Broken Home Girl


Krystal

¶ Title: Broken Home Girl | Author: Areumdaun Lee | Cast: Jung Soo Jung | Genre: Hurt | Rating: PG16 | Length: Ficlet ¶

©AL_2017

– Special appearance –

Jessica Jung

.

.

“Aku dengar istrinya sudah menikah lagi, apa itu benar?”

“Ya, itu benar. Dan kau tahu dengan siapa istrinya menikah lagi? Kabarnya suami keduanya itu adalah seorang Presdir juga. Ah .. tapi aku lupa siapa namanya.”

“Apa? Wanita itu menikah dengan seorang Presdir? Dia sungguh mendapat seorang CEO lagi? Wah .. hebat. Dia benar-benar tidak tahu malu sekali.”

“Benar. Padahal baru tiga bulan berita tentang perusahaan suaminya itu bangkrut, sekarang dia sudah kembali membuat heboh seluruh pelosok Korea Selatan.”

“Heol. Benar-benar tidak tahu malu. Apa dia sama sekali tidak punya hati? Bukankah saat perusahaan suaminya bangkrut, dia seharusnya mendampinginya?”

“Yang benar saja. Mana mungkin dia akan mendampingi suaminya dalam keadaan sulit, sedangkan saat suaminya menghadapi kesulitan itu sendirian, dia sedang bersama pria lain di hotel.”

“Apa? Wah .. gila. Ini sulit dipercaya. Wanita itu benar-benar kehilangan kewarasannya. Oh, ya tuhan.  Aku merasa kasihan pada suami dan kedua puterinya. Bagaimana bisa suaminya bertahan sejauh ini dengan wanita itu? Heol.”

Celotehan tiga orang ibu-ibu yang duduk di seberang kanan dari tempat duduk Soojung itu terasa seperti tiada akhir. Ucapan mereka yang penuh dengan kebencian tersebut terdengar begitu menyebalkan ditelinga Soojung ketika ketiganya tengah menggunjing ibunya di sana. Hal itu membuat Soojung merasa marah hingga rasanya Ia ingin sekali menyiramkan kopi miliknya diwajah mereka, namun gadis itu lebih memilih untuk menahan aksinya dengan tetap berada di tempat duduknya dan hanya mendengarkan gunjingan mereka saja.

“Omo! Bukankah itu anak kedua Presdir Jung?”

“Mana?”

“Itu. Gadis yang sedang duduk sendirian sambil membaca buku di sana. Bukankah itu puterinya?”

“Iya, benar. Dia puteri keduanya. Eungg .. siapa namanya?”

“Hmm .. Jung Yoo Jung? Atau .. Jung Soo Jung? Yaa, entahlah. Mungkin salah satu dari itulah namanya.”

Soojung tetap mengarahkan iris matanya pada buku yang tengah dibacanya di atas meja. Ia tahu jika ketiga ibu-ibu itu sekarang sedang membicarakannya. Soojung tidak peduli, gadis itu tetap membalikkan halaman buku yang Ia baca. Melanjutkan aktivitasnya tanpa sedikit pun mau peduli pada omongan mereka.

“Jung Soo Jung! Iya, benar. Namanya Jung Soo Jung!”

“Ah .. iya iya. Jung Soo Jung.”

“Ck, kasihan sekali ya. Dia pasti merasa kecewa pada ibunya.”

“Ya, mungkin saja. Kita tidak tahu ‘kan apa dia memang merasa kecewa pada ibunya atau tidak. Soojung sepertinya tidak terlihat sedang kecewa atau sedih sedikitpun mengenai konflik keluarganya.”

“Entahlah. Mungkin dia juga mengharapkan ibunya untuk segera mati di sana.”

“Ya! Jangan bicaramu. Bagaimana mungkin dia seperti itu? Dia itu puterinya. Tidak mungkin seorang anak mengharapkan ibunya untuk segera mati meskipun kitalah yang mengharapkan wanita itu mati.”

“Iya, benar. Aku rasa Soojung bukanlah orang yang seperti itu. Dia itu gadis pendiam, jadi tidak mungkin akan mengambil sikap seolah dia akan mengakhiri hidup ibunya.”

.

.

