[MONSTA X FF PROJECT] — STEAL YOUR HEART (SHOWNU Ver.) #Part 2


Shownu - Son Hyun Woo

¶ Title: Steal Your Heart | Author: Areumdaun Lee | Cast: Son Hyun Woo, Baek Na Ra/YOU(OC) | Genre: Drama–Romance | Rating: General | Length: Two Shoot ¶

-Special Appearance-

Kihyun (Monsta X)
Jackson (GOT7)

©AL_2017

.

THIS FANFICT IS PURE MINE!
DO NOT TRY TO STEAL IT & COPY-PASTE IN OTHER PLACE!

.

Nara berjalan keluar dari tokonya ketika gadis itu menerima panggilan diponselnya, Ia mulai bicara dengan si penelpon begitu dirinya sudah berada di depan toko. Ekspresi wajahnya terlihat enggan saat Nara menerima panggilan tersebut, terlebih lagi ketika lawan bicaranya diseberang telepon mulai bicara padanya, Nara merasa semakin merasa malas untuk menanggapinya.

“Aku sudah bilang padamu ‘kan? Aku tidak mau. Kenapa kau begitu memaksa sekali eoh?” ucap Nara dengan ketus.

Gadis itu kesal saat Ia lagi-lagi mendengar lawan bicaranya kembali membahas topik yang sama, yang sebenarnya tidak ingin Ia bicarakan sama sekali. Nara lalu menoleh ke arah tokonya, Ia tersenyum pada Hyunwoo kala manik cokelatnya menangkap basah pria itu, yang ternyata sedang memperhatikannya dari dalam toko. Nara bahkan bisa melihat Hyunwoo tersenyum padanya di sana, saat pria itu sadar bahwa dirinya tertangkap basah sedang memperhatikan gadis itu.

Nara kembali mengalihkan pandangannya ke arah lain saat Ia mendengar lawan bicaranya masih tetap tidak mau mendengarkan ucapannya. Sungguh, Nara benar-benar merasa jengkel jika seseorang terus memaksa dirinya seperti ini. Ia benci jika dirinya tidak didengarkannya dan selalu dipaksa pada kehendak yang tidak diinginkannya.

Ya, Kim Jisung. Kau pikir aku peduli soal itu? Aku bilang, aku sudah tidak mau mendengarkan penjelasanmu lagi. Berhenti memaksaku, Jisung!” tukas Nara yang langsung memotong ucapan lawan bicaranya diseberang sana. Rasanya ingin sekali Nara berteriak di depan ponselnya sekencang-kencangnya jika saja Ia tidak ingat bahwa Hyunwoo sedang menunggunya di dalam toko. Nara tidak tahu apa Hyunwoo akan melihatnya berteriak atau tidak, jika Ia benar-benar melakukan itu. Gadis itu pun kemudian kembali melanjutkan ucapannya sebelum akhirnya Ia langsung memutus panggilannya secara sepihak.

“Setelah ini jangan hubungi aku lagi. Aku benar-benar tidak ingin bicara denganmu lagi, Jisung.” ucap Nara dengan dingin. Kemudian setelah panggilan itu berakhir, Ia pun langsung menghapus kontak Jisung dari ponselnya.

Dan setelah Nara menyelesaikan urusannya dengan Jisung, Ia kembali masuk ke dalam tokonya. Gadis itu kembali bergabung dengan Hyunwoo yang kini sedang melanjutkan merangkai bunga yang sempat terhenti sebelumnya. Ia juga ikut merangkai bunga yang sama dengan yang sedang Hyunwoo kerjakan begitu sudah kembali duduk di hadapan pria itu.

Nara menatap Hyunwoo sekilas saat tangannya memasukkan bunga ke dalam vas, dirinya terlihat tidak enak hati pada Hyunwoo karena tadi Ia harus menerima panggilan masuk dari Jisung dan meninggalkannya selama beberapa menit. Sementara itu dengan Hyunwoo, pria itu justru tidak mengatakan apa-apa saat Nara sudah kembali bergabung bersamanya di sana. Hyunwoo bahkan tidak menyadari jika Nara sempat meliriknya sekilas, Ia hanya fokus pada bunga ditangannya yang sedang dirangkainya. Dan Nara yang melihat Hyunwoo seperti itu akhirnya memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa juga, gadis itu juga memilih untuk membungkam mulutnya dan hanya fokus pada pekerjaannya. Mereka harus menyelesaikannya sebelum akhirnya pesanan ini diantarkan pada pemesannya.

.

.

Malam semakin berlanjut dan langit kini benar-benar sudah gelap sepenuhnya. Jarum jam pada arloji Hyunwoo yang melingkar di tangan kirinya sekarang sudah menunjukkan pukul 20.00 p.m, saat Ia dan Nara sudah mengantarkan pesanan bunga yang mereka rangkai bersama sebelumnya.

