[MONSTA X FF PROJECT] — STEAL YOUR HEART (HYUNGWON Ver.) #Part 1


Chae Hyungwon

¶ Title: STEAL YOUR HEART | Author: Areumdaun Lee | Cast: Chae Hyungwon, Choi Eunsoo/YOU (OC), Im Changkyun | Genre: Drama–School Life–Romance| Rating: General | Length: Two Shoot ¶

-Special Appearance-

Wonho (Monsta X)

©AL_2017

.

THIS FANFICT IS PURE MINE!
DO NOT TRY TO STEAL IT & COPY-PASTE IN OTHER PLACE!

.

“Chae Hyungwon!”

Hyungwon terkejut ketika telinganya mendengar seseorang baru saja menyerukan namanya di belakangnya, namun pemuda jangkung itu tidak berniat untuk menoleh ke belakang barang sedetik pun. Hyungwon tetap melanjutkan langkahnya seraya memasang earphone ditelinganya. Lalu tepat ketika musik dari lagu yang diputar diponsel Hyungwon mulai terdengar, seorang gadis saat itu juga sudah berada di sampingnya. Gadis itu berusaha untuk berjalan seirama dengan langkah kaki pemuda bermarga Chae tersebut.

“Selamat pagi, Hyungwon-ah.” sapa gadis itu dengan hangat sambil tersenyum pada Hyungwon.

Hyungwon bisa mendengar suara gadis itu tapi Ia sama sekali tidak ada niatan untuk menyapanya balik. Pemuda jangkung itu lebih memilih untuk membungkam mulutnya dan mendengarkan lagu yang didengarnya. Sementara itu dengan si gadis, Ia sepertinya tidak merasa tersinggung sama sekali dengan sikap acuh Hyungwon. Gadis itu pun kemudian mengalihkan pandangannya dari Hyungwon, menunduk. Gadis yang berjalan di samping Hyungwon itu semakin melebarkan senyumnya saat matanya memperhatikan langkah kaki mereka yang berjalan seirama. Perasaan senang pun langsung memenuhi hatinya kala Ia menyadari hal itu. Hari ini sepertinya mood-nya akan sangat baik karena Ia bisa pergi ke sekolah bersama Hyungwon. Ya, mungkin saja setelah ini perasaannya juga tetap baik-baik saja sampai Ia kembali ke rumah nanti.

Selang beberapa detik berikutnya suasana hening mulai menyelimuti keduanya. Hening yang terjadi diantara Hyungwon dan dirinya setelah Ia menyapa pemuda itu, membuat gadis itu merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut. Ia pun mencoba memikirkan cara agar bisa membuat keadaan diantara mereka terasa sedikit mencair dari kecanggungan. Dan begitu kepalanya sudah mendapatkan cara apa yang bisa Ia gunakan untuk mengobrol dengan Hyungwon, gadis itu pun lantas angkat bicara.

“Ah .. Hyungwon-ah, seminggu lagi kita akan pergi berkemah bukan?” tanya gadis itu dengan kedua matanya yang terlihat berbinar. Ia senang karena merasa dirinya telah memilih topik pembicaraan yang pas untuk Hyungwon. “Apa kau sudah menyiapkan semua keperluanmu untuk berkemah nanti?” tanya gadis itu lagi.

Tidak ada jawaban dari Hyungwon, pemuda itu masih memilih membungkam mulutnya daripada harus menyahuti pertanyaan yang menurutnya tidak terlalu penting tersebut. Hyungwon sebenarnya tahu soal acara berkembah yang akan diadakan oleh sekolahnya minggu depan. Dan soal Ia yang sudah menyiapkan semua keperluannya atau belum, Hyungwon merasa dirinya tidak perlu memberitahu gadis itu. Toh, bukankah itu seharusnya menjadi urusannya sendiri? Begitulah yang dipikirkan pemuda jangkung tersebut.

