When The Love Falls


WTLF - Cover By AL

¶ Title: When The Love Falls | Author: Areumdaun Lee | Cast: Kim Kibum , Yoon Soona/YOU (OC) | Genre: Drama–Romance | Rating: General | Length: Chaptered ¶

©AL_2017

.

“Saat cinta bicara, segalanya berubah.”

.

A/N:

Hai, Areum is here. ^^
Kali ini aku bawain fictnya Kibum oppa. Ini sebenarnya fanfict dari 2 tahun lalu yang aku kerjain tapi malah berhenti ditengah jalan. Aku baru inget kalo ternyata aku masih nyimpen draftnya. Jadi yaa~ aku mulai ngerjain fict ini lagi. Aku gak tau hasilnya akan kaya apa nanti, tapi aku akan usaha supaya hasilnya gak membosankan. ^^

Well, enjoy reading my readers!

(PS: Btw, Sosok Soona-nya yg aku bayangin kaya Shin Min Ah, cantik manis-manis gmanaaa~ gitu 😀 Hhehee. Aku rasa Minah unnie cocok jadi pasangannya Kibum dalam penulisan fanfict-ku, tapi gak tau mnurut kalian ya. Oiya .. maafkan ya, kalau covernya abal-abal begitu. Kkk~ xD)

.

.

Dering ponsel bervolume full itu terus saja membuat berisik keadaan sekitar, menimbulkan suara yang sangat mengganggu. Benar-benar mengganggu. Soona, gadis yang duduk dibarisan tengah itu langsung memejamkan matanya erat-erat saat dirinya mendengar nada dering panggilan ponselnya. Mengutuk dirinya sendiri karena lupa merubah profil ponselnya.

“Yoon Soona, kita sedang ujian. Kau ingin matikan ponselmu atau kau ingin ponselmu kusita sekarang juga?”

“Apa?” Sial. Soona memaki dalam hati saat guru Kang di depan sana menegurnya. Ia pun segera meminta maaf atas kesalahannya. “Ah, maafkan aku guru Kang. Akan kumatikan ponselku sekarang.” ucap Soona dengan nada bersalah. Soona kemudian merogoh saku tasnya dan mengeluarkan ponselnya, Ia segera menon-aktifkan ponselnya agar tidak ada lagi yang menelponnya.

“Ck, awas kau ya. Mati kau nanti jika aku sudah bertemu denganmu!” desisnya.

Suasana pun kembali tenang seperti sebelumnya. Seluruh peserta yang sedang mengikuti ujian di ruang kelas itu sudah kembali memfokuskan pikiran mereka pada soal-soal yang mereka kerjakan.

.

.

Langit terlihat begitu menghitam senja ini. Membuat seseorang yang sedari tadi duduk di sudut ruangan itu menatap gelisah ke arah jalanan dari kaca jendela yang mulai sedikit berembun karena hawa dingin.

Kibum, lelaki itu tak henti-hentinya terus menatap sekitar. Memastikan penglihatannya jika dia tidak akan kelewat mengenali seseorang yang lalu lalang di depan kafe tempatnya berada.

Ck, dimana dia? Hampir menjelang malam begini belum kelihatan juga batang hidungnya.” ucap Kibum heran.

Dan akhirnya hal yang sedari tadi Ia cemaskan pun benar-benar terjadi. Langit sudah menumpahkan isinya. Hujan. Titik-titik air yang jatuh dari langit pun perlahan mulai berubah menjadi deras. Membuat perasaan cemas Kibum semakin menjadi. Lelaki itu kemudian mencoba untuk menghubungi seseorang.

“Nomor yang Anda hubungi sedang berada diluar jangkauan. Silakan hubungi beberapa saat lagi.” Suara operator di seberang telepon itu membuat Kibum tanpa sadar berdecak gemas.

Ck! Astaga, Soona. Dimana kau? Kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi!?” gumamnya seraya berusaha mencoba menelpon lagi. Namun tetap saja, apapun usaha yang Ia lakukan tidak bisa membuat Soona menerima panggilannya. Untuk itu Kibum segera menyambar jaketnya yang berada disandaran kursi. Ia kemudian berlari menuju pintu.

