The Reason


Yoo Kihyun!

¶ Title: The Reason | Author: Areumdaun Lee | Cast: Yoo Kihyun, Han Naeul/YOU (OC) | Genre: Angst | Rating: General | Length: Oneshoot ¶

-Support Cast-

Chae Hyungwon

©AL_2017

.

.

Semilir angin yang berhembus membuat suasana malam tanpa bintang itu terasa sedikit dingin dan sepi. Tanpa pakaian tebal selain kemeja yang membalut tubuhnya, Kihyun mulai menggigil di tempat duduknya. Pria bermarga Yoo itu sudah berada di balkon rumahnya sejak setengah jam lalu. Ia sesekali berdiri atau duduk dikursi untuk mengusir rasa kantuk yang mulai datang. Dan saat Kihyun sudah beberapa kali berganti posisi untuk mengusir rasa kantuknya, dirinya juga tidak bisa berbohong bahwa sebenarnya Ia mulai benar-benar merasa bosan di sana. Tapi meskipun begitu, Kihyun tetap saja masih enggan meninggalkan balkonnya dan memilih untuk menunggu sedikit lebih lama lagi.

“Lima menit lagi. Aku akan menunggumu lima menit lagi, Naeul–ah.” Katanya, yang ketika mengatakan kalimat itu mulutnya mulai mengeluarkan kabut tipis, tanda bahwa udara malam semakin terasa dingin.

Namun, sekali lagi Kihyun tetap berada di sana. Waktu lima menit yang Ia tunggu pun sudah berlalu seperti lima menit yang sudah-sudah. Malam semakin beranjak larut dan udara malam terasa semakin dingin hingga Kihyun kini bisa merasakan tubuhnya benar-benar menggigil di sana. Bahkan saat matanya memeriksa ponselnya, layar ponselnya sudah menunjukkan pukul 10.15 KST, membuat Kihyun kemudian menghela napas panjang.

“Naeul–ah, kapan kau akan muncul eoh?” tanya Kihyun dengan nada suara yang terdengar gelisah. Dirinya hampir menyerah di sana saat tahu bahwa waktu yang selalu Ia tunggu tidak pernah berpihak padanya. Kihyun lalu mengarahkan maniknya pada sebuah kamar yang berada di seberang rumahnya, dimana kamar tersebut berhadapan dengan kamarnya. Tatapannya terlihat sendu kala maniknya menilik setiap inci jendela yang tertutup gorden putih itu. Kihyun kemudian tersenyum kecut, malam ini sepertinya lampu kamar tersebut tidak akan menyala karena sepertinya pemiliknya yang selalu Ia tunggu tidak akan muncul lagi malam ini. Naeul tidak muncul di balkonnya, sama seperti hari-hari sebelumnya meskipun Kihyun selalu menunggunya di sana.

.

.

Hyungwon meremas kuat kedua jemari tangannya saat dirinya semakin tidak tenang di kursinya. Hyungwon merasa cemas dan takut disaat yang bersamaan ketika Ia diminta untuk menunggu di depan ruang UGD. Sungguh, malam ini sepertinya Hyungwon tidak akan bisa merasa tenang barang sedetik pun. Pasalnya, beberapa jam lalu ketika Ia berkunjung ke rumah Naeul untuk mengirimkan buah dan bunga untuknya, Hyungwon menemukan Naeul sudah tergeletak di lantai kamarnya. Saat itu juga pria jangkung bermarga Chae tersebut seketika merasa panik dan langsung menghubungi doktor pribadi keluarga Han yang menangangi kesehatan Naeul.

Hyungwon takut.

Saat ini kepalanya tengah dipenuhi berbagai macam pertanyaan mengenai kondisi Naeul. Apa Naeul merasakan sakit lagi? Apa kondisinya semakin memburuk? Bagaimana jika kondisi Naeul ternyata memang semakin memburuk, apa dia bisa bertahan menahan rasa sakitnya? Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lainnya yang mengusik ketenangannya. Rasanya Hyungwon bahkan nyaris merasakan sesak napas lantaran tidak bisa mengontrol rasa paniknya ketika melihat kondisi Naeul. Lalu ketika perasaan takut di hatinya semakin membesar, sebuah memori akan bayangan Naeul berputar di dalam kepala Hyungwon.

“Hyungwon–ah, boleh aku minta satu permintaan darimu?”

“Tentu saja. Kau mau minta apa, hm?”

“Ini .. soal Kihyun.”

“Kihyun?”