Hyunwoo dan Nara berjalan bersisihan menyusuri jalanan aspal, yang sepanjang jalannya ditumbuhi oleh pohon cherry blossom yang sedang bermekaran. Keduanya masih belum bicara lagi setelah Nara menerima telepon dari Jisung dua jam yang lalu. Mereka masih saja memilih membungkam mulut mereka meskipun saat menyerahkan pesanan bunga pada pemesannya keduanya memang sempat bicara sepatah dua patah kata. Itu pun hanya saling menanggapi ucapan si pemesan dengan mengatakan kata “Iya” dan “Tidak” saja.

Lalu ketika Hyunwoo dan Nara menyadari bahwa mereka harus berpisah di persimpangan untuk menaiki bus yang berbeda, keduanya pun baru bicara untuk mengucapkan perpisahan mereka hari ini. Hyunwoo pun lantas menyerahkan plastik belanjaan berisi bahan makanan milik Nara yang tadi dibeli oleh gadis itu di mini market. Nara menerima plastik yang berpindah dari tangan Hyunwoo padanya, Ia tersenyum simpul pada Hyunwoo saat mata mereka bertemu. Oh ya ampun, kenapa rasanya canggung sekali? Apa ini karena Nara yang dua jam lalu menerima telepon dari Jisung dan membuat Hyunwoo merasa diabaikan sebentar selama Ia bicara dengan Jisung di depan toko? Ugh, entahlah. Nara tidak tahu karena alasan apa pria itu kembali bersikap tertutup padanya seperti ini. Yang jelas, Nara merasa tidak nyaman dengan perubahan sikap Hyunwoo ini yang kembali membuat suasana diantara mereka terasa canggung.

Hyunwoo membenarkan letak tas kerjanya yang tersampir di bahu kirinya seraya berucap, “Aku rasa kita harus berpisah di sini, Nara. Bus yang akan kunaiki menuju arah yang berlawanan denganmu.”

“Oh, iya. Baiklah. Kalau begitu .. sampai jumpa.” Nara mencoba menunjukkan air muka yang ceria di depan Hyunwoo. Gadis itu lalu tersenyum pada Hyunwoo dan melanjutkan kalimatnya, “Untuk hari ini, terima kasih banyak. Maaf sudah merepotkanmu, Hyunwoo-ya.”

“Ah, tidak apa-apa. Aku tidak merasa-“

“Nara-ya!”

Hyunwoo dan Nara seketika langsung menoleh secara bersamaan ketika mereka mendengar seseorang baru saja menyerukan nama Nara. Raut wajah keduanya pun sama-sama terlihat terkejut saat mereka mengetahui siapa seseorang yang tadi berteriak beberapa meter dari tempat mereka berdiri.

Adalah Jisung yang kini tengah berjalan ke tempat Hyunwoo dan Nara berada. Jisung terlihat lega karena Ia bisa bertemu dengan Nara tanpa sengaja di jalan seperti ini, tapi berbeda dengan Hyunwoo dan Nara yang langsung menatapnya dengan raut wajah yang kontradiksi dengan pria itu. Jisung sempat melirik ke arah Hyunwoo di depannya sebelum akhirnya Ia menatap Nara dan bicara dengan gadis itu.

“Akhirnya aku bisa bertemu denganmu di sini. Ayo kita bicara, ada sesuatu yang masih ingin kukatakan padamu.”

Hyunwoo menatap Jisung dengan tatapan yang sulit dijelaskan, pria itu terlihat kurang menyukai kehadiran Jisung yang tiba-tiba muncul diantara dirinya dan Nara di sana, Ia merasa bahwa kemunculan Jisung di sana akan membuat situasi yang tidak menyenangkan. Namun Hyunwoo juga tidak menunjukkan raut kebencian pada pria yang Ia ketahui berstatus sebagai kekasih Nara saat SMA dulu, Hyunwoo bukan siapa-siapa Nara selain teman yang pernah berada di satu kelas yang sama dengannya.

“Tapi aku tidak memiliki sesuatu yang perlu kubicarakan padamu. Pergilah, aku tidak ingin bicara denganmu, Jisung.”

Jisung menahan lengan kanan Nara saat gadis itu berniat untuk pergi dari hadapannya. “Nara, dengarkan aku dulu. Aku masih bisa menjelaskan semuanya padamu!”

Hyunwoo yang sadar bahwa dirinya masih berada di dekat Nara dan Jisung akhirnya melangkah mundur, memberi jarak tiga langkah dari mereka agar Ia tidak terlihat seperti sedang mencampuri urusan keduanya.

“Apa lagi yang perlu kudengar darimu eoh? Bukankah sudah kubilang, aku tidak mau bicara ataupun mendengar ucapanmu lagi. Kenapa kau begitu keras kepala sekali, Kim Jisung?!” Nara berusaha menepis genggaman Jisung di lengannya, namun tenaganya tidak cukup kuat melawan tenaga Jisung.

