusnya dari aktivitasnya menyusun letak bunga di sebuah vas berukuran sedang. Itu Nara, gadis itu sedang berjalan mendekat ke arahnya. Nara tersenyum ketika matanya bertabrakan dengan iris matanya Hyun Woo, Ia tahu jika pria itu baru saja melamunkan sesuatu karena terlihat jelas dari ekspresi Hyunwoo seperti orang yang baru saja tersadar dari lamunannya.

Hyunwoo meletakkan tangannya di atas kedua pahanya lalu tertunduk menatap bunga baby breath berwarna biru yang dipegangnya seraya merutuki jantungnya, yang entah kenapa kini terasa seperti sedang berontak di dalam rongga dadanya. Oh, tentu saja. Hyunwoo adalah pria yang pemalu dan ya .. mungkin wajar saja jika saat ini dirinya tengah gugup. Ingat, ini hari pertama mereka bertemu lagi setelah lulus bukan?

Ya, apa ini? Kau mengabaikanku?” sindir Nara, saat Ia melihat Hyunwoo belum juga menjawab pertanyaannya sejak sepuluh detik lalu. Nara kemudian menyeret kursi didekatnya dan duduk di hadapan Hyunwoo. Dan Hyunwoo yang mendengar ucapan Nara pun seketika langsung menggeleng tegas.

“Ti–tidak. Bukan begitu, Nara–ya.” jawab Hyunwoo terbata.

Alis Nara terangkat, “Benarkah?” tanyanya lagi. Gadis itu lalu memasang wajah kecewa, “Lalu kenapa kau tidak menjawabku tadi?” sambungnya, yang kemudian membuat Hyunwoo merasa serba salah. Pria itu pun kembali menundukkan wajahnya, menghindari kontak mata dengan Nara.

Tidak, ini tidak benar. Sekarang bukanlah saat yang tepat untuk bersikap pengecut seperti ini. Ugh! Demi tuhan, rasanya ingin sekali memukul kepala Hyunwoo dengan pemukul baseball. Dan ya, salahkan saja sifat pemalunya yang sejak dulu tidak pernah hilang itu. Sebenarnya bukan maksud Hyunwoo untuk mengabaikan pertanyaan Nara beberapa saat lalu, hanya saja Ia tidak tahu kenapa otaknya tiba-tiba bergerak lamban setiap kali Ia berhadapan dengan lawan jenis. Ck! Benar-benar sebuah masalah.

Nara yang memperhatikan Hyunwoo yang terus tertunduk kini bisa melihat wajah Hyunwoo yang mulai memerah. Melihat itu pun membuat Nara kemudian menarik kedua sudut bibirnya, gadis itu mengulum senyumnya tanpa sepengetahuan Hyunwoo. Lalu demi membuat perasaan canggung Hyunwoo berkurang, Nara pun mencoba untuk menarik perhatian pria itu dengan sesuatu yang lain. Ia paham betul jika saat ini Hyunwoo sedang merasa tidak nyaman didekatnya.

“Aduh, apa ini? Aigooo .. berapa lama kau melamun eoh? Lihat, bunga cantik ini sampai kau abaikan juga.”

Nara mengambil bunga baby breath yang dipegang Hyunwoo, gadis itu kembali menatap Hyunwoo dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat. Dan hal itu pun sukses membuat perhatian Hyunwoo kembali terfokus pada Nara. Gadis itu pun lagi-lagi hanya tersenyum menatap wajah pria bermarga Son tersebut.

Nara mulai meletakkan bunga baby breath biru itu satu per satu ke dalam vas, merangkainya dengan penuh kehati-hatian. Sambil merangkai bunga, Nara kembali bicara pada Hyunwoo, yang Ia tahu ucapannya itu nanti akan membuat Hyunwoo tidak bisa berhenti memikirkan ucapannya.

“Kau benar-benar tidak berubah Hyunwoo–ya.”

Hyunwoo memfokuskan iris matanya pada Nara yang duduk di depannya, pria itu hanya terdiam tidak mengerti saat Nara mengatakan kalimat itu padanya.