“Emm .. Hyungwon–ah?”

“Iya?”

“Ayo kita pura-pura berpacaran di depan Kihyun.”

“A–apa? Naeul .. Kenapa kau bicara seperti itu?”

“Aku ingin mengakhiri hubunganku dengannya. Jadi, ayo kita pura-pura menjadi sepasangan kekasih di depan Kihyun.”

“Ta–tapi, Naeul–ah .. Kihyun itu pacarmu. Ada apa denganmu eoh? Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?”

“Kenapa? Kau tidak mau mengabulkan permintaanku?”

“Naeul–ah, jangan konyol! Permintaan macam apa itu? Tidak. Aku tidak bisa melakukan itu pada Kihyun. Aku tidak mau mengabulkan permintaan konyolmu itu.”

“Kau tidak mau melakukannya? Sungguh?”

“Iya, aku tidak mau melakukannya. Aku tidak akan mengabulkan permintaanmu sekalipun kau harus menangis di hadapanku. Aku tidak akan berpura-pura menjadi pacarmu di depan Kihyun. Tidak. Aku tidak akan pernah melakukan itu.”

“Baiklah. Kalau begitu kau berjanji saja padaku.”

“Berjanji? Han Naeul, kau kenapa eoh? Kenapa rasanya saat ini bicaramu terus melantur?”

“Hyungwon–ah, berjanjilah kau tidak akan memberitahu apapun pada Kihyun selama aku masih di sini. Termasuk soal penyakitku ini, kau harus berjanji tidak akan pernah mengatakannya pada Kihyun.”

“…..”

“Tapi kalaupun kau tetap bersikeras ingin memberitahunya soal penyakitku, kau harus menunggu sampai aku pergi nanti.”

“Naeul–ah!”

“Kau hanya boleh memberitahu Kihyun jika aku sudah tidak ada di sini lagi, Hyungwon!”

“Ya! Han Haeul! Jangan bicara seperti itu!”

“Kau mau berjanji padaku ‘kan? Berjanjilah, Hyungwon. Berjanjilah kau akan melakukan seperti yang kuminta.”

“…..”

Pikiran Hyungwon benar-benar kalut malam ini. Jantungnya terus berdegub kencang dan keringat dingin pun semakin mengucur deras di pelipisnya. Potongan memori dirinya bersama Naeul seminggu yang lalu itu sukses membuatnya semakin terpuruk dalam jurang ketakutan. Kemudian saat Hyungwon terus memikirkan Naeul, dokter sudah keluar dari ruangan. Hyungwon bersama keluarga Naeul yang juga sedang menunggu di depan UGD langsung bangun dari duduknya dan langsung mendekat ke arah dokter yang menangani kesehatan Naeul hanya untuk mendengar kabar bahwa sekarang Naeul sedang dalam kondisi koma.

.

.

Seminggu lagi berlalu, Kihyun tidak melihat Naeul sejak Ia menunggu gadis itu di balkon rumahnya. Tidak ada kabar apapun darinya, seolah Naeul hilang begitu saja dari permukaan bumi. Kihyun tidak tahu pasti kenapa Naeul tidak menemuinya malam itu, padahal waktu itu Kihyun berniat untuk bicara padanya soal hubungan mereka yang belakangan ini sedang dalam masa-masa sulit.

Ya, hubungan Kihyun dan Naeul akhir-akhir ini memang sedang berada dalam masa sulit lantaran Naeul yang tiba-tiba meminta mengakhiri status mereka sebagai sepasang kekasih. Saat itu Naeul mengatakan pada Kihyun bahwa Ia tidak lagi mencintainya karena Ia telah jatuh cinta pada teman masa kecilnya -Hyungwon. Awalnya Kihyun tidak terlalu memikirkannya dan hanya menganggapnya sebagai lelucon belaka. Tapi seiring berjalannya waktu, Naeul justru memberikan bukti pada Kihyun bahwa gadis itu memang benar-benar sudah tidak mencintainya lagi dengan terus menghabiskan waktu bersama Hyungwon. Melihat gadis yang dicintainya selalu bersama pria lain, Kihyun pun akhirnya mempercayai ucapan Naeul. Mereka bahkan sempat berdebat hebat soal alasan Naeul yang meminta berpisah dari Kihyun, sampai Hyungwon dan Kihyun yang berkelahi karena memperebutkan Naeul. Dan sejak itulah awal kebencian Kihyun pada Hyungwon tumbuh hingga tak mampu dikendalikan. Kihyun cukup sering berkelahi dengan Hyungwon lantaran pria itu tidak bisa menahan perasaan cemburunya dan juga kemarahannya. Kihyun yang merasa frustasi menghadapi kenyataan bahwa Hyungwon telah merebut Naeul darinya dengan begitu cepat, membuat pria itu seolah kehilangan kesadarannya.