Sementara Hyungwon terlihat acuh dengan apa yang dilakukan gadis yang berjalan di sampingnya, gadis itu justru terlihat bertolak belakang dengan kepribadian pemuda itu. Ia mulai merasa sedikit kecewa ketika dirinya sama sekali ditanggapi olehnya. Namun sebelum perasaan kecewanya benar-benar memenuhi hatinya, seorang pemuda lain datang menghampirinya dengan cara mengagetkannya.

“Choi Eun Soo!”

Omo!”

Gadis bernama lengkap Choi Eun Soo itu terlonjak kaget, terkejut ketika telinganya mendengar suara seseorang menyerukan namanya sambil menepuk bahunya. Eunsoo menolehkan wajahnya ke kanan dan mendapati seorang pemuda lain yang amat dikenalnya.

Ya! Im Changkyun! Kau sengaja ingin membuatku serangan jantung, eoh?!” sembur Eunsoo kesal seraya memukul punggung Changkyun. “Menyebalkan sekali. Dasar anak nakal!”

Changkyun hanya menunjukkan senyuman khasnya, pemuda bermarga Im itu terlihat tidak merasa berdosa sama sekali atas apa yang sudah Ia lakukan pada Eunsoo. Changkyun bukannya tidak tahu menahu soal Eunsoo yang selalu mudah terkejut, pemuda itu hanya senang mengejutkannya saja karena Changkyun menyukai reaksi Eunsoo setiap kali Ia mengagetkan gadis itu.

Changkyun lalu membenarkan letak tas yang hanya Ia sampirkan dibahu kanannya lantas setelahnya Ia merangkul bahu Eunsoo dengan tangan kirinya. Kemudian dengan masih menunjukkan senyuman khas miliknya, Changkyun mulai bicara pada Eunsoo dengan cara berbisik ditelinga gadis itu.

“Aku tidak nakal, Eunsoo. Hanya .. bandel saja.”

Eunsoo melotot pada Changkyun ketika Ia mendengar Changkyun mengatakan kalimat itu dengan entengnya, “Iya, kau memang bandel Changkyun-ah. Saking bandelnya tanganku sampai gatal ingin mencubitmu!”

“Akh! Eunsoo!” Changkyun meringis ketika tangan Eunsoo mendaratkan cubitan pedas dipipinya. “Aduh! Akh- sakit, Eunsoo! Sakit!”

“Masih berani ingin menyangkal ucapanku eoh?”

Changkyun meringis, wajahnya dibuat semelas mungkin di depan Eunsoo. “Akh! Eunsoo-ya .. sakit. Sungguh, ini sakit sekali.”

Eunsoo memasang wajah iba yang dibuat-buat, “Oh .. kau kesakitan?” tanya Eunsoo yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Changkyun. “Rasakan! Kau pantas kucubit seperti ini jika kau berani mengejutkanku lagi.”

“Baiklah, aku minta maaf. Maafkan aku, Eunsoo.” Changkyun menunjukkan puppy eyes-nya pada Eunsoo, berusaha untuk membuat gadis itu mau melepaskan tangannya dari pipinya. “Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Tolong lepaskan cubitanmu sekarang juga, hm?”

Hyungwon yang di sisi kiri Eunsoo hanya melirik sekilas ke arah Eunsoo dan Changkyun, Ia menatap Changkyun dengan tatapan dinginnya seolah pemuda itu tidak menyukai sikap manja pemuda Im tersebut. Hyunwon sungguh tidak menyukai bagaimana Changkyun menunjukkan aegyo-nya pada Eunsoo.

Eunsoo melepaskan tangannya dari kedua pipi Changkyun, “Kali ini aku masih baik padamu, Changkyun-ah. Tapi lain kali, jangan harap kau bisa lepas dari cubitanku meskipun kau berusaha bersikap imut padaku. Mengerti?”

Changkyun mengangguk cepat, pemuda itu kembali merangkulkan tangannya di bahu Eunsoo, membuat Eunsoo juga ikut merangkulkan tangannya dibahu Changkyun.