“Kukira dulu setelah lulus SMA dirimu akan lebih terbuka terhadap orang lain. Tapi ternyata kelihatannya tidak seperti itu.” Nara memberi jeda sejenak, gadis itu lalu menegakkan tubuhnya dan kembali menatap Hyunwoo seraya melanjutkan ucapannya,

“Apa kau masih merasa canggung padaku?” tanya Nara pelan, namun nada bicaranya terdengar sedikit kecewa dengan sikap Hyunwoo tersebut.

Tubuh Hyunwoo seketika langsung menegang begitu kalimat yang Nara ucapkan itu masuk ke dalam indera pendengarannya. Bagaimana ini? Bagaimana Nara bisa tahu jika dirinya memang merasa canggung? Apa Nara mengetahuinya sejak awal? Dan apakah sangat jelas jika dirinya masih belum terbiasa saat dekat dengannya? Hyunwoo tidak tahu mana pertanyaan yang tepat untuk mengekspresikan keterkejutannya saat ini. Pria itu sungguh tidak menduga jika Nara mengetahui ketidaknyamanannya bersama gadis itu.

“Hyunwoo–ya, aku tahu kau memang pria yang pemalu sejak SMA. Bahkan aku tahu, jika selama ini terkadang kau merasa tidak nyaman saat bersama lawan jenis. Apa ucapanku ini benar, hm?”

Mendengar rentetan  kalimat yang meluncur dari mulut Nara membuat Hyunwoo merasakan gemuruh yang tidak biasa di dalam rongga dadanya. Tidak, ini bukan karena Ia marah atau tersinggung pada Nara. Hyunwoo tidak merasa marah atau tersinggung sama sekali dengan kalimat yang Nara katakan padanya. Hanya saja, ketika Ia mendengar ucapan Nara seperti itu, Hyunwoo merasa sangat bersalah padanya.

“Tidak apa-apa jika kau merasa canggung pada beberapa situasi. Tapi sekarang kau sudah dewasa dan kurasa sudah seharusnya kau bersikap sedikit lebih berani.”

“Nara–ya—

“Dan .. ini mungkin terdengar sedikit tidak sopan, tapi aku ingin kau bisa melakukannya. Bisakah kau merasa sedikit lebih nyaman saat bersamaku? Kita bahkan sudah mengenal sejak SMA. Aku hanya ingin kau merasa nyaman, Hyunwoo–ya. Hanya itu.”

Hening sejenak setelah Nara selesai mengatakan kalimat panjang tersebut pada Hyunwoo. Keduanya hanya saling melemparkan tatapan satu sama lain, mencoba untuk mengekspresinya perasaan masing-masing melalui manik mata mereka. Lalu selang beberapa detik berikutnya ponsel Nara berdering menyerukan sebuah panggilan masuk, membuat fokusnya yang semula terarah pada Hyunwoo kini teralihkan pada benda berbentuk persegi empat tersebut.

Nara menatap deretan nama yang tertera di layar ponselnya dengan ekspesi yang sulit dijelaskan oleh Hyunwoo, pria itu tidak tahu siapa yang sedang menelpon Nara saat ini, tapi sepertinya gadis itu terlihat ragu untuk menjawab panggilan tersebut.

Nara kembali menoleh pada Hyunwoo, sambil tersenyum Ia memohon diri untuk menerima panggilan diponselnya. Hyunwoo pun hanya mengangguk mengiyakan, tidak kerebatan jika pembicaraan mereka harus dijeda sejenak.

Hyunwoo menatap punggung Nara yang berjalan menjauh darinya, gadis itu pergi keluar toko ketika Ia mulai bicara dengan seseorang diponselnya. Melihat bagaimana ekspresi Nara saat gadis itu sedang bicara diluar toko dengan si penelpon, entah kenapa tiba-tiba Hyunwoo merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya. Ia tidak tahu apa yang membuatnya merasa seperti itu tapi Hyunwoo sadar akan satu hal, bahwa saat Ia melihat Nara yang berdiri didepan toko, Hyunwoo seolah merasakan deja vu seperti tujuh tahun lalu. Entahlah, mungkin ini hanya perasaannya saja dan tidak benar-benar sungguhan.