“Naeul–ah, apa telah terjadi sesuatu padamu? Kenapa kau tidak kelihatan akhir-akhir ini eoh? Kau dimana Han Naeul?” tanya Kihyun ditengah-tengah kegundahaan hatinya. Matanya yang terarah pada bangunan yang berdiri di samping rumahnya terlihat begitu sayu karena kurang tidur lantaran Ia selalu menunggu Naeul di balkonnya.

“Yoo Kihyun–ssi?”

Lamunan Kihyun buyar seketika saat Ia menangkap suara yang sangat familiar di indera pendengarannya. Kihyun pun lantas menoleh ke kanan dan mendapati sosok Hyungwon yang tengah berdiri tak jauh darinya.

“Kau …” Ekspresi Kihyun langsung berubah saat itu juga kala maniknya sudah mengunci sosok tinggi tersebut yang amat dibencinya. Sementara dengan Hyungwon, pria bermarga Chae itu justru terlihat sangat berbeda di mata Kihyun. Penampilan Hyungwon terkesan sangat kacau. Wajahnya terlihat pucat dan sangat lelah, tatapan matanya kelihatan sayu dengan lingkaran mata hitam yang cukup besar, rambutnya berantakan dan kancing kemejanya yang tidak sesuai urutan.

Hyungwon lalu berjalan mendekat ke arah Kihyun dan setibanya Ia di hadapan Kihyun, pria jangkung itu menyerahkan sebuah amplop padanya seraya berucap dengan lirih, “Ini .. surat dari Naeul. Dia memintaku untuk memberikannya padamu.”

Pupil mata Kihyun melebar, Ia tersentak saat Hyungwon menyebutkan nama gadisnya. “Naeul? Dimana dia? Kenapa kau—“

“Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, Kihyun–ssi. Cepat ambil surat ini dan kau akan tahu sendiri jawabannya. Naeul hanya menyuruhku untuk memberikan ini padamu.” Sergah Hyungwon, memotong ucapan Kihyun lebih dulu sebelum pria itu sempat selesai bicara.

Butuh beberapa detik bagi Kihyun untuk bisa mengendalikan perasaannya soal keingintahuannya tentang keberadaan Naeul sebelum akhirnya Ia pun menerima surat pemberian gadisnya tersebut dari Hyungwon. Wajah pucat Hyungwon hanya bisa menatap sedih ke arah Kihyun saat pria itu sudah memegang surat Naeul ditangannya, dengan adanya surat itu kini Hyungwon tahu bahwa sebenarnya bukan hanya dirinya yang akan terluka nanti. Lalu sebelum Hyungwon pergi dari hadapan Kihyun, Ia sempat mengatakan sesuatu pada Kihyun yang hasilnya sukses membuat jantung Kihyun berdegub sangat cepat.

“Han Naeul .. dia tidak pernah mencintaiku walau seujung kuku sekalipun. Gadis itu hanya mencintai satu orang dalam hidupnya dan orang itu adalah kau .. Yoo Kihyun–ssi. Jadi kumohon padamu, tarik kembali semua prasangka burukmu pada Naeul soal dia yang hanya mempermainkan perasaanmu. Karena .. sampai akhir napas hidupnya, dia hanya mencintaimu, Kihyun–ssi.”

.

.

-EPILOG-

Iris mata Kihyun tertuju pada sebuah nisan bertuliskan nama lengkap seorang gadis yang dikenalnya, Han Naeul. Kihyun memandangi makam di depannya itu dengan mata berkaca-kaca seiring dalam diamnya Ia kembali mengingat semua kenangannya bersama Naeul. Kihyun merasa bersalah pada Naeul karena dulu Ia pernah berburuk sangka pada gadis itu ketika Naeul meminta berpisah darinya.

Tak sanggup menahan kesedihannya, Kihyun pun kembali menangis untuk kesekian kalinya. Sungguh, hatinya benar-benar terluka saat ini. Kihyun masih belum bisa menerima fakta bahwa Naeul sudah tidak ada lagi di dunia ini, duka yang Ia rasakan saat ini sungguh terasa jauh lebih berat jika dibandingkan saat Ia berusaha menerima sandiwara Naeul ketika gadis itu bersama Hyungwon.