Kibum memakai jaketnya dengan gerakan kasar, sedikit mendongak menatap langit diatas sana dengan tatapan sedikit kesal. “Soona, aku akan mencarimu. Tunggu aku dasar nona bodoh!” Dan detik berikutnya Kibum sudah melangkah menerobos derasnya hujan, Ia berlari menuju tempat motornya terparkir.

Terlambat jika Ia ingin memakai jas hujan miliknya yang berada dibawah jok motornya. Tubuhnya sudah terlanjur basah oleh air hujan, benar-benar basah kuyup. Kibum kemudian memacu motornya dengan kecepatan sedang, menerobos jalanan aspal itu ditengah derasnya hujan membuat dirinya seolah sudah tidak terlalu mencemaskan keselamatan dirinya lagi.

.

.

Soona menatap cemas pemandangan di depannya. Hujan deras disertai dengan angin yang cukup kencang membuatnya harus memutar otak untuk mencari cara agar Ia bisa pulang. Sebenarnya ada perasaan kesal juga di dalam hatinya mengingat bahwa keadaan tadi pagi terasa baik-baik saja, namun siapa yang menduga jika sore ini Ia harus dipertemukan oleh hujan. Soona kesal, benar-benar kesal.

Dan seharusnya jika saja hujan tidak turun saat ini dan tidak sederas ini, mungkin saja saat ini Ia sudah bertemu Kibum di kafe. Ya, seharusnya ini tidak terjadi. Ia merasa bersalah pada Kibum karena membiarkannya menunggu lama disana. Tidak hanya itu, Soona yang sedari tadi sudah berniat untuk menghubungi Kibum malah tidak bisa menghubunginya karena ponselnya tidak mendapat sinyal.

“Sial! Bagaimana ini? Ya tuhan, dia pasti akan berceloteh panjang lebar jika aku tidak segera menemuinya.” ucapnya kesal, namun tak urung dirinya juga melihat gelisah disaat yang bersamaan. Lalu saat Soona berdoa dalam hatinya untuk memohon agar Kibum datang mnjemputnya di halte, tak tala setelahnya Kibum memang datang menjemputnya.

Jantung Soona berdetak dua kali lipat dari biasanya saat Ia melihat Kibum kini sudah berada di depannya. Soona tertunduk. Salah tingkah. Kibum menghentikan sepeda motornya tepat di depan Soona, membuka kaca helm kemudian turun dari motornya. Kibum menatap Soona dengan setengah melotot.

Ya! Yoon Soona, apa kau sudah gila?! Dari mana saja kau saat hujan deras seperti ini? Kau cari mati eoh?!” sentak Kibum, membuat Soona sempat terkejut mendengar suaranya.

Soona semakin tertunduk, tangannya tanpa sadar terkepal disisi tubuh dan entah bagaimana gadis itu juga malah meremas roknya. Raut takut dan cemas kini mulai terlihat diwajahnya. Tidak hanya itu, diam-diam Soona juga merasa salah tingkah meskipun Ia tidak menunjukkannya dihadapan Kibum.

Ya! Kau dengar aku? Hei, aku sedang bicara padamu. Dasar bodoh.”

Ya! Siapa yang kau sebut bodoh hah?” sahut Soona cepat, memotong kalimat Kibum sebelum pria itu semakin berlanjut mengomelinya.

Kibum tertegun. Pria itu terbelalak kaget saat melihat Soona balas membentaknya.
Kibum kemudian menjadi salah tingkah. Ia sedikit mundur beberapa langkah dan beberapa kali membuang pandangan ke sekitar agar Ia tidak terlalu kelihatan salah tingkah di depan Soona.

Y-ya, kau tahu kan sekarang sedang hujan deras. Kenapa kau tidak menelponku? Aku menunggumu di kafe selama setengah jam. Kau benar-benar kejam, Yoon Soona.”

Soona menatap Kibum dengan tatapan tidak mengerti. “Apa? Kau menyebutku apa? Kejam?”

Kibum tidak memutar tubuhnya menghadap Soona, pria itu masih terus membelakangi Soona. Menatap titik-titik air yang ditumpahkan dari langit belum juga berhenti hingga saat ini. Soona lalu maju selangkah, nyaris berdiri sejajar dengan Kibum. Ia kemudian sedikit mendongak menatap pria itu karena memang posisi tubuh Kibum sedikit lebih tinggi darinya.