.

.

*7 Years Ago ..

Hyunwoo tengah berdiri di pinggir kolam renang saat Ia berniat mengambil gambar beberapa orang temannya dengan kameranya, pria itu tersenyum ketika Ia mendapati fokus lensa kameranya terkunci ke arah Kihyun dan Hyungwon yang sedang bermain pistol air. Hyunwoo pun dengan cepat langsung memotret kedua teman karibnya tersebut.

“Kau seperti seorang fotographer profesional. Apa kau menyukai fotografi?”

Hyunwoo menoleh begitu Ia mendengar suara seorang gadis di sampingnya. Pria itu sedikit terkejut ketika menyadari siapa yang baru saja bertanya padanya. Hyunwoo pun lantas menggeleng, Ia hanya tersenyum ketika kembali memikirkan pertanyaan yang tadi dilontarkan padanya.

“Kenapa? Menurutku kau cocok jadi fotographer.”

“Ah .. tidak. Aku tidak tertarik menjadi seorang fotographer.” jawab Hyunwoo dengan senyum malu-malu. Wajahnya bersemu ketika Ia mendengar komentar yang disampaikan oleh lawan bicaranya.

“Baek Nara! Kemarilah!”

Gadis di samping Hyunwoo itu langsung mengalihkan pandangannya ke depan ketika mendengar seseorang baru saja menyerukan namanya. Seseorang itu adalah kekasihnya, Kim Jisung.

“Iya, sebentar Jisung–ah! Nanti aku akan ke sana!” teriak Nara, menjawab seruan Jisung yang berdiri beberapa meter di depannya.

Nara kembali menolehkan wajahnya pada Hyunwoo di sampingnya, gadis itu tersenyum pada Hyunwoo seraya mengatakan, “Hyunwoo–ya, maukah kau memotretku? Aku ingin difoto juga dengan kameramu.”

Hyunwoo sedikit tercengang dengan ucapan Nara barusan, “Ne? O–oh .. ya. Ya, tentu saja.” jawab Hyunwoo seraya mengangkat kameranya dengan kikuk. Pria itu terlihat canggung mengarahkan fokus kameranya ke arah Nara.

Nara tersenyum senang ketika melihat Hyunwoo mengiyakan permintaannya, gadis itu pun kemudian mulai berpose di depan kamera. Nara memberikan senyuman terbaiknya untuk potret dirinya yang akan diambil oleh Hyunwoo. Dan ketika Hyunwoo sudah memotret gadis itu, Nara mengucapkan terima kasih kemudian langsung berlari meninggalkan Hyunwoo ketika Jisung kembali memintanya untuk datang ke tempat pria itu berada.

Hyunwoo sempat terlihat bingung ketika Nara langsung pergi darinya sebelum gadis itu melihat hasil jepretan kameranya. Lalu ketika maniknya menangkap sosok Nara telah bersama Jisung di sana, Hyunwoo mengalihkan maniknya pada foto Nara yang terpampang di kameranya.

“Cantik.”

Hyunwoo tanpa bergumam dalam hati saat Ia melihat foto Nara, pria itu bahkan tanpa sadar tersenyum ketika manik matanya melihat senyum Nara di foto itu. Dan setelahnya Hyunwoo kembali melihat Nara yang sedang bersama Jisung beberapa meter di depannya, senyum Hyunwoo pun perlahan memudar saat Ia menyadari bahwa dirinya tidak akan mungkin membuat gadis itu bisa tersenyum seperti yang Jisung lakukan pada Nara saat pria itu bersamanya.

.

.

.

To  Be Continue.

Jangan lupa tinggalkan jejak ya~
Sampai ketemu di part 2 ^^

ThanKYU

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s