“Ayolah, Nara. Jangan seperti ini, kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik. Semua ini hanya salah paham, kau harus tahu itu. Aku dan-“

Nara terdiam saat Ia mendengar kalimat yang Jisung katakan padanya, gadis itu lantas menatap Jisung dengan tatapan penuh kebencian. “Apa? Salah paham katamu?” tanya Nara dengan suara yang terdengar dingin.

Hyunwoo yang masih memperhatikan Jisung dan Nara di depannya, bisa melihat jika konflik antara keduanya sepertinya sangat serius. Melihat itu pun membuat Hyunwoo ingin mengambil tindakan dengan meleraikan mereka namun Ia sadar bahwa posisi di sana bukanlah siapa-siapa jika Ia masuk ke dalam urusan pribadi mereka. Jadi Hyunwoo memutuskan untuk menunggu saat yang tepat dimana Ia harus melerai Jisung dan Nara.

Heol, omong kosong macam apa ini? Sudah jelas-jelas aku melihat fotomu bersama sekretarismu yang bernama Sera Park itu tersebar di SNS. Kau dan Sera difoto itu sedang berciuman di pinggir kolam renang! Dan kau bilang itu semua hanya salah paham?! Kau brengsek, Kim Jisung!” Nara berteriak marah pada Jisung, gadis itu kini sudah tidak tahan lagi dengan sikap kekasihnya itu. Nara merasa muak dengan Jisung yang selalu menyangkal ucapannya. Dan Jisung sendiri pun kini tidak mampu mengatakan apapun lagi saat pria itu melihat kemarahan Nara yang gadis itu lampiaskan padanya.

Nara lantas melepaskan genggaman tangan Jisung dari lengan kiri lalu tangan kanannya menggenggam lengan kanan Hyunwoo. Nara langsung pergi meninggalkan Jisung tanpa memberi pria itu kesempatan untuk bicara dengannya lagi. Dan Hyunwoo yang saat itu lengannya tiba-tiba ditarik oleh Nara terlihat sangat terkejut dengan sikap yang dilakukan gadis itu. Hyunwoo terlihat kaget sekaligus bingung, Ia tidak tahu harus bagaimana ketika Nara membawanya pergi dari hadapan Jisung.

Nara terus menarik lengan Hyunwoo tanpa mengatakan apapun padanya selama mereka pergi menjauh dari tempat dimana mereka bertemu dengan Jisung tadi. Gadis itu hanya terus berjalan dengan langkah cepat tanpa berniat untuk berhenti sejenak, walau hanya untuk memberikan kesempatan pada Hyunwoo dan menjelaskan apa yang baru saja terjadi diantara dirinya dan Jisung di depan pria itu.

Lalu saat Hyunwoo mulai menyadari kemana mereka pergi, pria itu pun beralih menggenggam lengan Nara. Ia menahan langkah gadis itu kemudian mengatakan, “Nara, tunggu sebentar.” ucapnya yang langsung membuat Nara menghentikan langkah, gadis itu tidak menoleh ke arah Hyunwoo bicara dengannya.

“Kurasa kita sudah terlalu jauh berjalan. Lihat, ini bukan jalan ke rumahmu bukan?”

Nara mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, Hyunwoo benar. Ini memang bukan jalan menuju rumahnya, Nara sungguh tidak menyadari bahwa Ia sudah berjalan terlalu jauh dari rute yang seharusnya Ia ambil untuk pulang. Semua ini pasti karena Ia masih marah pada Jisung sampai-sampai dirinya tidak sadar kemana kakinya melangkah.

Hyunwoo menggenggam lembut lengan Nara seraya kembali bicara, “Ayo kembali, aku akan mengantarmu sampai ke halte sebelumnya.” Ucap Hyunwoo lembut, berusaha untuk membujuk Nara agar gadis itu mau kembali ke persimpangan yang seharusnya menjadi tempat mereka berpisah.

Namun bukannya menyahuti ucapan Hyunwoo, Nara justru malah menundukkan wajahnya saat Hyunwoo mencoba untuk membawanya kembali. Hal itu membuat Hyunwoo yang menyadari gerak-gerik Nara terlihat sedikit aneh di matanya lantas mencoba untuk menatap wajah Nara dengan hati-hati, takut kalau perasaan kesal gadis itu belum hilang sepenuhnya, Nara akan mengomelinya. Tapi yang Hyunwoo dapati saat Ia menilik wajah Nara bukanlah wajah gadis itu yang masih terlihat marah, melainkan Hyunwoo justru mendapati bahwa gadis itu kini tengah menangis.

“Baek Nara. Kau menangis?” tanya Hyunwoo pelan, Ia terlihat terkejut ketika matanya menangkap kristal bening itu mulai membasahi kulit wajah Nara.