Hyunwon menghelas napas, Ia lantas mengalihkan pandangannya dari Eunsoo dan Changkyun. Hyungwon merasa tidak nyaman melihat mereka terlalu lama, rasanya menggelikan ketika Ia melihat sikap mereka yang sudah seperti sepasang kekasih. Mereka berdua terlihat sangat menyebalkan menurutnya.

.

.

Jam istirahat hampir berakhir lima menit lagi namun Hyungwon masih betah berada di lapangan in door, pemuda jangkung itu masih sibuk mendribble bola basket menuju ring. Lalu ketika tubuh tingginya sampai di dekat ring, Hyungwon melakukan lay up kanan dan pemuda jangkung itu pun berhasil mencetak skor untuk yang sekian kalinya.

Usai berhasil memasukkan bola ke dalam ring, Hyungwon melangkah menuju ke pinggir lapangan, meninggalkan bola basket yang menggelinding begitu saja di sana. Hyungwon merasa haus setelah tadi Ia bermain tanpa jeda selama sepuluh menit, pemuda itu pun berniat untuk mengambil minuman isotoniknya yang Ia letakkan di samping almamaternya. Hyungwon memang sengaja melepas almetnya saat tadi Ia bermain basket dan hanya membuat seragam putih yang Ia kenakan kini bermandikan keringat.

Hyungwon terdiam sejenak ketika manik matanya menangkap sebuah botol minuman isotonik lain yang diletakkan di samping minuman isotonik miliknya. Ia lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil botol tersebut, yang pada bagian botolnya ditempel sebuah memo berwarna merah muda. Hyungwon kemudian mulai membaca tulisan tangan yang tertera pada memo tersebut.

Hyungwon-ah, minumlah minuman isotonik ini. Dengan begitu, setelah ini kau tidak akan merasa haus dan kelelahan lagi.

-Eunsoo-

Hyungwon menghela napas setelah Ia membaca deretan kalimat yang Ia tahu ternyata itu adalah dari Eunsoo. Dalam hatinya Hyungwon berniat untuk mengabaikan saja botol minuman isotonik pemberian gadis itu, namun di satu sisi Ia merasa tidak enak hati jika dirinya mengabaikan kebaikan Eunsoo begitu saja. Terlebih lagi, saat Ia mengingat sikap dinginnya yang selalu Ia tunjukkan di hadapan Eunsoo, Hyungwon sebenarnya merasa tidak enak hati pada gadis bermarga Choi tersebut. Tapi Eunsoo? Gadis itu justru malah semakin bersikap baik padanya meskipun Hyungwon terus berusaha menjauhkannya. Ia benar-benar merasa bersalah pada Eunsoo. Alhasil, Hyungwon pun memilih untuk meminum minuman isotonik yang diberikan oleh gadis itu sambil melangkah pergi meninggalkan lapangan. Setidaknya dengan begini, Hyungwon bisa membalas kebaikan Eunsoo meskipun gadis itu tidak mengetahuinya.

Dan ketika Hyungwon mulai melangkah meninggalkan lapangan, pemuda itu tidak menyadari bahwa jauh beberapa meter darinya seseorang tengah mengawasinya. Seseorang itu tersenyum miring saat Ia melihat Hyungwon ternyata lebih memilih meminum minuman pemberian Eunsoo.

“Yang benar saja. Kau selalu bersikap tidak peduli padanya saat di depannya. Tapi di belakangnya, kau justru bersikap seolah kau peduli pada Eunsoo.” gumam seseorang itu seraya kembali tersenyum miring ketika Hyungwon sudah menghilang dari pandangannya.

.

.

Empat hari sebelum acara berkembah berlangsung, Eunsoo dan Changkyun berniat untuk pergi ke supermarket bersama. Mereka pergi membeli beberapa keperluan yang tercantum dalam daftar peralatan kemah, hanya membeli yang menurut mereka belum ada sesuai daftar saja seperti misalnya senter, pembasmi serangga dan sarung tangan.