Kabar soal ibunya akan menikah lagi sudah tersebar luas ke seluruh pelosok Korea Selatan. Berita itu mendapat banyak mendapatkan kritik pedas dari semua masyarakat Korea. Ah tidak, lebih tepatnya beberapa dari kritikkan pedas itu kadang lebih terkesan seperti sumpah serapah yang menghujat dan mengutuk ibu Soojung untuk segera mati saja. Sungguh, bagi Soojung sendiri yang setiap hari harus mendengar semua itu membuatnya semakin muak meskipun selama ini mulutnya tidak pernah menanggapi satu pun pembicaraan mereka.

Bicara soal apa yang terjadi pada Soojung sebenarnya cukup membuat siapa pun yang memiliki hati nurani akan merasa iba padanya. Pasalnya, ketika keluarga Jung sedang berada dalam konflik panas dimana perusahaan ayah Soojung sedang bangkrut dan memiliki banyak hutang di sana-sini, saat itu pula kabar buruk yang lain datang pada keluarganya. Sang ibu, yang seharusnya bisa tetap berada disisi ayahnya justru diketahui sedang berselingkuh dengan salah satu kolega ayahnya di sebuah hotel mewah. Ayahnya sendirilah yang menangkap basah keduanya setelah salah satu pegawai hotel –yang kebetulan mengenal baik Tuan Jung, langsung menelpon ayah Soojung dan memberitahu lokasi ibunya tersebut.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa hubungan ayah dan ibu Soojung sebenarnya sudah lama tidak harmonis. Bahkan keduanya sudah lama ingin bercerai namun mereka memutuskan untuk menunda perceraian mereka sampai kedua puteri mereka tumbuh dewasa. Kala itu ayah Soojung lah yang memohon pada ibunya untuk menunda perceraian mereka dengan mengatakan bahwa Ia tidak mau menyakiti perasaan kedua puterinya yang masih kanak-kanak. Dan inilah akhirnya, pasangan Jung itu akhirnya memutuskan ikatan pernikahan mereka. Pasangan Jung itu resmi bercerai tiga minggu setelah perusahaan Tuan Jung bangkrut. Sekarang Soojung hanya tinggal bersama sang ayah. Berdua.

.

.

Sooyeon baru saja menghempaskan bokongnya disofa saat Ia mendapat telepon dari Kwon Yuri –salah satu teman kampusnya di Universitas Columbia, yang memintanya untuk menyalakan tv dan menonton breakhing news. Sooyeon sebenarnya agak malas menuruti ucapan Yuri tapi tubuhnya tetap bergerak meraih remot tv lalu menyalakannya, kemudian setelahnya telepon Yuri berakhir. Sooyeon pun mulai menonton siaran berita di depannya. Gadis itu terkejut saat matanya melihat sebuah figur seseorang yang amat dikenalnya yang ditampilkan oleh stasiun berita yang ditontonnya.

“Mantan istri dari seorang CEO yang belum lama ini sudah menikah lagi, ditemukan tidak bernyawa di kediamannya. Ia ditemukan tewas bersama sang suami dengan beberapa luka tusukan ditubuhnya.”

Wajah Sooyeon memucat, tangannya bergerak mengatup mulutnya ketika lagi-lagi matanya melihat satu sosok yang amat dikenalnya. Mata Sooyeon mulai berkaca-kaca lalu sedetik berikutnya Ia tidak lagi bisa menahan tangisnya. Sooyeon terisak di atas tempat duduknya. Suara tangisnya saat itu juga memenuhi seluruh ruang tengah apartemennya. Lalu saat ketakutan yang dirasakan Sooyeon mulai menguasai dirinya, ponselnya kembali menyerukan sebuah dering panggilan masuk. Sooyeon pun bergerak meraihnya dengan tangan gemetar ketika mengetahui siapa yang menelponnya.

“Ayah ..” Sooyeon tercekat saat Ia menyebutkan panggilan itu pada lawan bicaranya di seberang sambungan telepon. Air matanya semakin deras mengalir kala telinganya menerima semua pernyataan yang membenarkan perasaan takutnya saat itu.

Sooyeon tertunduk dalam. Bayangan seseorang dibalik kedua iris matanya yang terpejam kini muncul, membuat Sooyeon refleks menyebutkan namanya dengan lirih.

“Soojung-ah ..”

.

.

.

*Fin*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s