Nara berusaha mengalihkan wajahnya ke arah lain agar Hyunwoo tidak melihat air matanya, Ia tidak mau menangis di depan pria bermarga Son tersebut. Itu pasti akan sangat memalukan jika Hyunwoo sampai melihatnya menangis seperti ini.

“Nara-ya? Kau menangis? ” Hyunwoo merasa tidak enak hati ketika Ia melihat Nara menangis seperti ini. Rasanya Hyunwoo ingin sekali melakukan sesuatu untuk menghentikan tangis gadis itu, namun Hyunwoo bingung harus bertindak bagaimana pada Nara.

“Hyunwoo-ya.” Nara menatap Hyunwoo dengan mata berkaca-kaca. “Boleh aku memelukmu sebentar?”

Kedua mata Hyunwoo sempurna terbuka lebar, “Eoh?”

Kemudian tanpa menunggu jawaban dari Hyunwoo yang masih menatapnya dengan tatapan terkejut, Nara lantas melingkarkan tangannya ditubuh Hyunwoo yang alhasil kembali membuat pria itu kembali terkejut oleh sikapnya. Nara memeluk Hyunwoo dengan erat, gadis itu menyembunyikan wajahnya dipermukaan dada bidang Hyunwoo dan didetik berikutnya tangis Nara semakin terdengar jelas.

Hyunwoo bergeming ketika Ia mulai merasakan kepala Nara yang bersandar didadanya. Kedua tangannya terkepal erat ketika telinganya mulai menangkap suara tangis Nara. Dan selang beberapa detik stelah keterkejutannya, Hyunwoo keemudian mulai menggerakkan tangannya ditubuh Nara. Ia membalas pelukan Nara dengan perlahan, mencoba untuk membuat Nara merasa nyaman agar perasaan gadis itu menjadi lebih baik ketika Ia memeluknya.

Saat Hyunwoo memeluk Nara seperti ini, pria itu merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya. Hyunwoo tidak tahu perasaan apa yang Ia rasakan saat ini. Jujur saja, ini adalah pertama kalinya Ia memeluk seorang gadis dan terlebih lagi gadis yang Ia peluk adalah Nara, teman satu kelasnya dulu.

.

.

“Kau benar-benar tidak berubah Hyunwoo-ya.”         

“Tidak apa-apa jika kau merasa canggung pada beberapa situasi. Tapi sekarang kau sudah dewasa dan kurasa sudah seharusnya kau bersikap sedikit lebih berani.”

“Bisakah kau merasa sedikit lebih nyaman saat bersamaku? Kita bahkan sudah mengenal sejak SMA. Aku hanya ingin kau merasa nyaman, Hyunwoo-ya. Hanya itu.”

Beberapa rentetan kalimat yang diucapkan Nara itu terus tergiang ditelinga Hyunwoo, Ia tidak bisa melupakan setiap susunan kata apa saja yang ada di dalam kalimat-kalimat tersebut. Sebenarnya kalimat yang terus Hyunwoo ingat itu sudah lewat seminggu lalu, yang seharusnya sudah tidak perlu Ia pikirkan lagi. Namun bukan Hyunwoo namanya jika dirinya tidak memikirkan kalimat tersebut barang sedetik pun. Pria itu terkadang bisa menjadi sedikit sensitif ketika seseorang menilai dirinya atau membicarakan dirinya. Ya, seperti itulah sisi lain dari sosok Son Hyun Woo.

Bicara soal Nara, sudah seminggu ini Ia tidak lagi bertemu dengan gadis itu. Bukan sebuah hal yang alamiah soal Hyunwoo yang tidak bertemu Nara selama satu minggu ini, melainkan Hyunwoo memang sengaja tidak ingin bertemu dengan Nara dulu. Pria itu berusaha keras menghindari Nara setelah percakapan mereka yang lebih menitikkan obrolan mereka pada masalah yang dihadapi Hyunwoo minggu lalu. Itu benar, Hyunwoo memang sengaja menghindar dari Nara namun bukan berarti Ia tidak mau bertemu dengan Nara lagi setelah ini. Dirinya seperti ini hanya karena Hyunwoo ingin memikirkan semua ucapan Nara mengenai sikapnya selama ini. Ia merasa bahwa apa yang dikatakan oleh gadis itu adalah benar adanya dan Hyunwoo pun bertekad untuk mencoba memperbaiki sikapnya lebih dulu sebelum akhirnya Ia akan pergi menemui Nara lagi.

Terlebih lagi karena apa yang terjadi diantara mereka setelah pertengkaran Nara dengan Jisung di jalan minggu lalu, Hyunwoo merasa Ia sedikit kesulitan untuk bisa kembali bertemu dengan Nara. Hyunwoo sungguh memerlukan waktu sendiri untuk membuat hatinya menjadi lebih berani ketika mengambil sikap di depan Nara. Sungguh, apa yang terjadi diantara dirinya dan juga Nara saat gadis itu menangis di depannya membuat Hyunwoo semakin bertekad untuk memikirkan semua ucapan Nara yang gadis itu katakan padanya.