“Eunsoo-ya, kemarilah!” panggil Changkyun pada Eunsoo yang berdiri beberapa meter darinya. Gadis itu sedang melihat-lihat di bagian sarung tangan dan slayer ketika Changkyun memanggilnya. Eunsoo pun segera menghampiri pemuda itu.

“Ada apa, Changkyun?” tanya Eunsoo saat Ia sudah berada di dekat Changkyun.

Changkyun tidak menjawab pertanyaan Eunsoo melainkan justru memakaikan sebuah topi rajut dikepala gadis itu. Eunsoo kemudian menyentuh topi rajut yang dipasangkan Changkyun sambil menatap pemuda itu dengan tatapan bingung.

“Bagaimana? Kau suka?”

“Eh?”

Changkyun menunjuk topi yang tadi Ia pakaikan dikepala Eunsoo, topi itu sengaja Ia pilihkan untuk Eunsoo karena Changkyun melihat bahwa Eunsoo akan cocok sekali memakainya.

“Aku ingin membelinya untukmu. Apa kau menyukainya?” tanya Chankyun kemudian.

Eunsoo terlihat berpikir sebentar saat Changkyun bertanya padanya. Apa yang baru saja Changkyun katakan? Apa pemuda itu berniat untuk membelikannya topi rajut ini? Eunsoo lalu melepaskan topi itu dari kepalanya dan menatapnya sekilas sebelum akhirnya gadis itu tersenyum lebar dan mengangguk senang.

“Iya, aku suka. Apa ini untukku?”

Eoh, kalau kau memang menyukainya, aku akan membelinya untukmu.”

Eunsoo menatap Changkyun dengan tatapan penuh selidik, takut kalau-kalau Changkyun hanya sedang menggodanya saat ini. “Apa kau sungguh akan membelinya untukku?” tanya Eunsoo dengan ragu.

Changkyun menatap Eunsoo dengan raut tanpa ekspresi, merasa sedikit tersinggung dengan sikap Eunsoo yang tidak mempercayainya.

“Sini, berikan padaku. Kalau kau tidak mau, buatku saja.”

Eunsoo mendekap topi rajut itu didadanya, Ia kembali tersenyum lebar saat matanya melihat reaksi Changkyun. “Tidak mau.” ucap Eunsoo seraya memasukkan topi itu ke dalam keranjang belanjaan. Dan dua detik berikutnya gadis itu kembali bicara, “Kau sudah mengatakan akan membelinya untukku, kata-katamu itu tidak bisa ditarik kembali, Im Changkyun. Topi ini sudah resmi menjadi milikku.”

Changkyun terkekeh ketika Ia mendengar ucapan Eunsoo lantas mencubit pipi Eunsoo sambil berucap. “Ugh, dasar! Untung aku menyukaimu, Choi Eunsoo. Karena kalau tidak, mungkin aku tetap mengambil paksa topi itu kembali.” kata Changkyun yang hanya membuat Eunsoo lagi-lagi menunjukkan cengirannya.

Setelah Changkyun dan Eunsoo setuju untuk sama-sama membeli topi rajut (Eunsoo juga membelikan topi rajut untuk Changkyun), keduanya pun berpindah ke lorong lain untuk membeli barang lain yang mereka perlukan. Eunsoo sempat tertawa saat Changkyun tengah membicarakan seorang ibu-ibu bertubuh gendut yang mereka lewati ketika keduanya berniat pergi ke bagian alat-alat perkakas. Dan Changkyun hanya menunjukkan cengirannya meskipun Eunsoo sudah menyuruhnya untuk tidak membicarakan ibu-ibu gendut itu lagi walau mereka sudah berada jauh darinya. Saat Changkyun dan Eunsoo yang terlihat masih bercanda ketika menyusuri lorong bagian alat-alat perkakas, mereka tidak menyadari bahwa saat itu itu seseorang memperhatikan gerak-gerik mereka dari jauh. Tatapan matanya menjelaskan bahwa seseorang itu merasa iri ketika Ia melihat Changkyun yang berdiri di samping Eunsoo selalu membuat gadis itu tersenyum ataupun tertawa geli karena tingkahnya.