Kihyun kemudian menunduk menatap sebuah surat yang sejak tadi berada dalam genggamannya. Tangannya lalu bergerak membuka amplop surat tersebut dan Kihyun mulai membaca surat pemberian Naeul yang Ia terima dari Hyungwon tiga hari lalu.

Untukmu, pria yang kucintai.
Yoo Kihyun.

            Pertama, aku ingin minta maaf padamu atas segalanya. Aku minta maaf karena telah memulai semua kesalahpahaman ini dan maaf karena aku telah menyakitimu juga. Maafkan aku, Kihyun–ah.

            Kihyun–ah .. aku tahu saat ini kau pasti sedang membaca suratku ‘kan? Kalau begitu, berarti sekarang kau juga tahu bahwa aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Maaf aku meninggalkanmu pergi tanpa mengatakan apapun padamu sebelumnya, tapi kurasa inilah yang terbaik bagi kita berdua. Aku terpaksa .. tidak, aku harus pergi karena aku tidak mau menyakitimu terlalu jauh. Aku tidak bisa membalas cintamu lebih dari ini. Aku juga telah banyak berbohong padamu. Aku sudah berbohong padamu soal aku yang tidak mencintaimu lagi. Aku sudah berbohong padamu soal hubunganku dengan Hyungwon. Chae Hyungwon adalah sahabatku, kami sudah berteman sejak kecil dan aku menyayanginya. Dia sudah seperti keluargaku sendiri.

Kihyun–ah .. tolong jangan membenci Hyungwon. Dia sebenarnya tidak salah sama sekali, Hyungwon bukanlah penyebab dari semua ini. Ada alasan lain kenapa aku minta putus darimu waktu itu dan itu sungguh bukan karena aku  telah jatuh cinta pada Hyungwon.

Yoo Kihyun, kaulah alasanku kenapa aku minta berpisah darimu.

Karena gadis penyakitan sepertiku tidak boleh mencintaimu lebih dari ini dan aku tidak bisa bertahan bersamamu lebih lama karena hidupku memang hanya ditakdirkan sampai di sini. Aku mencintaimu, Yoo Kihyun. Sangat, sangat, sangat mencintaimu. Karena itulah kenapa aku memaksakan diri untuk berpisah darimu. Karena aku mencintaimu aku tidak bisa melihatmu terluka jika tahu bahwa aku nanti akan pergi meninggalkanmu selamanya.

Kihyun–ah .. kau harus mampu melepasku pergi dan setelah ini berjanjilah padaku bahwa kau akan melanjutkan hidupmu tanpa diriku. Maafkan aku. Maaf atas semua kesalahan yang kuperbuat padamu dan maaf .. karena aku terlambat mengatakan kebenarannya padamu.

Yoo Kihyun. Kau berhak untuk mendapatkan cinta yang lain.

Kau berhak untuk bahagia bersama gadis lain dengan cinta yang lebih sempurna dari yang kumiliki.

Aku mencintaimu, Kihyun-ah.

Dari gadis yang pernah mencintaimu,
Han Naeul.

Kihyun kembali menangis begitu Ia selesai membaca seluruh isi surat pemberian Naeul. Pria itu bahkan sampai jatuh berlutut di atas makam gadis yang amat dicintainya tersebut. Tangan Kihyun gemetar menyentuh nisan di depannya lalu diusapnya pelan ukiran nama Naeul yang terpatri di sana. Dengan tubuh gemetar dan tangis yang tak tertahankan, Kihyun meringkuk memeluk makam gadis yang amat dicintainya itu. Kemudian berucap dengan lirih, “Na–Naeul–ah! Maafkan aku .. Ma–maafkan aku, Naeul. Aku mencintaimu , Han Naeul! Aku .. mencintamu. Sungguh .. maafkan aku, Naeul–ah.”

.

.

.

*Fin*

Kangeeeennn! >,<

Lama gak nulis di sini bikin aku kagok untuk buat fanfict lagi. Maaf kalau ceritanya banyak kekurangannya, aku baru nyoba nulis lagi setelah balik dari hiatus. :’D

Oya, ngomong-ngomong .. aku minta maaf ya kalau banyak salah sama kalian. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir batin (aku belum lebaran sama kalian semua, hehee .. *maaf telat*)

Dan .. terakhir, makasih buat yg udah baca atau sekedar mampir ke sini. Jangan sungkan untuk kirim kritik & sarannya yaa~ ^^

Love U!♥

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s