“Apa aku bisa melakukannya?” gumam Hyunwoo dalam hati ketika Ia membayangkan sosok Nara.

“Son Hyun Woo-ssi?”

Hyunwoo tersentak saat mendengar namanya disebutkan oleh seseorang. Ia pun mendongak dan mendapati seorang pria tengah menyembulkan kepalanya di atas pembatas meja kerjanya. Pria itu adalah Jackson Wang, salah satu rekan kerjanya yang juga menjadi teman pertamanya di perusahaan tempatnya bekerja.

Tunggu. Hyunwoo bekerja? Dimana? Di perusahaan?

Ya, benar. Hyunwoo berhasil mendapatkan pekerjaan dari hasil wawancaranya minggu lalu. Pria itu mendapatkan telepon dari perusahaan dua hari lalu yang mengatakan bahwa dirinya diterima bekerja di sana. Di sinilah dirinya sekarang, duduk di depan sebuah komputer dengan beberapa berkas di atas meja kerjanya, namun isi kepalanya tengah melalangbuana entah kemana karena memikirkan gadis bernama Baek Nara. Ah, satu lagi. Dan Jackson menangkap basah dirinya yang kedapatan melamun di sana.

Ne, Jackson-ssi? Ada apa?” tanya Hyunwoo pada pria berdarah Cina tersebut.

Jackson melongo, rasanya ingin sekali memukul kepala Hyunwoo dengan benda apapun yang dilihatnya, demi membuat pria itu sadar dari lamunan. Bagaimana mungkin Hyunwoo bisa melamun sampai melupakan waktu terpenting bagi makhluk manapun saat merasa lapar. Jackson pun menunjukkan jam tangannya yang menunjukkan waktu tengah hari.

“Makan siang. Kau tidak melupakan itu bukan? Ayo kita pergi makan bersama.” jelas Jackson.

Hyunwoo mengerjap, Ia baru menyadari bahwa sekarang sudah masuk jam makan siang. “Huh? O-oh, iya. Baiklah.” jawabnya kemudian seraya langsung merapikan beberapa berkas lebih dulu sebelum akhirnya pria itu bangun dari duduknya. Jackson mengangguk mantap dan keduanya pun langsung meninggalkan ruangan.

Jackson mengajak Hyunwoo untuk menghabiskan makan siang mereka di atas sebuah atap kantor, dimana keduanya bisa menyantap makanan sembari memandang gedung-gedung di sekitar kantor dan menatap hamparan langit biru di atas kepala mereka. Bukan sebuah tempat yang buruk menurut Hyunwoo, karena di sana dirinya bisa merasa bebas sekaligus Ia juga bisa menjernihkan pikirannya dari kalimat-kalimat Nara yang terus menghantuinya.

Hyunwoo mengunyah makan siangnya dengan tidak bersemangat, pria itu sedang melamunkan Nara (lagi) dan Jackson kembali memergokinya untuk yang kedua kalinya. Hal itu pun membuat Jackson penasaran akan sesuatu yang tengah dilamunkan oleh Hyunwoo. Sebenarnya apa yang tersangkut di kepala pria bermarga Son itu hingga dalam satu hari dirinya berhasil memergokinya melamun sebanyak dua kali. Jackson sungguh ingin tahu soal itu.

“Hyunwoo-ssi, kau banyak melamun hari ini. Atau mungkin …. kau sedang memikirkan pacarmu?”

Mendengar pertanyaan polos yang diajukan oleh Jackson padanya, Hyunwoo tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Pria itu pun menyemburkan makanan dimulutnya seraya langsung menyahuti pertanyaan Jackson.

“A-APA?! P-PACAR?!”

.

.

*7 Years Ago ..

Hyunwoo mengulum senyumnya saat Ia melihat kembali kotak kecil ditangannya yang disampul dengan kertas kado berwarna biru cerah, pria itu bahkan kembali merapikan pita putih yang tertempel di atas kotak kecil tersebut untuk kesekian kalinya. Hyunwoo sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Nara dan memberikan kotak kecil itu padanya. Perasaannya menjadi campur aduk kala Hyunwoo memikirkan bagaimana reaksi gadis itu jika Ia memberikan kado itu dan Nara menerimanya? Oh ya ampun, membayangkannya saja sudah membuat perut Hyunwoo terasa geli seolah Ia merasa jutaan kupu-kupu tengah beterbangan di sana.

“Hyunwoo-ya!”

Lamunan Hyunwoo langsung buyar ketika telinganya menangkap seruan seseorang di belakangnya. Itu Nara. Gadis itu sedang berlari ke arahnya sambil tersenyum lebar seolah Ia baru saja mendapatkan sesuatu yang menyenangkan hatinya. Dan Hyunwoo yang melihat Nara semakin dekat ke arahnya langsung menyembunyikan tangannya di belakang tubuh. Ia balas tersenyum saat Nara sudah sampai di hadapannya.