.

.

Hyungwon yang baru kembali dari aktivitas bersepedanya sore ini seketika langsung menghentikan langkahnya ketika Ia mendengar suara tawa yang tidak asing lagi baginya. Pemuda jangkung itu lantas mengarahkan iris matanya ke arah sumber suara itu berasal, lalu saat Ia sudah menangkap siapa sosok pemilik tawa yang dikenalnya, ekspresi wajah Hyungwon pun berubah datar dan tanpa sadar tangannya menggenggam erat stang sepedanya.

Eoh, Hyungwon-ah! Kau sudah pulang?” seru Hoseok, membuat Hyungwon langsung melemparkan senyum pada sepupunya yang tengah duduk bersama Eunsoo.

Hyungwon berjalan mendekat ke tempat Hoseok dan Eunsoo. Ia memarkirkan sepedanya lebih dulu sebelum akhirnya ikut bergabung dengan keduanya, Hyungwon memilih duduk di samping sepupunya.

Ya, Hyungwon-ah. Aku dengar bahwa tiga hari lagi kau akan pergi berkemah, apa itu benar?”

Hyungwon sempat melirik Eunsoo yang duduk di depannya, Ia menduga gadis itu pasti sudah bercerita pada Hoseok soal acara berkemah yang diadakan sekolah mereka. “Iya, benar.” jawab Hyungwon tanpa melihat ke arah Hoseok. Ia masih mengunci indera penglihatannya pada Eunsoo. Membuat gadis itu tiba-tiba saja merasa gugup ditatap seperti itu oleh Hyungwon.

“Ah .. jadi itu benar ya? Hm, kalau begitu .. apa saat berkemah nanti kau juga akan pergi bersama Eunsoo?”

Hyungwon menoleh ke arah Hoseok saat Ia mendengar pertanyaan sepupunya tersebut, “N-ne?” kedua alisnya tertaut, “Apa maksudmu? Kenapa aku harus pergi dengannya? Dia bisa pergi sendiri, jadi untuk apa aku pergi dengannya?” ucap Hyungwon dengan nada yang terdengar sedikit ketus, membuat Hoseok seketika langsung diam dan merasa bersalah pada Eunsoo karena telah bertanya seperti itu. Sementara dengan Eunsoo sendiri, yang melihat reaksi Hyungwon seperti itu hanya bisa terdiam juga di tempat duduknya. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya, Ia merasa malu setelah mendengar ucapan Hyungwon barusan.

Heol, aku hanya bertanya ‘kan? Ada apa denganmu eoh? Kenapa reaksimu sampai berlebihan begitu?” Hoseok menghela napas, Ia menatap Hyungwon dengan kedua alis tertaut. Hoseok tidak mengerti kenapa reaksi sepupunya itu terlihat sedikit berlebihan saat ditanyai soal Eunsoo. “Sudahlah, aku mau masuk ke dalam saja. Kau lebih baik tidak pergi kemana-mana lagi, Hyungwon. Diam di sini dan temani Eunsoo. Dia sudah menunggumu sejak tadi.”

Hyungwon kembali melirik Eunsoo yang duduk di depannya. Eunsoo pun sama, Ia juga sempat melirik Hyungwon sekilas saat Hoseok meminta Hyungwon untuk tetap menemaninya di sana. Melihat mereka berdua sama-sama saling lirik saat itu, membuat Hoseok yang memperhatikan keduanya merasa bahwa Hyungwon dan Eunsoo memang masih berteman baik meskipun tidak sedekat saat mereka masih kanak-kanak dulu. Hoseok pun akhirnya benar-benar meninggalkan mereka berdua di halaman. Pemuda bermarga Shin itu sengaja ingin memberikan privasi pada keduanya, karena Ia tahu bahwa Hyungwon dan Eunsoo sepertinya jarang sekali bicara saat mereka sudah beranjak remaja.

.

.

.

*To Be Continue ..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s