“Kau tahu apa saja yang kulakukan selama setengah jam itu? Apa kau tahu, apa yang kulakukan sampai aku harus membiarkanmu menunggu lama di kafe eoh?”

Kibum yang sedang menadahkan air hujan dengan tangan kanannya perlahan mulai menurunkan tangannya saat mendengar Soona bicara seperti itu padanya.

“Aku sudah berusaha untuk menelponmu beberapa kali. Bahkan sebelum sampai di halte ini, aku juga berusaha untuk menghubungimu. Tapi sialnya, aku tidak menghubungimu karena tidak mendapat sinyal tadi. Dan kau tahu—”

Kibum yang sedari tadi mendengarkan Soona kini mulai memposisikan tubuhnya menghadap Soona. Berdiri tepat di hadapan gadis itu saat tanpa sengaja maniknya menangkap sesuatu dibalik mata cokelat Soona.

“Aku takut Kibum. Aku takut, tapi apa yang bisa kulakukan?” suara Soona mulai terdengar sedikit tertahan. Sementara itu Kibum yang berdiri dihadapannya hanya bisa membungkam mulutnya saat Ia melihat Soona berusaha menjelaskan keadaannya tadi selama Ia berada di halte ini. Soona tertunduk dan saat itu juga Kibum langsung menyadari bahwa Ia telah membuatnya menangis.

“Sa-saat aku tidak bisa menghubungimu, aku panik. Aku khawatir kau akan merasa jenuh karena aku akan datang terlambat. Saat itu aku benar-benar takut, a-aku takut kau akan marah karena aku telah membuatmu menunggu lama.”

Kibum mengepalkan kedua tangannya disisi tubuh saat Ia mendengarkan semua penjelasan Soona. Letupan emosi dalam dadanya terasa semakin memuncak saat Ia menyadari bahwa semua ini terjadi karena dirinya. Soona menangis karena dirinya.

Ya, Soona-ya .. jangan—”

“Harusnya aku tetap menemui! Harusnya .. harusnya tadi aku—” ucap Soona cepat, lagi-lagi memotong ucapan Kibum. Dan terlambat. Soona sekarang sudah terisak didepan Kibum.

Melihat Soona sekarang sudah terlanjur menangis di hadapannya, membuat dada Kibum terasa panas. Entah kenapa hatinya terasa begitu sakit saat melihat gadis itu menangis terisak karena kesalahannya. Kibum pun perlahan memberanikan diri untuk menyentuh dan mengenggam tangan Soona, kemudian Ia menarik tubuh Soona. Membuat gadis itu kini jatuh kedalam dekapannya.

“Ssttt .. jangan menangis. Sudahlah. Kumohon jangan menangis.” bisik Kibum. “Maafkan aku, Soona. Aku tidak tahu bagaimana keadaanmu tadi. Maaf.”

Soona tidak menggubris ucapan Kibum, Ia malah semakin terisak dipelukan pria itu. Tangisnya terdengar begitu menyedihkan, Soona bahkan sampai sesenggukan karena berusaha menahan tangisnya namun tidak berhasil. Air matanya tidak mau berhenti mengalir.

“Maafkan aku. Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak bicara sekasar itu padamu. Maafkan aku, Soona.” bisik Kibum lagi. Kibum semakin erat merengkuh tubuh Soona dalam pelukannya, mencoba menyalurkan kehangatan tubuhnya agar gadis itu berhenti menangis. Dan benar saja, perlahan seiring kehangatan yang Kibum berikan padanya, Soona pun akhirnya perlahan mulai berhenti terisak.

Malam ini Kibum benar-benar menyesali kesalahannya. Ia merasa sangat bersalah karena telah membuat Soona menangis. Dirinya benar-benar egois karena menyalahkan Soona yang telah membuatnya menunggu tanpa tahu alasan kenapa gadis itu melakukannya.

Sungguh, hatinya benar-benar merasa bersalah pada Soona.

Kibum berjanji, Ia tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi. Tidak, Ia tidak mau melakukan kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Kibum tidak ingin membuat Soona menangis karenanya.

.

.

.

*To Be Continue ..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s