“Eoh, Nara-ya. Ada apa?” tanya Hyunwoo, hanya basa-basi padanya.

Nara mencoba mengatur napasnya lebih dulu sebelum Ia menjawab pertanyaan Hyunwoo. Meskipun Nara terlihat kelelahan setelah berlari tadi tapi senyuman yang merekah di bibir gadis itu sama sekali tidak memudar. Lalu setelah Nara sudah merasa bisa menjawab pertanyaan Hyunwoo, Ia pun mulai bicara pada pria itu.

“Lihat ini! Jisung memberikan kalung ini sebagai hadiah ulang tahunku. Bagus tidak?” Nara menunjuk kalung berbentuk huruf N dengan ukiran hati berukuran kecil dipinggirannya. Gadis itu terlihat sangat senang sekali atas kado pemberian dari Jisung tersebut.

Sementara itu dengan Hyunwoo, pria itu hanya terdiam saat Ia melihat kalung yang melingkar di leher Nara. Tatapan mata Hyunwoo yang semula terlihat berbinar lantaran tidak sabar menunggu Nara untuk memberikan kado pada gadis itu, kini sudah tidak terlihat lagi.

Hyunwoo memaksakan untuk tersenyum di depan Nara, ikut terlihat senang ketika Ia melihat kalung pemberian Jisung yang gadis itu tunjukkan padanya.

“Y-ya, itu sangat bagus, Nara.”

“Benarkah?”

“Tentu saja. Kalung itu cocok sekali untukmu. K-kau cantik memakai kalung itu.”

Nara tersenyum saat mendengar Hyunwoo memujinya seperti itu, “Oh .. terima kasih, Hyunwoo. Kau terlalu memuji diriku.” katanya, tersipu malu atas ucapan Hyunwoo. Setelah itu Nara mengusap-usap kalungnya seraya sesekali mencium kalung itu dengan semangat. Membuat Hyunwoo yang melihatnya seketika langsung menggenggam erat kotak kecil yang Ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Hyunwoo hanya tersenyum ketika matanya bertabrakan dengan iris kecokelatan milik Nara, Ia mencoba untuk menyembunyikan kekecewaan hatinya di depan gadis itu.

.

.

Hyunwoo baru saja berniat untuk naik ke dalam bus namun matanya lebih dulu menangkap sosok yang Ia kenal. Alhasil, Ia pun tidak jadi naik ke dalam bus yang sudah ditunggunya selama lima menit itu. Kemudian saat bus sudah meninggalkan halte, Hyunwoo melangkah ke seberang jalan untuk memastikan bahwa tadi Ia benar-benar melihat sosok yang dikenalnya.

“Kim Jisung?”

Hyunwoo menahan langkah kakinya ketika matanya melihat Jisung sedang bersama gadis lain baru saja masuk ke dalam sebuah kafe. Kedua alis Hyunwoo tertaut, pria itu masih belum paham dengan apa yang dilihatnya barusan. Apa yang dia lihat itu benar-benar sosok Jisung? Siapa gadis yang pergi bersamanya? Apa gadis itu salah satu anggota keluarga Jisung? Apa mungkin .. gadis itu adalah sekretaris yang kemarin Nara sebut-sebut ketika mereka bertengkar? Entahlah, Hyunwoo tidak tahu soal itu sama sekali. Semua pertanyaan yang berseliweran di dalam kepalanya membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Hyunwoo pun lantas menggeleng tegas, Ia menepis pikiran buruk yang sempat dipikirkannya, pria itu sadar bahwa tidak seharusnya bersikap seperti ini terhadap Jisung dan mencurigainya dengan hanya sekali lihat. Bisa saja saat ini Jisung memang sedang bersama salah seorang temannya atau salah satu anggota keluarga. Ya, itu mungkin saja.

Namun ketika Hyunwoo berniat untuk kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, Ia tertegun di tempatnya berdiri saat matanya melihat sikap Jisung terhadap gadis itu. Kedua mata Hyunwoo sempurna terbuka lebar saat Ia melihat bagaimana Jisung memperlakukan gadis itu dengan sangat istimewa seolah gadis itu adalah seseorang yang spesial baginya. Jisung menggenggam erat salah satu tangan gadis itu saat mereka sudah duduk di salah kursi yang tidak jauh dari jendela. Dan tidak hanya itu saja, Jisung juga memperlakukan gadis itu dengan sikap yang teramat manis, pria itu menyelipkan rambut gadis itu dibalik telinganya lalu tanpa ragu mencium punggung tangan gadis itu saat gadis tersebut tersenyum senang atas perlakuannya.

Melihat itu Hyunwoo kemudian tanpa sadar mulai mengepalkan tangannya di sisi tubuh, matanya menatap tajam ke arah Jisung dan gadis itu. Sungguh, melihat pemandangan yang terjadi di depannya ini membuat Hyunwoo langsung teringat dengan Nara dan entah bagaimana, detik itu juga hatinya tiba-tiba saja merasa marah pada Jisung.

.

.

Eoh, Hyunwoo-ya. Kau sudah pulang?” Ibu Hyunwoo tersenyum menyambut puteranya yang baru saja pulang kerja dan sedang melepaskan sepatunya di dekat pintu.

Hyunwoo mengerutkan keningnya ketika matanya menangkap dua sepatu yang bukan miliknya ataupun milik ibunya tertata rapi di dekat rak sepatu. Pria itu lantas menghampiri sang ibu yang sedang duduk di sofa, Ia mengecup kening ibundanya lebih dulu sebelum akhirnya bertanya,

“Apa ibu sedang ada tamu?”

“Iya, baru saja datang sejak setengah jam lalu.”

Alis Hyunwoo kembali tertaut, seingatnya ibunya sudah lama sekali tidak memiliki janji temu atau dikunjungi oleh siapapun. Tapi kedua sepatu itu milik siapa? Tidak mungkin salah seorang teman ibunya memakai sepatu model anak muda yang seleranya seperti Hyunwoo. Memikirkan hal itu sungguh membuat Hyunwoo merasa penasaran dengan tamu yang dimaksud oleh ibunya.

“Naiklah ke atas dan temui mereka di kamarmu. Mereka sedang menunggumu di sana sejak tadi.”

Ne?” Hyunwoo mengerjapkan matanya, “Mereka adalah tamuku, bukan tamu ibu? Si-siapa? Siapa yang ibu maksud?” tanya Hyunwoo yang hanya dijawab dengan gelengan kepala dan senyuman dikulum oleh sang ibu. Membuat Hyunwoo yang merasa penasaran langsung melesat pergi menuju kamarnya setelah melihat ibunya yang sengaja tidak ingin memberitahunya.

Dan setibanya Hyunwoo di kamarnya, pria itu terkejut ketika tahu siapa tamu yang tadi dibicarakan oleh ibunya. Mereka adalah Kihyun dan Nara, keduanya belum menyadari kehadiran Hyunwoo di sana karena Kihyun dan Nara sedang melihat-lihat lembaran album foto milik Hyunwoo. Lalu ketika Kihyun yang menyadari kehadiran Hyunwoo di ambang pintu kamar, pria itu langsung berdiri menyambut karibnya tersebut.

“Hyunwoo-ya!” Kihyun menghampiri Hyunwoo, “Aigoooo .. Son Hyun Woo, aku merindukanmu!” ucap Kihyun yang kemudian memeluk Hyunwoo dengan antusias.

Nara yang sepertinya baru menyadari situasi yang terjadi akhirnya ikut berdiri dan menatap Hyunwoo yang masih dipeluk oleh Kihyun. Gadis itu tersenyum pada Hyunwoo yang menatap lurus padanya dengan wajah tanpa ekspresi.

“Kihyun-ah, kau turunlah dan temui ibuku di bawah. Nanti kita bicara di sana setelah aku bicara dengan Nara dulu.”

“Eh? Apa?” Kihyun melepaskan rangkulan tangannya dari tubuh Hyunwoo saat Ia mendengar ucapan pria itu yang memintanya untuk turun ke lantai satu rumahnya.

“Turunlah, aku ada perlu dengan Nara sebentar.” ucap Hyunwoo pelan. Wajahnya terlihat serius sekali ketika Hyunwoo mengatakan kalimat itu pada Kihyun. Membuat Kihyun seketika bisa merasakan aura yang tidak biasa di dekat Hyunwoo.

“O-oh .. begitu? Ya, baiklah kalau begitu aku turun sekarang.” Kihyun menoleh ke belakang, menatap Nara yang sedang berdiri di samping tempat tidur Hyunwoo dan berucap, “Nara-ya, aku tinggal ya? Kau di sini saja, Hyunwoo bilang dia ingin bicara denganmu.”

Eoh? Y-ya, baiklah.” jawab Nara.

Dan setelah Nara menyahuti ucapan Kihyun, pria bermarga Yoo yang juga merupakan teman satu kelas ketika SMA itu kini pergi dari kamar Hyunwoo. Kihyun meninggalkan mereka agar Hyunwoo bisa bicara dengan Nara tanpa merasa terganggu. Sebenarnya tanpa diminta oleh Hyunwoo sekalipun, Kihyun tadi juga memang sudah berniat untuk memberikan privasi pada mereka jika Hyunwoo sudah pulang kerja. Kihyun tahu jika hari ini akan tiba dimana Hyunwoo pasti memiliki keberanian untuk bisa mengutarakan apa yang dia rasakan sejak tujuh tahun lalu.

.

.

“Kenapa kau menyembunyikannya dariku, Hyunwoo?”

“Apa? M-menyembunyikan apa maksudmu?”

“Tentang semuanya. Soal fotoku yang masih kau simpan, soal kau yang diam-diam sering memperhatikanku tanpa sepengetahuanku, soal kado ulang tahunku yang tidak jadi kau berikan padaku, soal kau yang dulu pernah tiba-tiba menjauh dan menghilang begitu saja setelah lulus, soal kau tidak berani mengatakan perasaanmu padaku yang selama ini kau simpan rapat-rapat. Kenapa kau menyembunyikan semua itu dariku?”

Hyunwoo tercengang saat Ia mendengar kalimat panjang yang diucapkan Nara, “Kau .. dari mana kau tahu semua itu?” tanya Hyunwoo kemudian.

“Kihyun. Aku sudah mendengar semuanya dari Kihyun soal dirimu. Dia menceritakan semuanya dari awal padaku.”

Jantung Hyunwoo yang semula berdegub kencang kini terasa mencelos begitu mendengar bahwa Nara sudah mengetahui semuanya dari Kihyun. Ya, Kihyun memang yang paling tahu tentang semua persoalan yang Hyunwoo miliki karena pria itu memang selalu cerita padanya. Bahkan persoalan dirinya mengenai Nara pun Kihyun sudah mengetahuinya sejak lama.

Nara tersenyum miris ketika gadis itu melihat sebuah kotak kecil bersampul kertas kado berwarna biru cerah yang ditempeli pita putih di atasnya. Nara menyodorkan kotak kecil itu di depan Hyunwoo.

“Ini .. apa ini adalah kado ulang tahunku yang ingin kau berikan padaku tujuh tahun lalu? Apa kotak kecil ini sungguh kado ulang tahunku, hm?” tanya Nara dengan suara yang terdengar parau, kedua matanya mulai berkaca-kaca saat Ia menatap Hyunwoo yang duduk di sampingnya. Dan Hyunwoo yang melihat Nara sepertinya akan menangis seketika kembali merasakan jantungnya mencelos.

“Baek Nara ..”

“Jahat! Kau jahat sekali, Hyunwoo!” Nara memukul bahu Hyunwoo dan mulai menangis di saat yang bersamaan. “Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku waktu itu eoh? Kenapa?” Nara terus memukuli bahu Hyunwoo tanpa henti dan Hyunwoo pun hanya membiarkannya saja sampai Nara merasa puas.

Lalu selang beberapa detik setelahnya, Hyunwoo menahan kedua tangan Nara agar berhenti memukulinya, pria itu menatap Nara tepat di kedua manik matanya dengan tatapan seriusnya. Hyunwoo lantas menghapus jejak-jejak air mata kedua pipi gadis itu seraya berucap,

“Maafkan aku.” kata Hyunwoo dengan suara pelan yang terdengar sangat menyesal karena tidak mengatakan apapun pada Nara sejak awal. Nara hanya diam saja saat Hyunwoo mengatakan kalimat maaf itu padanya. Ia juga menatap Hyunwoo tepat di kedua manik matanya.

“Aku tidak tahu harus bagaimana waktu itu. Aku sudah berusaha untuk mengatakan perasaanku padamu tapi semuanya selalu tidak berjalan sesuai rencanaku. Setiap kali aku mencoba mengungkapnya padamu, kau selalu terlihat senang soal Jisung yang waktu itu menjabat sebagai kapten tim baseball sekolah. Dan ketika tahu bahwa kalian ternyata memutuskan untuk berkencan, perasaanku padamu langsung melebur. Aku merasa sakit saat tahu kau sudah menjadi milik orang lain, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kau terlihat bahagia saat bersama Jisung dan aku tidak ingin menghancurkan kebahagiaanmu, Nara.”

Air mata Nara kembali jatuh saat mendengarkan semua kalimat yang Hyunwoo katakan padanya. Ini adalah pertama kalinya Nara mendengar Hyunwoo bicara sebanyak itu.

Setelah Hyunwoo mengatakan kalimat panjang itu pada Nara, Ia kemudian mendaratkan bibirnya di bibir Nara. Hyunwoo mencium bibir mungil milik Nara dengan lembut, membuat Nara yang sempat terkejut lagi-lagi kembali menangis ditengah-tengah ciuman yang Hyunwoo berikan padanya. Dan setelah beberapa detik berikutnya, Hyunwoo pun melepaskan bibirnya dari bibir Nara. Hyunwoo kembali menatap Nara tepat di kedua manik matanya sebelum akhirnya Ia mengatakan kalimat yang sejak dulu selalu ingin Ia ucapkan pada gadis yang telah berhasil mencuri hatinya tujuh tahun lalu.

“Aku mencintaimu, Baek Nara.”

.

.

.

*Fin*

Masih berantakan banget. T_T

Sorry for typo & sorry for bad fict yaa~

Btw, Happy Anniversary buat MONSTA X yg Ke-2 tahun♥

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s